July 27, 2016

PAHLAWAN








Karya : Sigit Nugroho ( Penulis Lepas )

Di bawah atap langit yang berselimut angin
Terangkai beragam kata yang terkurung di kepala
Saling berdesak, bergumul, dan lahirkan tanya
Tentang jiwa yang tak terlupa oleh masa

Surga Kecil







Karya : Sigit Nugroho ( Penulis Lepas )

Suatu pagi kutemukan surga kecil di rumah
surga yang mengalir susu di dalamnya
ada kedamaian yang tersimpan
pun sinar yang memancar.

Lelaki Payah







Karya : Sigit Nugroho ( Penulis Lepas )

Masih kuingat tahun-tahun pelangi
kala kita duduk berdua di bangku
melihat kereta-kereta
di stasiun Sidareja.

Siang yang Malang







Karya : Sigit Nugroho ( Penulis Lepas )

Ketika menyebut waktu, aku merasa iba
kendati namamu selalu terlupa
oleh penyair-penyair termahsyur negeri
seperti tiada bahasa indah untuk mengkiaskanmu.

Rinai Hujan







Karya : Sigit Nugroho ( Penulis Lepas )

Petani berangkat ke pematang sawah
menyambut rinai hujan
hujan yang membasahi padi-padinya
sepanjang musim tanam dipeluk panasnya kemarau.

Aku punya pensil kayu







Karya : Sigit Nugroho ( Penulis Lepas )

Aku terlahir dari sebatang kayu di hutan
hutan bagi hidupnya pohon yang menjulang ke langit,
binatang yang melata, binatang yang terbang di kaki awan,
rerumputan yang segar, dan bunga-bunga yang mekar.

Menanti Gadis Senja





Karya : Sigit Nugroho ( Penulis Lepas )

Ini hari keseratus aku menjadi penghuni jembatan rindu
kumasih duduk sendiri di tepinya
sembari membelai angin dan meraba langit
menanti kedatangan gadis senja.

Gelisah











Karya : Binti Juma ( Penulis Lepas )


Hanya kamu yang kini terlintas dalam setiap anganku
Setiap detik yang berlalu berlafazkan kamu
Setiap langkah yang membekas merangkai kamu
Kamu, menyisakan lamunan untukku

July 22, 2016

Masih Dalam Senyum Yang Sama



Karya: Elis Nursalam (Penulis Lepas)

Masih dalam senyum yang sama
Ku kirim sebuah pesan
Bukan karen atakut kehilangan
Masih dalam senyum yang sama
Saat waktu dan nafas sama
Hadirkan kebahagiaan
Walau hanya sederhana
Masih dalam senyum yang sama
Tak usah resah saat berjauhan
Maish tetap dalam dunia yang sama
Senyuman ini masih yang seperti kau lihat
Kemarin, saat kau terbaring
Saat kau berdiri
Bahkan saat beranjak pergi
Masih dalam senyum yang sama
Saat kau berkata “Bahagia Itu Sederhana”
Tepat saat hujan
Ku berlindung dibalik senyumanmu
Sambil aku tersenyum malu
Dan bersyukur maish ada yang hadir

Dan tersenyum bersama

July 21, 2016

Ini Cintaku




http://kafekopi.blogspot.co.id/2015/08/yuk-kirimkan-naskahmu-ke-kafe-kopi.html


Karya:Binti Juma (Penulis Lepas)



Bukan bermaksud menyerah..
Hanya berusaha untuk tidak mendahului takdir

July 20, 2016

Cinta Tak Mengenal Logika




http://kafekopi.blogspot.co.id/2015/08/yuk-kirimkan-naskahmu-ke-kafe-kopi.html


 Karya:Binti Juma



Meski ribuan mil jarak yang memisahkan
Hanya butuh satu cinta untuk menyatukannya
Meski jutaan perbedaan yang ada
Hanya perlu satu cinta untuk menyamakannya

July 19, 2016

BERSAMAMU




http://kafekopi.blogspot.co.id/2015/08/yuk-kirimkan-naskahmu-ke-kafe-kopi.html


Karya:Binti Juma (Penulis Lepas)



Tuhan mengirimkanmu saat ini
Untuk menemaniku menapaki kehidupan saat ini
Namun Dia tak pernah menjanjikan
Dirimu sebagai pelabuhan terakhirku

July 18, 2016

Aku Inginkan Kamu



http://kafekopi.blogspot.co.id/2015/08/yuk-kirimkan-naskahmu-ke-kafe-kopi.html

Karya:Binti Juma (Penulis Lepas)



Ingin selalu memandangmu
Ingin selalu menyentuhmu
Ingin selalu memelukmu
Ingin selalu menggenggam tanganmu

July 17, 2016

Inilah Pemenang lomba menulis Unexpected Ramadhan 2!


Inilah dia saat yang ditunggu tunggu! Segera akan kami umumkan siapa saja pemenang lomba Unexpected Ramadhan 2!
Sebelumnya, akan kami jelaskan apa saja kriteria penilaian oleh para juri:
1.                  Kesesuaian dengan tema lomba
2.                  Kualitas alur
3.                  Kerapihan EYD
Selain itu, kami juga melakukan penyaringan berdasarkan jumlah viewer. Sehingga, bisa jadi naskah kalian berada di urutan teratas dalam hal kualitas, tapi tidak menang karena kalah jumlah viewer. Tapi tenang saja, karena kami menaruh porsi 70 persen dalam hal kualitas. Viewer hanya 30 persen.
Berikut naskah yang menjadi pemenang di lomba menulis Unexpected Ramadhan 2:

July 16, 2016

Jika Berjodoh dengan Wanita Lain, Ijinkan Aku Mencuci Bajumu



Karya: Elis Nursalam (Penulis Lepas)

Jika kau berjodoh dengan wanita lain
Ijinkan aku untuk hadir dia akhir waktu lajangmu
Ijinkan aku bernafas disaat kau bahagia
Jika kau berjodoh dengan wanita lain
Harapan akan sirna
Tujuan akan hilang
Bukan karena cerita tapi cinta tak berpelaminan
Jika kau berjodoh dengan wanita lain
Ijinkan aku untuk mengenal wanita itu
Bukan untuk memalingkan hatimu
Tapi untuk memperpanjang usiaku
Agar bahagiamu bahagiaku yang tertunda
Jika kau berjodoh dengan wanita lain
Ijinkan aku mencuci bajumu
Bukan untuk mejadi istri keduamu
Tapi untuk mengabdi padamu
Jika kau berjodoh dengan wanita lain
Kabulakan keinginanku

Untuk bisa melihat hari bahagiamu

July 15, 2016

Jadilah Imam Yang Baik



Karya: Elis Nursalam (Penulis Lepas)

Jadilah imam untuk wanita yang akan mendampingimu
Cukup sederhana, buatlah dia tersenyum
Pasti bahagia
Cukup sederhana, sapalah dia dengan lembut
Pasti bahagia
Cukup sederhana, usaplah dia saat bersedih
Pasti bahagia
Cukup sederhana, cintailah dia karena Allah
Pasti bahagia
Jadilah imam yang baik cukup sederhana
Dengan selalu berada di Jalan-Nya

Insya Allah Bahagia sampai Surgha-Nya

July 14, 2016

Tokoh utama



Karya: Elis Nursalam (Penulis Lepas)

Kau akan menjadi tokoh utama
Dalam kebahagiaan dan kesedihan
Kau akan tetap menjadi tokoh utama
Pemberi cahaya walau bingkau tak sama
Meskipun tak pernah tau itu
Tapi waktu akan menjawab
Seperti kemarin yang tersenyum sendiri
Saat aku berdo’a dalam sujudku
Saat aku tengadahkan kedua tangannku

Saat itu kau sedang menikmati tokoh utamamu

July 13, 2016

Bahagia Itu Sederhana



Karya: Elis Nursalam (Penulis Lepas)

Bahagia itu sederhana
Cukup senyuman yang hadir dalam waktu dhuha
Bahkan awal membuka mata
Mampu membuatku berharap dan terdiam dalam do’a
Bahagia itu sederhana
Cukup ku berlindung dari hujan
Tanpaku menatap senyuman tegar di wajahmu
Sambil ku berbisik pada yang Maha Bijaksana
Sempurnakanlah perjalanan dalam ridho_Mu
Bahagia itu sederhana
Saat kau mampu membuatku menangis
Bukan karena sakit yang kasat
Tapi karena katamu bahagia
Bahagia itu sederhana
Saatku masih mampu menulis
Dari ribuan tokoh hanya kau yang kupilih
Menjadi tokoh saat ini
Dan berharap untuk selamanya
Bahagia itu sederhana
Saat ku masih bisa berdo’a
Hanya-Dia yang punya rencana indah
Untuk kita melukis indahnya kesederhanaan

Dan terciptalah kebahagiaan

July 11, 2016

Aku, hidup senang

Karya: Imam Abdillah

Pada Ramadhan di tahun 4099, aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor lebah. Aku keluar dari telur berselimut sutra yang dibuat oleh entah siapa disana. Tubuhnya sama denganku, hanya saja lebih besar. Aku Berjalan keluar sarang ketika sudah mantap untuk bisa terbang , menuju lubang cahaya di ujung sana. Kusaksikan sinar terang mentari semakin menyengat. Berbeda dengan ketika aku hidup dulu. Gedung-gedung disini pun sudah sangat menjulang tinggi mengais langit. Masjid-masjid menjulang tinggi mencakar langitpun banyak .Kendaraan-kendaraan berlalu lalang menggunakan tenaga gravitasi mungkin.. Karena yang aku lihat, semua kendaraan benar-benar mengapung. Seperti awan di langit.

HIKMAH DIBALIK BULAN PENUH BERKAH

Karya: Halida Septianidar
 Diikutsertakan dalam lomba menulis Unexpected Ramadhan 2

Berbeda dengan Ramadhan-ramadhan sebelumnya, Ramadhan kali ini Fakultasku masih dipenuhi mahasiswa yang masih sibuk dengan Ujian Akhir Semester. Biasanya walau kampusku libur seminggu sebelum Hari Raya tetapi Fakultasku pasti sudah sepi karena Fakultasku terkenal dengan Fakultas yang selaalu lebih cepat liburnya. Sayangnya, mungkin ini karma untukku dan juga teman-temanku karena sering meledek mahasiswa Fakultas lain yang selalu libur belakangan. Sekarang justru mereka yang balik meledek kami.

BERSAMA AYAH, KU TEMUKAN BAHAGIA DI BULAN RAMADHAN

Karya: Endah Dwi Hastuti
 Diikutsertakan dalam lomba menulis Unexpected Ramadhan 2

Suara takbir bergema di setiap penjuru kampung semuanya berkumandang menyebut asma Allah. Tanda menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa ramadhan. Ramadhan tahun ini sungguh luar biasa, ramadhan yang menguji kesabaran namun pada akhirnya berbuah manis. Ramadhan tahun ini kami lalui bersama, mereka bilang lebih tepatnya tetangga, kami adalah sepasang manusia yang kompak, kami kelihatan sangat akrab. Kami selalu bersama berdua, kami saling mengisi satu sama lain, kata orang sih seperti itu. Eits, tunggu dulu dia bukan pacar apalagi suami beliau adalah bapakku, lebih tepatnya beliau adalah orangtuaku satu satunya yang aku miliki sepeninggal ibu.
***

Sesal

Karya: Aisyah Asharini

Semilir angin membuat gadis itu merapikan rambutnya yang tertiup. Memandangi bintang yang tak pernah berhenti membuatnya melupakan penat adalah kegiatan wajibnya belakangan ini. Merasa sudah cukup, Alessa berbalik dan menuju dapur untuk membuat secangkir coklat panas. Begitu selesai, Alessa membanting dirinya di sofa dan menaikan kedua kakinya. Alessa menyeruput cairan hangat berwarna coklat itu, sedikit demi sedikit seraya menikmati setiap coklat yang melewati tenggorokannya. Tanpa sengaja, mata Alessa menangkap sebuah pigura yang memajang fotonya dengan seseorang yang begitu dekat dengannya sebelum tiga tahun terakhir. Jantungnya pun seakan berhenti berdegup, kerinduan itu menyeruak kembali setelah sekian lama. Air matapun meluncur bebas dan mendarat di pipinya, dengan cepat Alessa meletakkan cangkir yang dipegangnya ke atas nakas di samping sofa, mengusap dua jalur air mata itu dengan kedua tangannya.

Seteguk Air Putih

Karya: Ummahatul Mu’minin

Dering handphone berbunyi, menyadarkanku. Mata masih mengerjap-ngerjap, sisa begadang tadi malam. Ku dekatkan handphone putihku, tanpa melihat siapa yang menelepon, karena aku tahu kalau itu ibu.
“Sudah sahur nak?,” tanyanya.
“Sudah bu, minum air putih saja,” jawabku singkat, lantas mengakhiri percakapan dengan salam penutup.
***

July 10, 2016

JANJI GHEA

Karya: Agi Tri Fatonah

Hari ini pun tiba. Hari yang sudah kunanti sejak lama. Bukan, ini bukan hari ulang tahunku. Bukan juga hari wisuda kakakku, Rama. Tapi, hari ini aku akan ke Bandung untuk mengunjungi sahabatku, Nina. Sebenarnya tujuan utamaku ke Bandung adalah untuk mudik lebaran bersama keluarga, sih. Namun seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air.

RAMADHAN TERAKHIR

Karya: QANITH KURNIAWAN ARHAM

Kokok ayam mulai terdengar bersahut-sahutan. Sayup-sayup suara lantunan Murattal qur’an dari masjid terdekat juga mulai berbunyi, penanda waktu imsak kini sudah masuk menjelang subuh.
“tidak usah pulang dulu Hasan..” kata bapak terdengar parau, pada sesorang diujung sambungan telepon
“bapak belum ada uang buat membelikanmu tiket” lanjutnya
“jadi saya mesti  lebaran di pondok lagi” samar-samar terdengar suara membalas
“sabar saja ya nak, InsyaAllah nanti ada kesempatan kita semua di kumpulkan kembali” kata bapak, kalimatnya barusan seolah menggantung di telingaku yang sedang mendengar dari luar kamarnya.

Allah Sebaik-Baik Perencana

Karya; ITFI TUTUR KARMENA

Adzan maghrib bertalu-talu, membuat getar di hati semakin menjadi. Maghrib hari ini pertanda akhirnya bulan Sya’ban, memasuki bulan Ramadhan. Sudah kunanti-nantikan waktu ini dari akhir September, sekitar delapan bulan yang lalu. Ketika teman-temanku mengabarkan hari wisuda mereka. Dalam hati ada rasa bahagia menggelora, namun di sudut hati yang lain ada nestapa. Nestapa, karena seluruh temanku sudah finish menggapai sarjana. Sementara aku, menginjak start  saja belum.

Fajar Akhir Ramadhan

Karya: Nur Nilam Ayu Saputri

Tak seperti fajar biasanya, ini bukanlah yang aku dan mereka harapkan. Fajar ini terbit dari ufuk barat, memamerkan kemurkaannya, menyala-nyala dan mengamuk. Ia angkuh! Ya, sama seperti ku. Inikah cara-Nya untuk menyadarkan hati seorang congkak sepetiku? Beribu prasangka kulayangkan, hingga kudapati sebuah keyakinan : Perpisahan indah penuh makna dihadirkan-Nya hari ini. Ma'assalāma yaa Ramadhan (selamat tinggal wahai Ramadhan).
***

Diri Sendiri

Karya: Lalu Nafri Yuskarohim Adnan

Itu minggu pertama di bulan puasa dengan matahari yang bersinar hangat aku bangun dari mimpi yang membelenggu nyaman dimulai sejak aku menyelesaikan Solat Subuh empat jam yang lalu. Hari ku diawali dengan duduk diam di ranjang tidurku dengan selimut masih membantu menghangatkan badan sambil menghadap ke luar jendela seraya mengumpulkan jiwa atau mungkin kesadaran. Tumpukan lusinan novel dan kumpulan cerpen yang kupinjam dari beberapa orang dan perpustakaan baru yang berada agak jauh dari kostku, yang selalu membumbui hari-hari kosongku di salah satu sisi dunia ini.

BUKA BERSAMA, REST AREA DENGAN HIDANGAN KEBERKAHAN

Karya: Ghina Latifatul Umah

Laju motor perlahan telah berkurang kecepatannya, kubelokkan kendaraan ini ke salah satu rumah di kawasan Kota Ngawi. Usai memposisikan motor untuk diparkir, kuucapkan salam sambil masuk ke rumah temanku. Lima orang laki-laki menengok kearah aku berjalan, dan sekitar 10 orang tengah duduk bersila juga menyambutku dengan senyuman.

Iftar. Could I?

Karya: Lutfiyah

Aku adalah salah satu manusia paling beruntung didunia karena masih memiliki seorang Ibu. Bagiku, Ibuku adalah seseorang yang begitu unik. Salah satu keunikannya saat beliau tidak menyuruh anak-anaknya secara langsung. Beliau hanya memberi kode seperti saat hendak meminta air minum: “Nak, yang mau ke dapur nanti Ibu nitip air minum ya segelas.” Dan kode-kode lain yang menurutku sangat lucu dan unik. Ibu juga sering menjadi penenang kala aku bercerita alias curhat tentang teman sekolah atau teman kuliah yang menyebalkan. Ibuku akan berkata “Sudahlah, Nak” atau “jangan berburuk sangka, Nak.” Oh Ibu. Jangan Tanya lagi tentang jasa-jasa Ibuku, niscaya aku tak dapat menghitungnya. Seperti kala aku sakit, mengambil raport, memasak makanan lezat dan masih banyak lagi. Ibu selalu ada untukku meski aku kerap kali menyakitinya.

July 9, 2016

Tentang Pengharapan, Kepergian, dan Kepulangan

Karya: Fau Lamis

Sayup takbir mulai terdengar menggema di penghujung subuh pagi ini. Bersamaan dengan suara bedug yang kian bertalu, semua warga di Desa Sempu mulai menyibukkan diri menyambut hari nan fitri. Desa Sempu, desa yang berada tepat di kaki Kelud. Tenang, damai, dan asri. Di tempat inilah sebuah cinta kasih terukir di tengah hangatnya sebuah keluarga yang mendamba hari kemenangan. Pun, di tempat ini pula sosok bayi mungil turut larut dalam syahdunya gema takbir. Bayi kecil yang terlahir di hari kedua puluh bulan kedelapan, bayi kecil yang kelak menjadi tumpuan harapan keluarga.

Sudah Salat Ashar

Karya: Muhamamd Abdul Aziz

Sungguh mengesalkan dilarang Bulik Lastri membeli es potong yang biasa anak kecil itu beli sepulang dari sekolah minggu. “Ora elok, ganggu sing poso,” ujar Bulik Lastri. Anak itu menunduk, hatinya kesal, bukan hanya kesal karena es potong, tapi juga karena gurunya di gereja tadi pagi. Anak itu adalah Arul Ramadhan, setidaknya itu nama pemberian dari ibu kandungnya sebelum anak itu dibaptis sehingga nama Ramadhannya diubah menjadi Johannes.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...