February 25, 2017

Rangkaian Kata Untuk Juwita


Oleh: Nasrul M. Rizal (Penulis Lepas)

Sayang, aku tidak akan mengirimkan sepotong senja sebagaimana yang diberikan Seno Gumira Ajidarma pada pacarnya. Aku juga tidak akan membawamu pada hujan bulan Juni seperti yang dilakukan Sapardi Djoko. Apalagi memberi catatan pendek untuk cinta –kita– yang panjang selayaknya Boy Candra. Dan tentu saja aku tidak akan menulis “tentang kamu”. Karena Tere Liye lebih dulu menulisnya.


Tidak sayang, aku tidak seromantis mereka. Jauh sekali jika aku disandingkan dengan mereka. Aku hanya lelaki biasa dengan cinta yang biasa. Tentu apa yang aku tulis juga biasa. Tapi tenang saja. Meskipun biasa, aku pastikan istimewa. Kenapa? Karena seromantis apa pun mereka, mereka menulisnya untuk banyak orang. Sedangkan aku menulis ini hanya untukmu.
Baiklah aku akan mulai merangkai kata. Sebentar! Sepertinya aku harus menentukan judul terlebih dahulu. Kenapa? Karena itu adalah kebiasaanku sebelum merangkai lebih banyak kata. Judul akan memudahkan aku untuk menyatukan kata, mengawinkan kalimat, dan melahirkan paragraf. Gimana kalau judulnya disematkan kata hujan? Jangan sayang, hujan milik Sapardi Djoko.  Senja? Itu milik Seno Gumira Ajidarma dan Boy Candra. Aku punya ide. Judulnya dari nama kamu saja, Juwita. Jadi judulnya “Rangkaian Kata Untuk Juwita”. Aku yakin tidak ada yang memilikinya selain aku. Kenapa? Karena kamu hanya untukku.
Untuk mengisi rangkaian kata pertama, aku ingin mengajakmu nostalgia. Mengingat kembali saat takdir berbaik hati mempertemukan kita.
Sebagai mahasiswa, kita diharuskan mengabdi pada masyarakat. Pada sebuah mata kuliah, kita pun melaksanakannya. Mata kuliah itu ialah KKN (Kuliah Kerja Nyata). Katanya selama KKN banyak mahasiswa yang memadu kasih. Terlibat cinta lokasi. Aku pun berharap seperti itu. Maklum sudah lama jadi jomblo hehe.
Waktu itu kita satu kelompok. Nama tempat KKN kita unik, Desa Rajamandala. Aku memilihnya karena berharap menemukan ratu di sana. Sebelum pergi ke sana, kita bertemu. Jumat sore, di selasar mesjid kampus, kita saling berkenalan. Ada sepuluh orang dalam kelompok kita. Aku datang tepat waktu, karena tidak mau dilabeli lelet. Dan kamu terlambat, jadi kamu yang lelet. Ups maaf. Tidak banyak kata yang keluar dari bibirmu. Kamu hanya memperhatikan apa yang dibicarakan yang lainnya. Sambil sesekali menguap. Aku? Jelas aku paling banyak berbicara. Dengan berbagai pertimbangan aku dipilih sebagai ketua.
Pertemuan pertama kita tidak terlalu istimewa, sayang. Bahkan aku sempat lupa wajahmu. Apakah bagimu istimewa?
Aku akan melanjutkannya. Bagian ini yang paling aku suka. Semoga kamu pun menyukainya.
Kita tinggal serumah. Pagi, siang, hingga malam kita bersua. Perlahan-lahan kita saling mengenal satu sama lain. Bersama dengan delapan orang lainnya, setiap malam kita bercakap-cakap –lebih tepatnya gosip. Takdir mulai memainkan perannya, sayang. Dari sembilan orang yang tinggal bersamaku di rumah itu, rupanya kamulah yang paling dekat denganku. Pernah satu malam, kita masih terjaga padahal yang lainnya sudah meninggalkan dunia nyata. Kita bertukar kata sambil melihat-lihat fotomu. Nyanyian kodok menjadi musik yang menemani kebersamaan kita, ya, rumah itu dekat sawah.
Hari berganti. Sudah satu minggu lamanya kita seatap. Teman-teman kita, mencium kedekatan kita yang “berbeda”. Mereka mulai bergosip. Lambat laun aku pun merasa ada yang aneh dengan diriku. Terutama bagian jantungku. Entah kenapa rasanya jantungku terpompa lebih cepat saat dekat denganmu. Padahal bukan kamu saja wanita yang ada di rumah itu. Perlu kamu ketahui, aku adalah tipe orang yang susah jatuh cinta. Tapi entah kenapa, rasanya aku mulai jatuh cinta padamu, sayang.
Aku tidak bisa menahan lebih lama bisikan halus di hatiku. Belum genap dua minggu kita serumah, aku pun mengungkapkannya. Jujur jatungku seakan mau copot saat kata-kata itu keluar dari mulutku. “Sebenarnya kita pacaran tidak ya?” kataku. Dari raut wajahmu aku menangkap rasa kaget. Bagaimana tidak kaget. Lelaki yang baru beberapa minggu kenal sudah bertanya seperti itu. Bukannya menjawab kamu malah bertanya, “Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
Melihat responmu aku menjadi pesimis. Aku rasa kesempatanku mendapatkan hatimu sedikit. Terlanjur mengeluarkan kata, aku pun melanjutkannya. “Kalau tidak, aku mau nembak kamu sekarang. Maukah kamu jadi pacarku?” Aku susah bernapas saat mengucapkannya. Mendengar kata-kata itu, kamu malah tertawa. Menganggap aku bercanda. Aku menatap lamat-lamat matamu, menunjukan keseriusanku. Jatungku berdebar tidak karuan. Beberapa saat aku menunggu. Kamu berhenti tertawa, lalu jawaban pun terlontar dari mulutmu, “Kita jalani saja dulu.” Terdengar ragu.
Ya, sayang. Kamu dulu ragu menerimaku. Butuh waktu hingga akhirnya kamu benar-benar menerimaku. Kenapa kita bisa jatuh cinta? Aku pun heran kenapa bisa secepat itu kita saling berbagi hati. Tapi bukankah cinta memang seperti itu, sayang. Tidak pernah memberi penjelasan terhadap apa yang ia beri. Tidak peduli sesingkat apa pun pertemuan, ia bisa menitipkan perasaan. Sebelum kita menyadari apa yang terjadi, kita sudah saling menautkan hati. Saling mencintai.
 Setelah kita resmi menjadi sepasang kekasih. Waktu yang aku lalui di rumah –posko KKN kita– menjadi lebih berkesan. Setiap pagi kamu berbisik, membangunkanku. Siang hari kamu menemaniku menikmati padatnya kegiatan. Malam hari kita larut dalam kehangatan canda dan tawa. Tapi beberapa kali kita juga bersitegang. Seperti malam itu, malam ke dua puluh kita pacaran. Masa lalu mengusik hatiku. Ya, aku marah padamu gara-gara lelaki di masa lalumu. Dia tidak tahu malu. Menyampaikan rindu. Padahal dia tahu kamu adalah pacarku.
“Selama ini aku belum pernah dibentak-bentak,” katamu.
Memang benar waktu itu aku membentakmu, sayang. Aku tidak suka kamu sering menceritakan lelaki itu. Apalagi menceritakan sesuatu yang membuatmu tersenyum dan berkaca-kaca dalam satu helaan napas. Kenangan manis yang pahit. Menceritakan kisah cintamu dengannya. Sempat terbesit dibenakku kalau kamu masih menaruh hati padanya. Aku takut kamu berpaling lagi padanya. Ya, sayang, itu adalah cemburu pertamaku.
Sayang bolehkah aku melanjutkannya? Ini rangkaian kata kedua untukmu. Ya, setelah kita selesai melaksanakan KKN.
September lalu kamu genap 21 tahun. Sebagai hadiah ulang tahun, aku memberimu buku. Buku yang aku tulis sendiri. Tadinya aku ingin menulis kisah kita dalam sebuah novel. Tapi kamu bilang lebih suka catatan pendek seperti yang ditulis Boy Candra. Aku memang suka menulis, namun belum pernah menulis dengan teknik seperti itu. Tulisan yang singkat tapi menyayat (hati). Sederhana tapi mempesona. Tipis tapi romantis.
Butuh waktu yang cukup lama untuk merampungkan buku itu. Aku harus memutar otak lebih cepat supaya bisa mendekati tulisan Boy Candra yang luar biasa menyentuh.
Kerja kerasku dibayar tuntas oleh senyum yang tersimpul di bibirmu, sayang. Matamu berbinar saat melihat buku yang di covernya tersemat foto kita dan tertulis namaku pula. Buku berjudul Kita Dalam Bingkai Kata. Aku sangat bahagia, lebih bahagia daripada saat karyaku dinyatakan juara dalam lomba atau bahkan ketika terpampang di media masa.
Sayang, lebih dari dua ratus limapuluh hari kita berbagi hati. Teman-temanku meragukan kelanggengan kita. Kata mereka pasangan yang cinlok (cinta lokasi) ketika KKN tidak akan berumur lama. Bahkan mereka bertaruh kalau kita hanya akan bertahan tiga bulan saja. Saat kita berhasil melewatinya, lagi-lagi mereka bertaruh, empat bulan. Terus begitu, sayang. Tapi aku tidak meragukan langgengnya kebersamaan kita, meski banyak yang meragukannya.
Tahukah kamu, sayang? Orangtuaku tahu kalau anak sulungnya mempunyai pacar. Walaupun aku sudah berkali-kali pacaran, hanya sedikit saja yang diketahui orangtuaku. Bukan hanya tahu, ibu dan ayahku juga memberi restu pada kita. Padahal setahu aku, Ibu melarangku pacaran sebelum aku bekerja. Dan Ayah bersikeras supaya aku tidak menikah muda. Ya, sayang, kamu adalah orang pertama yang berbicara banyak dengan ibuku –meski lewat telepon. Hingga detik ini ibuku sering menanyakan kabarmu. Membuatku sedikit cemburu. Cemburu? Karena Ibu jarang menanyai kabarku. Tapi tak apa, aku bisa menerimanya. Karena kamu juga “anaknya”.
Terima kasih sayang. Kamu masih setia menemaniku hingga saat ini. Kamu bersedia mengiringi langkahku. Aku sadar, sayang, selama kita bersama, kamu tidak selamanya bahagia. Terkadang kamu harus menyeka air matamu karena ucapakanku. Dan tidak jarang kamu harus mengelus dadamu karena tingkahku. Maaf jika aku belum bisa menjadi lelaki yang kamu mau.
Untuk mengakhiri rangkaian kata ini, aku kembali meminta maaf. Seperti yang telah aku sampaikan sebelumnya, tulisan ini tidak bisa menandingi keromantisan Seno Gumira Ajidarma. Tidak pula menyaingi catatan Boy Candra. Tidak bisa disandingkan dengan hujannya Sapardi Djoko. Apalagi seindah Tere Liye, yang menulis tentang kamu. Walaupun begitu aku harap kamu menyukainya, sayang. Karena aku menulisnya hanya untukmu.

Bandung, 25 November 2016.

0 comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...