June 30, 2016

Bara Ramadhan Di Aleppo

 Karya: Tsabita Huwaida
 

Malam itu di bulan Ramadhan, terlihat seorang gadis remaja termenung di bawah indahnya sinar bulan di teras masjid. Sesekali ia memandang langit dengan meneteskan air mata. Gadis itu bernama Nita, usianya 15 tahun. Tentu saja tindakannya itu menyita perhatian seluruh jama’ah, tetapi ia tidak malu dengan pandangan dan perkataan para jama’ah yang berada di masjid itu. Ia melepaskan mukenah yang ia kenakan kemudian melipatnya. Setelah itu ia kembali duduk diam menatap indahnya langit malam dengan mata sendu. Tak lama kemudian, datanglah seorang gadis yang seumuran dengannya. Gadis itu adalah teman lama Nita, mereka hanya dapat bertemu di bulan Ramadhan saja. 

My Ramadhan Moments

 Karya: Halimah Istiqomah

Kau ingin aku bercerita tentang pengalaman Ramadhanku? Tentu saja aku sangat sangat bahagia, di bulan penuh dengan berkah yang juga sering kusebut dengan bulan yang penuh dengan keajaiban ini hanya datang setahun sekali, that was a rare moment for me. Aku selalu tersenyum sumringah jika bulan ini datang. Kenapa? Ada berjuta alasan di benakku yang membuatku sangat mencintai bulan Ramadhan ini, aku tidak mungkin menjelaskannya satu per satu bukan? Tapi baiklah, aku akan menceritakan the 5 top points which makes me happy in the month of  Ramadhan!

Hijaiyah dan Hijrah

Karya: Nurul Faradila



Minggu, 5 Juni 2016... tepat pada malam harinya, shalat tarawih perdana ditunaikan. Siapa sangka aku bisa bertemu bulan Ramadhan tahun ini. Menjauh dari perantauan di Bandung, Alhamdulillah setelah dua tahun terakhir inilah pertama kalinya aku pulang bersama Ramadhan ke pelukan bue tercinta. Berbeda di perantauan yang menurutku selalu ada kemudahan untuk beribadah apalagi ketika Ramadhan, mengingat seabrek agenda mahasiswa pasti telah siap dieksekusi begitu Ramadhan tiba sehingga membuat diri tersibukkan. Ketika sudah menginjak tanah kampung halaman, firasat berkata aku akan mengalami Ramadhan yang sulit. Aku takut malas semakin merajuk, kasur bakal terasa lebih empuk, ditambah panasnya Solo di siang bolong tentu tak diragukan lagi akan membuat hari-hari puasa penuh dengan 5L (lemah, lelah, letih, lesu, lunglai), dan satu ancaman lagi, kepulanganku merupakan liburan panjang semester yang artinya aku akan berada di sangkar emas untuk waktu yang ditentukan. Yah... bagaimanapun aku akan memulainya, karena aku memilih bersama keluarga.

KADO MANIS DARI ALLAH DI BULAN YANG MANIS

 Karya: RamahJaya



Tak terasa kita telah kembali dipertemukan dengan bulan indah ini. Bulan ramadhan. Bulan yang penuh dengan limpahan pahala didalamnya. Berbicara tentang ramadhan mengingatkan aku dengan ramadhan di tahun kemarin. Ramadhan yang menurut ku sangat berkesan dibanding ramadhan di tahun sebelumnya. Ada sebuah moment didalamnya yang mana setiap membicarakan dan mendengarnya membuat hatiku gugup dan bergetar. Moment itu ialah pengumuman kelulusan Sbmptn.

Cinta Yang Salah

 Karya: Annisa Muttoharoh
 

Cuaca enggan bersahabat dengan rencana yang telah aku buat. Matahari tak ingin menampakkan dirinya lagi meskipun ini baru pukul dua siang. Hanya hujan yang aku dapati sedari tadi, aku mulai mencemaskannya. Akankah mungkin hujan akan berhenti pada waktunya. Aku abaikan semua perasaan yang menggelayut dalam hatiku, ku coba lupakan semuanya dengan beristirahat untuk tidur siang sejenak sembari menunggu waktunya tiba.

Berkah Bulan Suci

Karya: Susan Nurul Hasanah
 
“Sahur… Sahur… Sahur” Suara itu mulai terdengar lagi di telingaku, suara bernada yang slalu di lontarkan para pemuda di kampung ku setiap jam 02:30 WIB tepatnya. Setiap kali suara itu terdengar semua penduduk di kampung ku ini selalu terbangun, tapi tidak dengan aku. Aku seorang gadis yang sudah cukup dewasa tepat nya usia ku menginjak 21 tahun. Namun, kedewasaan ku tidak sedewasa usia ku. Sering kali Ibu memarahiku karena pribadi ku yang masih ke anak-anakan padahal usia ku sudah cukup sangat dewasa.
Seusai Ibu masak menyiapkan makanan untuk aku dan keluargaku sahur, aku masih saja terdampar di tempat tidurku. Dengan nada yang cukup tinggi Ibu memanggil nama panggilanku “Kakak !!” suara itu sebenarnya telah aku dengar namun entah mengapa berat rasa nya tubuh ku untuk terbangun dan melaksanakan makan sahur bareng keluargaku. Ibu pun menghampiriku dan membangunkan aku dengan sebuah kalimat “anak gadis ini malas nya memang juara nomor satu” ucap Ibu. Kalimat itu selalu terlontar dari mulut Ibu hampir setiap hari, ya, mungkin karena pribadi ku yang masih seperti ini.
Tanpa kata aku pun terbangun dan melaksanakan sahur bersama keluarga ku. Setelah sahur selesai aku masuk kamar kembali dan tidur. Memang sangat menjengkelkan sikap ku ini, aku pun sadari itu. Namun, inilah aku, inilah pribadiku, sangat sulit untuk ku merubahnya. Ibu selalu bilang “Anak gadis itu harus segala pintar, pintar masak, pintar bersihin rumah, pinter ngatur uang dan pinter milih makanan sehat buat suami dan anaknya nanti. Kalo Cuma tidur dan mainin handpone, mau di kasih makan apa anak sama suami kamu nanti? Yang ada juga suami kamu nyari istri baru buat masak dan ngurusin mereka” ucap Ibu. Setiap kali Ibu melontarkan kata-kata itu rasa takut di benak ku memang selalu hadir. Namun, aku tidak suka dengan cara Ibu yang selalu saja bersikap kasar dan memarahiku.
Ya, aku memang di juluki gadis pemalas, keras kepala dan egois. Julukan itu di berikan oleh keluargaku sendiri, memang sangat mengerikan ya. Sedangkan aku adalah anak pertama dari 5 bersaudara di keluarga ini. Sering sekali aku ribut dengan adik ku, dan pada akhirnya aku membuat adik-adik ku menangis karena aku yang tidak pernah mau mengalah. Lagi-lagi ibu memarahi ku, bahkan terkadang ia sampai menetes kan air mata, mungkin karena sudah lelah melihat sikapku. Adik permpuan ku sering menjuluki aku dengan sebutan “Monster” tapi itulah aku, aku tidak pernah memperdulikan ocehan orang lain, yang penting aku bisa merasa selalu bahagia saja.
Hingga pada suatu malam Ayah menghampiriku yang sedang duduk manis di atas tempat tidur sambil memainkan handpone, ia duduk tepat di samping ku. Dengan nada yang begitu lembut ia bicara,“Kaka sekarang sudah dewasa yah” Ucap ayah. Aku hanya melirik wajah nya dan kembali melihat handpone. “dua bulan lagi usia kakak genap 21 tahun, benarkan?” lanjut ayah.
“Iya” jawabku, dengan mata yang masih fokus ke handpone.
“Wanita seuisia kamu harusnya sudah menikah, ibu mu saja dulu menikah di usia 15 tahun” lontar ayah.
“itu kan ibu yah, bukan aku” jawab ku sangat dingin
“kamu sudah siap menikah?” ucap ayah tanpa basa basi
“nikah gimana yah, pacaran saja aku tidak pernah” jawabku masih sangat simple
“ayah sudah punya laki-laki buat jadi pendamping hidup kamu” ucap ayah tersenyum.
Mendengar pernyataan ayah aku sangat terkejut. Dengan wajah kaget aku menolak obrolan ayah “tidak mau, ini jaman modern yah, masa ayah masih pake adat kuno sih, seperti jaman siti nurbaya saja” Ucap ku marah
“Nak, kamu berani membentak ayah seperti itu” Ucap ayah dengan wajah sangat menyedihkan. “Ayah yang membesarkan mu dengan keringat ayah kamu bisa sebesar ini, Ibu mu yang melahir kan mu dengan setumpuk rasa sakit ia mengandung mu sampai melahirkanmu, dan kita semua keluarga mu yang selalu menjaga mu, menghawatirkan mu, apa kamu masih tega membuat kami kecewa dengan pribadi dan sikap-sikap kamu yang keras itu nak?’ lanjut ayah meneteskan satu tetes air matanya. Mataku tak kuasa melihat wajah ayah yang begitu terlihat kecewa. “apakah aku sekeras itu yah? Sehingga keluarga ku sendiri merasa jengkel denganku?” ucapku menangis. Ayah memeluk ku sambil berkata “kami sangat menyayangimu nak”.
Ayah keluar meninggalkan ku. Sepanjang malam itu aku tidak tertidur sedikitpun, fikiran ku melayang, merenungkan yang telah ayah ucapkan tadi. Dalam benak ku penuh Tanya “apa aku sekeras itu?”. Dalam renungan dan air mata aku tersadar, betapa berartinya mereka di hidupku, dan betapa jahat nya aku yang selalu membuat mereka marah, kecewa, bahakan menangi, ntah bagai mana jadinya aku jika mereka tiba-tiba hilang dari hidupku.. Dan yang terlihat di benakku saat itu adalah wajah Ibu, betapa sabar nya dia, betapa menderitanya dia karena sikapku sampai ia selalu memarahiku. Segenap fikiranku melayang mengingat masa kecilku dulu yang tidak pernah jauh dengan Ibu, ia yang selalu membuat aku tertawa ketika aku menangis, dan ia yang selalu berusaha membuat aku bahagia dengan segala macam caranya.
Hingga sahur pun tiba, ketika para pemuda itu mulai membangunkan aku langsung terbangun dari tempat tidurku dan ke dapur, aku memasak segala hal yang mampu aku lakukan. Saat itu aku memang hanya memasak mie goring dan beberapa telor dadar, karena hanya itu yang aku bisa. Ketika Ibu ke dapur, semua makanan sudah siap aku sajikan di atas meja, ibu tersenyum melihatku. Namun, masih saja ia melontarkan kata-kata sindiran “Tumben!” sambil tersenyum ibu duduk di kursi meja makan itu. Kami semua pun makan bersama ayah dan adik-adiku.
Semenjak hari itu suasana rumah sangat berubah dari hari ke harinya, tentunya berubah menjadi lebih baik. Suasana rumah yang awalnya gersang karena amarahku sekarang berubah menjadi rumah yang damai karena aku yang selalu bercanda dengan adik-adikku. Rumah yang awalnya aku anggap menyebalkan berubah menjadi menyenangkan karena aku yang awalnya pemalas sekarang menjadi rajin mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ibu pun tidak pernah memarahiku lagi, ia jadi lebih sangat lembut terhadapku. Malah sebaliknya, teman-teman yang awalnya sangat dekat denganku sekarang mulai menjauh karena aku yang tidak lagi bermain bersama mereka. Sahabat facebook yang awal nya banyak sekali memberikan “Like” sekarang tak lagi seperti itu, mungkin karena aku yang tidak lagi membuka facebook karena jarang memegang handpone.
Aku kira, dunia seperti ini bukanlah duniaku, dan jadi anak yang rajin serta lembut itu sangat menyebalkan. Tapi aku salah, dunia yang aku anggap menyebalkan ternyata sangat menyenangkan. Dan menjadi wanita dewasa itu tidak sesulit yang aku bayangkan. Bahagia itu kita yang captain ya..
Hingga pada  suatu hari ayah menghampiriku dan membicarakan lagi soal perjodohan itu, aku pun menjawab masih sangat dingin “aku mengikuti apa kata ayah saja, aku yakin ko kalau pilihan ayah itu tidak akan pernah salah untukku” ucap ku tersenyum menatap ayah. Ia tersenyum dan aku melihat aura bahagia yang terpancar dari wajahnya. Ia pun memeluk ku kembali dengan ucapan “anak pintar”.
Selesai

Teguhkan Iman

Karya : Muhamad Khotami Rais

Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Unexpected Ramadhan 2016

Pagi yang tak begitu cerah namun terasa damai diiringi kicawan burung-burung dan suara ayam berkokok memadu membentuk instrument musik yang menyejukan telinga dan hati. Baru beberapa saat aku menikmatinya, terdengar suara seseorang yang memanggil namaku dari luar rumah mengajaku bermain sambil “ngabuburut” padahal hari masih pagi.

http://kafekopi.blogspot.co.id/2016/06/kirimkan-naskahmu-untuk-diedit_27.html

Kami pergi berjalan-jalan keliling desa sambil berbincang-bincang dan bercanda. Namun suasana jalanan yang sepi membuat kami bosan dan berfikir akan lebih bosan jika berada di rumah. padahal biasanya banyak anak-anak yang bermain di jalan. Mengapa di hari terakhir bulan Romadon ini mereka tidak ada? Tak lama kemudian, terlihat sekelompok anak yang dicari tadi berbondong-bondong menuju ke arah barat. Mereka melihat kami dan mengajak untuk ikut bersama mereka. ternyata mereka akan pergi ke “curug omo” untuk berenang dan bersenang senang. Sepertinya hal itu akan menyenangkan. Katanya lokasinya tak terlalu jauh, hanya akan memakan waktu satu jam.
Separuh perjalanan telah ditempuh, satu jam telah berlalu namun tak kunjung sampai. Kini aku mulai lelah dan tak sengaja melihat salah seorang dari kami yang memakan permen dan menawarkan kepadaku pula, dia bilang perjalanan masih jauh, jika tidak makan akan sangat lelah, yang lainpun sudah batal puasa, namun jika tidak mau makan sekarang simpan saja dahulu permen ini di sakumu. Lima menit kemudian sampailah di “curug omo”. Ternyata tempatnya lumayan indah dan airnya yang keruh bukan masalah bagi kami untuk bersenang-senang dalam air. kucing-kucingan, kejar-kejaran, tindih menindih benar benar menyenangkan. Ditengah kesenangan ini seteguk air tertelan olehku, dalam hatiku “ini tak sengaja berarti aku masih bisa meneruskan puasa, sepertinya diteruskan saja semoga diterima”. Disamping menyenangkan ternyata berenang sangat melelahkan. Kamipun beranjak dari air menunggu tubuh kering sambil istirahat, namun tak bisa sambil makan karena persediaan permen dan air sudah habis.
Matahari semakin keatas semakin terik saja membuat tubuh ini semakin lelah. Rasa lapar dan dahaga terus membayangi dan membawa kami menuju pasar. Pedagang-pedagang tengah sibuk membereskan barang dagangannya hingga banyak yang terjatuh ataupun tertinggal. Ditengah kesibukan itu mudah sekali untuk mencuri atau mengambil buah buahan yang berserakan baik ditanah ataupun di meja meja penjual. Bermacam-macam bau busuk yang tercium disana membuat mual, suara bising kendaraan dan tawar menawar penjual-pembeli membuat kepala pusing dan stres, pengemis cacat tertendang-tendang dan terlihat menyedihkan. Mengapa aku diajak ke tempat yang disebut “rumahnya setan” ini?
Beberapa saat kemudian kami pergi ke tempat sepi yang jarang dilewati orang-orang yang dekat dari “curug omo” dan tak jauh dari pasar. Disana aku terkejut melihat yang lain mengeluarkan bermacam-macam buah dari saku-saku mereka yang baru saja diambil dari pasar. Salak, jeruk, manggah, dan buah lainnya dilahap dengan genbira, terlihat sangat nikmat dan menggoda. Dalam hati “ apa lagi yang akan mereka lakukan setelah ini? semoga aku tidak terjerumus kepada kamaksiatan yang mereka lakukan”.
Akhirnya kami melakukan perjalanan pulang, tak sabar rasanya untuk tidur di rumah. Namun perjalanan pulang masih terhenti disamping kebun salak. Pagar kebun dibobol dan aksi pencurian dimulai oleh perwakilan dua orang yang masuk ke kebun salak sedangkan yang lainnya menunggu di luar. Pencurian pertama berhasil, pesta salakpun dimulai. Lebih dari tiga puluh salak dapat diambil dari dalam kebun dalam pengambilan pertama dan habis dalam sekejap. Masih belum puas dengan yang pertama dan suasana di sekitar kebun masih sepi, dilanjutkanlah pencurian yang kedua dengan jumlah salak yang tidak lebih sedikit dari pengambilan pertama, pestapun kembali berlanjut bahagia. Aku hanya berdiam diri melihat mereka. belum puas juga dengan pengambilan yang kedua, dilakukanlah pencurian yang ketiga yang suasananya agak berbeda dari sebelumnya. Tiba tiba terdengar suara langkah beberapa orang yang berjalan menuju kearah kebun, dua orang masih sibuk didalam kebun sedangkan dari hulu jalan telah terlihar para pelani yang memegang alat taninya. Dua orang tadi baru keluar dan kami langsung lari terbirit birit. Anehnya belum jauh berlari kabur, tidak ada satu orangpun yang mengejar padahal mereka jelas melihat kami dari jauh dan sampah-sampah salak masih berserakan di jalan. Ada yang mengatakan apbila sesuatu telah dilakukan tiga kali, maka kemungkinan akan terjadi sesuatu, trnyata benar terjadi. kamipun melanjutkan perjalanan pulang tanpa melakukan hal yang lain dan aku sampai di rumah pukul dua siang.
Adzan magrib dikumandangkan dan buka puasa kali ini akan menjadi buka puasa terakhir bulan Romadon tahun ini. di setiap masjid terdengar suara keagungan Allah, terus berulang ulang hingga esok idul fitri, anak-anak barmain berlarian di sekeliling masjid, saudara-saudara jauh berdatangan pulang kampung. Namun banyak terdengar suara petasan dan kembang api yang mengganggu. Mengapa suara bising kembang api dan petasan paling ramai terdengar di bulan Romadon?
Keesokan harinya, saat aku bangun subuh dikejutkan dengan tumpukan peci berwarna putih yang berada diatas tubuhku, kutanyakan kepada keluargaku darimana peci-peci ini, tak seorangpun yang tahu, mereka malah terheran-heran mendengar kejadian ini, “mungkin ini hadiah dari Allah untukmu karena telah menyempurnakan puasa dan agar kamu lebih semangat untuk beribadah” kata ibu “ lagi pula peci lamamu sudah sangat jelek mungkin itu untuk gantinya juga”. setelah solat idul fitri, aku mendapat uang dari paman dan bibi serta saudara saudara yang lain yang sudah bekerja sehingga terkumpul sangat banyak. Aku bingung, mengapa ibuku tidak curiga kepadaku terkait kejadian kemarin padahal teman-temanku banyak yang dimarahi dan dihukum oleh orang tuanya karena ketahuan telah mencuri salak. Rasanya bulan Romadon tahun ini sungguh mengherankan karena berbeda dari sebelum-sebelumnya yang biasa biasa saja.

Aku benar-benar bersyukur kepada Allah karena diberi kekuatan untuk melaksanakan puasa secara penuh walaupun banyak godaan-godaan. namun dapat aku kendalikan sehingga menguatkan keimanan dan rasa percaya diri untuk melawan segala napsu dan amarah, serta dapat mengambil pelajaran dari perisiwa-peristiwa yang dialami. Semoga ibadah di bulan Romadon ini dapat diteruskan di bulan-bulan lainnya dan hati ini semakin tegu hanya mengharap rido Allah semata.

200ribu untuk Ibu

Karya : Aimmah el-Bisri

Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Unexpected Ramadhan 2016

Namaku Imro’. Aku adalah seorang mahasiswa semester V di perguruan tinggi negeri satu-satunya di kabupaten Kediri. Jurusan yang ku ambil adalah pendidikan dengan program studi Pendidikan Bahasa Arab, hingga kini aku belum tahu secara pasti kenapa aku mengambil program studi ini. Kehidupanku sebagaimana mahasiswa biasanya namun hidupku tidaklah begitu mudah. Banyak tantangan dan cobaan yang datang dalam perjalananku selama ini.
Aku terlahir dalam keluarga petani sederhana yang sawahnya tidak cukup lebar untuk menghidupi 3 anggota keluarganya. Ya, ayahku telah dipanggil kesisi-Nya tahun 2011 kemarin, ketika aku masih duduk di bangku MA kelas XI sedangkan adikku saat itu masih kelas VII SMP. Kini tinggal ibuku yang sepenuhnya menjadi tulang punggung keluarga. Aku? Sebenarnya aku begitu malu untuk mengatakan ini, aku sama sekali belum memberi ibuku apa-apa selain rengekku ketika minta uang bensin.

http://kafekopi.blogspot.co.id/2016/06/kirimkan-naskahmu-untuk-diedit_27.html

Saat ini ibuku menggarap sepetak tanah bekas kebun yang luasnya sekitar 40ru yang terletak 50 meter dari rumahku. Itulah sumber makan kami sehari-hari. Disana ibuku menanam sayur-sayuran hijau yang sekiranya bisa dipanen seminggu 3kali seminggu atau bahkan setiap hari, seperti kangkung, bayam, kenikir. Sayur yang telah beliau panen di setorkan kepada warung kelontong di desa kami. Hasilnya tidak begitu banyak, cukup untuk membeli beras, tahu dan kebutuhan sederhana lainnya.
Lalu dari mana uang sakuku yang setu bulan kurang lebih 300.000 untuk bensin? Dan uang saku adikku yang di pondok yang juga hampir sama denganku. Aku tidak pernah bertanya kepada beliau, aku takut dan tak enak hati. Setahuku sering kali paman atau bibiku datang berkunjung kerumah, sepertinya beliau berhutang kepada mereka. Aku tidak tahu seberapa banyak hutangnya demi menyekolahkan aku dan adikku. Aku malu pada diriku sendiri.
Beliaulah semangatku. Aku belum pernah membuatnya bahagia, justru semenjak ayahku meninggal prestasiku mulai menurun aku sempat stress juga ketika masih duduk di bangku MA. Mau jadi apa aku ini, nilai terus turun dan tidak ada prestasi membanggakan. Alhamdulillah aku sudah bangkit dan masih dapat menemui puasa ke-5 tanpa ayahku bersama ibu dan adikku. Aku bahagia. Aku ingin membahagiakannya satu kali saja.
***
Awal bulan juni kemarin aku masih disibukkan dengan tugas kuliah yang menumpuk, mulai dari bikin RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang harus ditulis tangan hingga membuat proposal skripsi. Ini akibat tugas yang begitu banyak dan aku bingung mau mengerjakan yang mana dulu. Walhasil minggu awal Juni kemarin aku hampir keteteran. Pulangku jadi sore dan menjelang maghrib karena harus nglembur di kampus bareng teman-teman.
Ketika aku pulang maghrib ibuku menyambutku dengan senyuman hangatnya.
“Udah sholat maghrib belum? Habis itu Ndang maem....” beliau selalu menyambutku dengan perhatiannya. Inilah yang menjadi semangatku.
***
Hari itu hari senin tanggal 7 Juni 2016, tepatnya hari kedua puasa di bulan Ramadhan. Pagi itu aku berangkat ke kampus bersama temanku seperti biasanya, jam 8 pagi. Sebenarnya kampus sudah tidak aktif namun aku dan teman-teman mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk itu karena sabtu adalah deadline-nya.
“Im, nanti kamu tak tinggal di kos bentar ya, jam 9 aku diajak mas Fauzi rapat Pondok Romadhon di SMA 8” ucap Fita di jalan ketika kami sedang diperjalanan menuju kampus.
“Oke, cieee yang mau jadi ibu guru. Ngajarnya mulai kapan Fit?” celetukku refleks, aku senang melihat temanku bisa mengamalkan ilmu yang dipelajarinya.
“kata mas Fauzi mulai besok rabu hingga sabtu. Cuma 4 hari.” Jawab Fita.
***
Jam 08.40 kami sampai di kampus dan kami langsung mampir ke kosan Fita. Sesampainya di kos aku langsung membuka laptop dan mengerjakan tugas yang sudah dikejar oleh deadline.
“Kamu nanti berangkat sama siapa Fit? Bareng mas Fauzi ta?” tanyaku.
“Nanti aku sama mbak Yuyun. Di tunggu mas Fauzi di pertigaan jalan Brawijaya im. Aku ndredeg banget im” Jawabnya sambil tertawa.
“Gak papa Fit, hitung-hitung buat pengalaman PPL nanti.” Jawabku menyemangati.
“Iya ding. Im, aku berangkat dulu ya. Udah di tunggu mas Fauzi nich, gak enek kalau telat. Doain aku ya.” Ucap Fita sambil bergegas pergi meninggalkan kos.
“Oke Fit, good luck ya” jawabku sambil tersenyum.
Sekarang aku sendirian di kamar kos. Suasana saat itu sangatlah hening karena para penghuni kos yang lain sudah banyak yang pulang ke rumahnya masing-masing. Kami kos disini hanya untuk istirahat siang saja karena jadwal kuliahnya tidak menentu, terkadang masuk pagi dan siang terkadang ada yang masuk siang dan sore.
***
Beep... beep...
Kulihat HP-ku ternyata ada pesan masuk,
Im, kamu masih di kos kan? Ada sesuatu yang penting, gak usah pergi kemana-mana dulu. Tunggu aku.
Seketika itu aku gugup. Pikiranku kemana-mana, aku takut terjadi sesuatu dengan Fita. Aku membalasnya,
Iya Fit, aku masih di kos. Ada apa? Hati-hati dijalan ya....
Dalam hati aku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa kepada Fita, mbak Yuyun maupun mas Fauzi.
***
15 menit kemudian Fita sampai di kos.
“Ada apa Fit? Apakah terjadi sesuatu?” tanyaku khawatir. Namun aku merasa aneh, karena saat itu wajah Fita tidak terlihat gugup. Sepertinya tidak ada hal gawat yang terjadi padanya.
“....im, ada kabar baik. Kamu harus ....” jawabnya sambil cengar-cengir. Dia menggodaku. Aku yang bingung dan penasaran hanya bisa menggaruk kepala.
“Ada apa sich Fit? Kamu terlihat mencurigakan” timpalku. Rasa khawatirku akan keadaannya mendadak berbalik. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri akibat ulah Fita.
“Gini, im. Mbak Zulfa kan kebagian ngajar Pondok Romadhon kelas X hari rabu sampai sabtu tapi dia ada acara jadi dia gak bisa ngajar. Terus,...” Jawab Fita sambil duduk di depanku. Dia semakin membuatku penasaran.
“Terus apa Fit.. buruan donk, perasaanku kok gak enak ya. Kalau gak buruan ngomong aku gak mau dengerin.” Jawabku sedikit protes.
“Iya, jadi gini im. Berhubung mbak Zulfa gak bisa ngajar, temen-temen sepakat nunjuk kamu sebagai gantinya. Selamat ya.” Jawab Fita dengan jelas sembari menyalami tanagnku. Aku hanya bisa melongo. Aku sama sekali tidak punya basic mengajar.
“Kenapa harus aku? Temen-temen kan tahu aku itu orangnya gimana.” Jawabku membela diri. Aku tidak percaya diri dengan kemampuanku.
“Udahlah im. Dicoba aja dulu. Hitung-hitung buat pengalaman PPL semester depan.” Ucap Fita memberi semangat kepadaku. Sejenak aku berfikir dan keraguan itu mulai menghilang.
“Oke deh, aku mau. Hmmm, semoga besok bisa lancar.” Jawabku mantap. Fita pun tersenyum puas. Lalu dia memberi kabar kepada mas Fauzi bahwa aku bisa.
***
Aku menceritakan berita ini kepada ibuku. Beliau menaggapinya positif dan mendunkungku. Aku semakin bersemangat. Ibuku adalah orang yang sangat baik dan selalu mendukung langkahku.
***
Tak terasa 4 hari mengajar Pondok Ramadhan di SMA 8 hampir berakhir. Aku meminta maaf kepada siswa kelas X yang ku ajar selama 4 hari ini. Aku merasa bahwa apa yang kusampaikan masih begitu kurang. Aku belum bisa meng­-handle mereka semua dengan baik. Akhir kataku untu mereka adalah semoga apa yang telah kami pelajari 4hari ini dapat memberi manfaat bagi kehidupan kami mendatang, juga untuk orang lain.
Alhamdulillah ini adalah Ramadhan yang tak pernah ternbayangkan dalam hidupku. Ya, aku mengajar. Aku mampu menyampaikan materi didepan para murid dan ini adalah pengalaman pertama seumur hidupku. Semoga ini memberiku banyak manfaat.
Penutupan Pondok Ramadhan ini dilakukan di masjid sekolah, semua siswa berkumpul berikut para guru pendamping dan panitia Pondok Ramadhan. acara penutupannya berlangsung khidmat dan disertai doa yang Insyaallah akan memberi manfaat dan berkah kepada kami semua. Aku lega sekali. Keraguanku hilang, begitu pula dengan teman-temanku tadi. Ini benar-benar pengalaman kami yang begitu berharga.
***
Setelah penutupan, kami para guru dikumpulkan di kantor. Kata Fita sih mau ada pembagian uang saku. Aku begitu polos, aku sama sekali tidak mengira jika akan ada pembagian uang saku. Aku begitu bahagia, aku langsung teringat ibuku di rumah. Aku teringat bahwa aku belum bisa membalas jasanya selama ini. Ini untukmu Ibu.
***
Setelah pembagian uang saku, kami tidak langsung pulang ke Pare. Kami mampir ke kos untuk sholat dhuhur dan beristirahat sejenak. Maklum kami belum berpengalaman mengendalikan 30 siswa sekaligus, sehingga setiap selesai mengajar tenaga kami rasanya habis. Namun kami merasa bahagia. Aku tidak sabar untuk segera sampai rumah.
***
Kami tertidur hingga pukul 4 sore. Akhirnya kami sholat ashar teus pulang ke rumah. Dan tepat pukul 5 sore aku sampai di rumah. Seperti biasa aku mengucap salam ketika masuk rumah.
“Gimana ngajarnya tadi?” ibuku menyambutku dengan perhatiannya.
“Alhamdulillah lancar bu, anak-anknya sudah bisa diatur. Maaf pulang telat lagi. Tadi ketiduran di kos.” Jawabku sambil mencium tangan ibuku yang mulai berkeriput.
“Alhamdulillah. Hari ini terakhirkan nak? Buruan mandi sana, keburu maghrib nanti.”
“Iya bu. Bu, Alhamdulillah tadi dapat rejeki. Katanya buat ganti bensin. Ini...” jawabku sambil menyodorkan amplop putih yang ku dapat tadi.
“Lho, kok dapat uang saku. Alhamdulillah nak, Allah memberi rejeki atas kerja kerasmu. Semoga ini memberimu berkah.” Jawab ibuku sambil berkaca-kaca. Beliau memelukku dengan erat. Aku hanya terdiam dan hanyut dalam haru.

Ya. Ibuku adalah orang yang sangat polos dan berhati baik. Beliau sama sekali tidak menyangka jika aku akan mendapat uang saku. Wajahnya yang dari kemarin terlihat suram memikirkan uang untuk membayar pondok adikku kini berubah menjadi seutas senyum yang begitu indah. Keriput dipipinya seakan-akan menghilang ditelan senyuman dan air mata kebahagiaannya. Isinya 200.000. Bagi kami ini adalah nominal yang besar sekali. Semoga kedepannya aku dapat membahagiakan ibuku lebih dari ini. Terimakasih Allah atas nikmat Ramadhan-Mu tahun ini. Semoga berkah-Mu selalu menyertai setiap langkah kami.

Berbuka Lapak

Karya : Arif Budi Laksono

Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Unexpected Ramadhan 2016

Semua orang punya cerita hidupnya sendiri-sendiri. Ada susah, ada senang. Ada yang jalan hidupnya berjalan dengan lancar. Ada juga yang tak berjalan dengan semestinya, seperti halnya ceritaku. Awal perjalanan bisa dibilang seperti sebuah keberuntungan. Diterima di jurusan Teknik favorit universitas ternama. Banyak impian yang sudah didamba-dambakan dari situ. Tapi ada yang bilang, hidup ini tak seperti dongeng. Dari studi kuliah yang berat, ditambah dengan masalah-masalah eksternal yang dialami di kampus. Membuat fokus terganggu, hingga nasib kuliah di ujung tanduk. Dari sebuah keyakinan menjadi sebuah pertanyaan, antara lulus atau tidak. Bagaimanapun demi orang tua aku masih berusaha untuk lulus. Walau selalu saja penuh hambatan. Terkadang aku bertanya apakah Allah sudah tak meridhoi jalanku? Terlebih dengan dosa-dosa yang aku lakukan dari pelampiasan rasa frustasi dalam hidup.

http://kafekopi.blogspot.co.id/2016/06/kirimkan-naskahmu-untuk-diedit_27.html

Apapun yang terjadi aku masih terus berusaha, aku tak mau berhenti di tengah jalan. Hambatan demi hambatan aku coba hadapi, tak terkecuali kendala keuangan. Bulan Ramadhan tinggal hitungan hari saat itu, dan aku masih berpikir bagaimana cara mendapatkan uang untuk proses studiku. Di bawah tekanan ayahku yang terus mengejar-ngejar untuk segera lulus, tiba-tiba aku menemukan sebuah ide. Aku teringat ayahku pernah memesan sepatu dari sebuah situs penjualan online, Bukalapak. Muncul pikiran di benakku untuk menjual sesuatu demi mendapatkan uang demi kuliahku. Hal pertama yang terbesut di pikiranku tentang benda yang bisa kujual dengan harga yang kubutuhkan adalah bass gitarku. Bass gitar bekas yang sudah tak sempat tersentuh lagi karena kesibukanku  mengejar ketertinggalan.
Sempat ragu, namun situasi terdesak memaksaku harus mencobanya. Aku pun memfoto bass gitarku, dan bergegas berangkat ke warnet. Aku belum punya akun, jadi mau ga mau aku harus mendaftar dulu.  Syukur pendaftarannya begitu mudah, aku akhirnya mempunyai akun penjualan Bukalapak. Segera aku memposting penjualan bass gitarku, dengan modal hanya 2 foto kondisi barang bass gitar bekasku. Hal itu aku lakukan 2 hari sebelum puasa Ramadhan. Hanya dalam hitungan jam ketika aku kembali ke rumah, ada 2 orang yang mengajukan penawaran atas barangku. Tapi masih belum kusepakati, walau nilainya cukup lumayan. Aku berusaha sabar menunggu, berharap ada orang yang mau membeli sesuai harga yang kuhendeki. Sehari sebelum Ramadhan, ada SMS yang masuk  ke handphone-ku dari Bukalapak. Menginformasikan bahwa ada pesanan baru yang masuk, dan perintah untuk segera memproses pesanan dan mencetak nomor resi.
Sedikit tak percaya saja, sebelumya tak punya pengalaman dalam berjualan online. Mencoba sekali menjual 1 barang bekas, dan laku hanya dalam waktu 2 hari saja. Mencoba membendung euforia, aku bergegas menyiapkan bass gitarku. Berusaha membersihkannya agar terlihat seperti baru lagi sebelum dikirim, lalu mengepaknya. Mungkin itu pertama kalinya aku mengepak barang pesanan orang lain. Setelah pengepakan selesai, dengan penuh keyakinan aku berangkat ke agen pengiriman barang JNE, lalu mengirimkannya ke alamat pemesan. Tak lupa aku mengkonfirmasi pengirimanku di situs Bukalapak.
Hanya dalam waktu 3 hari, barangku sampai ke pemesan. Aku bersyukur pemesan merespon baik dan puas dengan bass gitarku. Aku mendapatkan feedback positif pertama,  dan uang sekitar satu jutaan bisa aku terima dari pembayaran di Bukalapak. Pengalaman itu membuatku semakin yakin untuk membangun bisnis penjualan barang sendiri melalui situs Bukalapak. Sebelumnya aku kadang menjual produk-produk kesehatan dengan menawarkannya langsung pada orang-orang yang kutemui. Namun masih belum membuahkan hasil. Bukalapak mungkin bisa jadi solusi. Aku pun langsung memposting produk-produk kesehatan yang biasa aku jual ke Bukalapak. Seiring berjalannya Ramadhan, pesanan demi pesanan berdatangan. Aku sangat bersyukur, Allah membukakan jalan baru yang membuatku setidaknya bertahan. Mungkin ini yang disebut-sebut sebagai berkah Ramadhan.
Suatu hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya di benakku untuk berjualan online. Hal yang tiba-tiba datang di benakku seiring dengan datangnya bulan Ramadhan. Padahal bisa dibilang saat itu aku masih menjadi pribadi yang buruk, dan seperti malu menyambut Ramadhan. Ramadhan yang datang ketika aku susah, sekaligus Ramadhan yang menguntungkan untukku. Pengalaman ini memberiku pelajaran baru tentang membangun sebuah bisnis. Berawal dari sebuah pemikiran kecil, yang bisa jadi menjadi titik kunci kesuksesan kita. Kesuksesan bisa diraih dari manapun, sudah saatnya tak berpikiran sempit dengan menganggap kuliah sebagai tolak ukur. Karena semakin lama aku kuliah, aku semakin sadar. Melihat teman-temanku yang lebih dulu lulus juga, bahwa setelah lulus kuliah tak lebih dari sekedar menjadi karyawan. Bahkan beberapa masih menganggur. Gaji tetap pun belum menjamin bisa mencukupi kebutuhan kita sebagai manusia ciptaan-Nya yang sulit membendung hawa nafsu.
Jika bisa membangun bisnis sendiri, kenapa tidak. Segala sesuatu pasti ada resikonya, dan hanya orang-orang yang mau sukses yang berani mengambil resiko tersebut.
Salam Sukses buat semuanya.
By Arif.

Mana Tau Rejeki

Karya : Devi Juliasari

Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Unexpected Ramadhan 2016

Kalau kata orang , Rejeki mah emang ga bakalan kemana. Kalau sudah rejeki pasti bakalan datang. Itu kalau kata orang. Namun , kalau di era modern seperti saat ini nunggu datangnya rejeki tanpa berbuat apa-apapun juga sama aja nunggu durian jatuh dari langit. Ga bakalan mungkin. Bener ga ?

*** H-60 Goes to Ramadhan ***

Bulan ramadhan sudah tinggal sebulan lagi. Namun, cobaan udah aja depan mata.

Kring...kringgg ( telfon berbunyi )
HRD menelfon ku dan berkata "... Blaa...blaa... Blaaaa dan di akhiri dengan kata , " Devi hari ini terakhir magang ya ".

Sontak aku langsung nangis dan pada saat itu ada ibu di depan ku. Untuk pertama kali nya nangis di depan ibu saat usia sudah kepala dua. Yah.. Memang selama ini berusaha untuk tidak mengeluh ataupun cerita soal masalah apalagi menangis dengan ibu. Karena sudah pasti tidak mau membuat ibu jadi kepikiran.

Dan secara langsung, ibu yang melihat ku menangis langsung menenangkan ku dan berkata, " sudah gapapa. Kamu masih dalam status magang.bukan kerja. Kalau sudah kerja baru kamu sesali. Lagi pula kesalahan bukan sepenuhnya di kamu. Rejeki mu memang sampai di situ berarti. Kita ga pernah tau rejeki kita dimana dan apa kedepannya. Ambil hikmah nya aja. Ini mau bulan puasa. Bisa kamu istirahat dan fokus kuliah sambil bantu ibu di rumah " . itulah yang ibu katakan. Kata-kata halus tanpa ada rasa yang menyakiti.

Keadaan ku semakin baik. Walaupun ada masih tersisa rasa sedih. Tapi hanya ikhlas lah yang membuat aku menerima kenyataan. Aku tetap menjalankan kegiatan ku seperti biasa.

http://kafekopi.blogspot.co.id/2016/06/kirimkan-naskahmu-untuk-diedit_27.html

*** H-30 Goes to Ramadhan ***

Telfon ku berdering kembali. Panggilan untuk pemagangan pun memanggilku. Hanya satu kata yang bisa ku ucapkan dalam hati " alhamdulillah " . namun , proses nya sangatlah alot dan memakan waktu.

*** Welcome Ramadhan ***

Ramadhan pun telah tiba. Namun, proses tak kunjung selesai. Hati ini sudah gelisah. Pikiran menjadi bingung. Aku harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan sembari mengisi kegiatan bulan ramadhan agar aku bisa belajar produktif dan kreatif di samping menjalankan ibadah.
Dan aku pun teringat hal yang paling ku sukain di saat hati ini mulai resah, " Menulis ". Yah inilah obat yang paling ampuh ketika hati mulai enggan dan lelah bercerita kepada manusia. Belajar untuk tidak merepotkan orang lain dengan segala keluhan dan belajar mencari solusi untuk diri sendiri. Itulah yang sejak sd aku pelajarin. Di saat kita tidak mengenal siapa-siapa, di saat kita berada di lingkungan baru, menulislah.

Ingatan itulah yang membawa ku untuk mencari info tentang lomba menulis. Perbedaan kota tidak menghalangi tangan ini untuk merangkai kata demi kata. Karena kita tidak pernah tahu usaha yang mana akan tersangkut jaring. Unexpected Ramadhan ini membawa ku untuk meyakinkan diri jika aku bisa menggapai impian ku meraih rejeki yang tak terduga.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...