May 21, 2016

Kopi dan Kita

Karya: Salma H

Datang ke warung jam 7 pas, duduk di pojok ruangan, membuka laptop, lalu mengetik. Selalu begitu. Pria itu mungkin tidak menyadarinya, tapi aku selalu memperhatikannya. Aku pun tahu apa yang akan dipesannya.

“Mba, kopi pahit ya! Satu.”, katanya sambil melambaikan tangannya.

Aku pun mengangguk. Tuh kan!

Ibu, Anak dan Kopi

Karya: Kartika

"I owe you something, this is for you. The special one." Kusodorkan secangkir kopi robusta dengan racikan dua-satu. Dua sendok kopi satu sendok gula.

"Thanks, Madam."

Setelah ia mencecap barang satu teguk, dihelanya udara, "Enak. Pasti kopi mahal."

May 20, 2016

“Secangkir Kopi Hangat”

Karya: Rizky Novitasari

Sudah berulang kali gadis itu menghembuskan nafasnya secara pelahan untuk meredakan emosinya. Namun masih belum berhasil. Mungkin, karena ketukan pintu di kamarnya yang tak kunjung berhenti. Bahkan justru, semakin keras. “Labiza! Buka pintunya!”
            Gadis di dalam kamar itu lebih memiolih untuk menutup telinganya rapat-rapat, dibandingkan harus menuruti perintah dari wanita di balik pintu itu. Ia terus merapal doa agar ketukan itu dapat segera berhenti, agar ia bisa meredakan emosinya untuk tidak melakukan sesuatu yang buruk kepada wanita di balik pintu kamarnya. Ia terus merapalkan doanya di dalam hati. Namun, wanita itu tak pernah menyerah untuk mengetuk pintu kamarnya. Bentakan juga ketukannya terdengar semakin keras saja. Tubuh gadis itu menjadi gemetar, merasa muak dengan suara yang sedari tadi didengarnya.
            Kepalanya mendongak, menatap jendela kamarnya yang sudah tertutupi hordeng berwarna coklat kayu. Sebuah ide terlintas dalam kepalanya. Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya, berjalan perlahan menuju jendela kamarnya, mengabaikan segala teriakan dari luar kamarnya. “Labiza! Keluar kamu!”

Ketua Komunitas Kafe Kopi, Hari Ini Resmi Mengundurkan Diri



Satu tahun adalah waktu yang cukup untuk berkarya di ruang yang sama. Satu tahun adalah waktu yang panjang untuk berbagi cerita bersama ratusan ribu orang. Satu tahun adalah 365 hari.

Seperti biasa, izinkan saya untuk mengucap salam terlebih dahulu,

Assalamualaikum Wr Wb

Apa yang Kamu Pikirkan?


Oleh: Ni Komang Ria (Penulis Lepas)

Apa yang kamu pikirkan tentang secangkir kopi?
Hitam? Tidakkah malam lebih legam
Pahit? Tidakkah hidup lebih rumit
Kesat? Tidakkah senyap lebih pekat
Candu? Tidakkah ragu lebih merindu

Kopi Coklat

By. Inet Bean

Ketika kenangan pahit dan pahit kopi bercampur. Maka akan menghasilkan suatu ketiadaan. Bagai negatif bertemu negatif akan berdampak positif.
Tidak biasanya, aku pulang jam tiga dini hari. Rasanya begitu sesak untuk bernafas  dan dingin menyergap jiwaku. Jalanan masih lengang. Di sudut-sudut gelap menawarkan rasa magis.
“Baru pulang Gie?” Ucap Jundi mengagetkan. Dia duduk diantara redup ruang tengah.
“Ya,” jawabku singkat. Lalu merebahkan tubuh di sofa bersebelahan dengan Jundi.
“Mana titipanku? Jangan bilang lupa lagi,” ujar lelaki di sebelahku masih dengan tatapan ke layar laptopnya.
“titipan apa?”
“Kopi coklat.”
“Kopi coklat?”
“Ya, lupa lagi?”
“Bukan. Aku gak tau apa itu kopi coklat?”
“Sedini hari masih bercanda aja. Gih sana molor.”
Aku tidak peduli dengan titipan kopi coklat. Ragaku terlalu lelah. Tak ingin otakku bekerja keras mengingat titipan Jundi. Jadi aku memutuskan ke kamar menyelami dunia mimpi.
***

Ekspektasi Bulan dan Kopi

Karya : April Cahaya

“Aku tidak akan pernah tahu kenapa kamu sangat menyukai kopi dan mengagumi bulan.  Karena selamanya aku tidak akan pernah menjadi bulan yang akan menyinari hidupmu, tapi aku hanya sebagai kopi yang menemanimu saat kau kesepian dan bosan.”

            Kepulan asap dari secangkir kopi yang dipegang oleh Bulan memberikan aroma khas kopi arabica yang menggugah selera. Menjadi penyemangat pagi yang selalu ia nantikan setiap harinya.
            “Oi, dilarang ngelamun pagi-pagi gini.” ocehan dari cowok tampan seberang rumah selalu menjadi rutinitas yang tidak pernah absen dari hidup Bulan.
            “Ssstt... berisik.” Bulan menggerakkan tangannya dengan isyarat menyuruh diam cowok itu.
            “Idih sok banget kamu, Bul.”
            “Tuan Muda, diem.” sahut Bulan lagi.
            Perumahan sederhana yang saling berdekatan membuat antar tetangga bisa berinteraksi sangat dekat meskipun mereka berada di rumah masing-masing. Layaknya Bulan dan Putra, mereka bertetanggaan dari setahun yang lalu. Ketika orang tua Bulan pindah di komplek perumahan ini, mereka menjadi semakin akrab. Apalagi jarak rumah mereka yang bisa dibilang hanya sejengkal. Seperti itulah rutinitas pagi mereka saling sapa, ejek dan menyindir.
--

Yuk ikutan #ParadeKopi!



Untuk meramaikan Kafe Kopi, yuk kita ikutan #ParadeKopi!

Apa sih #ParadeKopi itu?

#ParadeKopi adalah sebuah tantangan untuk penulis aktif maupun penulis lepas kafe kopi untuk membuat naskah (prosa, puisi, fiksimini, cerpen) dengan kata kunci “kopi”.

Sederhana dan simple kan?

Ya, memang kami mengharapkan tulisan-tulisan yang ringan tapi berkualitas. Maka dari itu, #ParadeKopi hanya berlangsung SATU HARI saja, yakni pada tanggal 20 Mei 2016.

Kirimkan naskah kalian ke kafekopiindonesia@gmail.com dengan subject “Paradekopi_nama”. Ingat, hanya satu hari ya :)

Naskah yang masuk redaksi akan ditayangkan di blog dan seluruh sosial media Kafe Kopi.

Kami tunggu ya, salam.


Kue Nastar


Karya: Eni Ristiani


            RASANYA ada hal yang ingin aku bebaskan. Ada beban yang selama ini menyinggapi hati dan perasaanku, seolah-olah ingin kuhancurkan dengan tanganku. Namun sayangnya sesuatu itu terasa kabur, tidak jelas wujudnya. Rasanya membingungkan. Ini hanyalah perasaanku atau ilusiku saja? Atau obsesi yang sejak dulu memang ingin kuhancurkan?
            “Gilang!” Cubitan di lenganku tiba-tiba saja mengejutkanku dan tanpa sengaja kujatuhkan cangkir kopi yang terletak tak jauh dari tanganku.
            “Kamu tuh kenapa sih. Aku dari tadi cerita ini itu tapi kamu nggak dengerin. Kamu ngelamun? Ngelamunin apa?”
            Resti. Gadis berlesung pipit yang ada di depanku ini kini menekukkan bibirnya. Merasa jengkel karena tak kuperhatikan.
            Aku menggeleng, mencoba menampilkan satu garis senyum untuk menutupi pikiran-pikiran aneh di otakku.
***
           

Rasanya Manis


Oleh: Alief Wheza

Satu cangkir kopi datang. Asap mengepul di atas cangkir, menjadi penanda kalau kopi itu masih hangat. Aku berterimakasih pada waiter yang mengantarkan kopi ke meja.
Aku mengambil cangkir dan menyeruputnya perlahan.
Manis.
Aku ingat pernah mengantar dua cangkir kopi yang sama, dan waktu itu kopinya masih terasa pahit. Waktu itu berlalu begitu cepat, begitu hebat sampai bisa menghapus rasa pahit pada kopi yang kupesan.
Aku menatap dinding kaca di samping mejaku. Embun hujan yang menutupi pemandangan mengingatkanku pada masa tersebut.

May 19, 2016

Jika Aku Bertemu Tuhan

Karya: Jumiati Warsih (Penulis Lepas)

Aku ingin pergi dan tak kembali lagi
Batin ku seperti tak lagi mendapat cahaya Ilahi
Aku lelah menjalani peran ku disini
Aku seperti gugusan bintang yang redup tertutup awan hitam

May 18, 2016

PHOTOGRAPH

Karya: Zulfikar (Penulis Lepas)

PRAAAANNNGG!!!! Suara piring pecah kembali memenuhi rumah.

“CUKUP KAK!! INI TUH HIDUPKU!! KAMU NGGAK BERHAK IKUT CAMPUR DALAM HIDUPKU!!” Teriak Dinar nyaring. Bahkan teriakannya mengalahkan bunyi piring yang barusan ia pecahkan.

“DINAR!! AKU SEPERTI INI CUMA KARENA INGIN KAMU SUKSES!! KENAPA KAMU JADI MARAH SAMA AKU?!!” Teriakan balasan dari kakak Dinar, Alwan bahkan terdengar lebih nyaring. Teriakan mereka berdua sampai mampu menarik perhatian tetangga sekitar rumah mereka.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...