March 21, 2016

Bisik

Karya: Sayogand

hai (ssst)
sedang apa? (boleh aku daratkan luka di lekuk matamu?)
sedang jatuh cinta? (pada satu dari dua yang menyatu?)
oh maaf mengganggu (ya, tanpa bisik)

bila cinta adalah seutas darah di udara
aku akan jadi yang pertama
yang sabutkan parang seraya berang
yang sabitkan sadar tanpa kelakar

tak sadar?
kau cintai dia
dia cintai orang lain
dan aku mencintaimu
tanpa ada yang mencintai lagi

mengapa seutas cinta putus di punggungku?

aku turut bahagia (dasar bodoh)
teruslah kau cintai dia dan cintanya yang ada (dirimu ada di sini, di masa depanku)

tapi ingat,
aku mencintaimu saban senja menjelma (ya, tanpa bisik)

March 18, 2016

Why?

Karya: Haruka


Hujan ....
Aku muak dengan hujan.
Hujan merebut dirimu.

March 17, 2016

Dia atau Aku

Karya: Alyda Elis Damayanti



Bukankah hujan tak pernah khianati tetesnya?
Selalu bersama jatuh ke bumi
Jadi untuk apa merutuki rintik yang bermelodi syahdu?
Jika mereka tetap cinta akan bumi yang lusuh
Mereka bukan menghantam
Hanya penggebu dari mendung yang kelabu

March 16, 2016

March 15, 2016

Bersama Lawang Sewu


Karya: Eni Ristiani



            DARMA.
            D-a-r-m-a!
            Sudah berapa kali aku merapal dan mengeja nama itu? Kurasa, tak terhitung. Ratusan, atau bahkan ribuan kali aku mengejanya? Namun hingga saat ini, aku belum mengerti… sihir apa yang digunakan orang itu sehingga membuat otakku yang lelah ini masih sempat memikirkannya?
            “Ke Lawang Sewu yuk, Nay!”
            Bahkan beberapa kalimat yang malam ini menggangguku muncul. Seolah ada ribuan stereo radio di gendang telingaku. Atau boleh jadi, suaranya sudah telanjur terpatri di otakku?
            “Acaranya masih berlangsung lho, Ma.”
            Senyum sederhananya kadang menjadi amunisi yang membuatku tak berani menolak apapun ajakannya. Seperti saat ini.

March 14, 2016

LANGIT IBUKOTA

Yuk Kirimkan Karyamu!


Karya: Leni

Teduh menjadi gersang saat oksigen hasil pembakaran sempurna dari proses fotosintesis tidak sempat sampai ke atmosfer karena hak atas itu lebih dahulu direnggut oleh beton-beton yang menjulang ke langit.

March 13, 2016

LINGKARAN MIMPI

Yuk Kirimkan Karyamu!


Karya: Leni (Penulis Lepas)

Di sana ada jalan setapak, melingkar membentuk garis mimpi
Ditemani dinding-dinding alam, memagari beranda dari kisah yang telah terukir

Desahan napas yang berpacu melewati batu cadas, namun sesekali kerikil mengintai
Debu-debu mimpi berterbangan, terlepas, lalu perlahan kembali berkumpul membentuk sebuah gumpalan yang siap dibenturkan pada takdir

Rangkaian huruf telah disusun menjadi ayat-ayat yang eliptis dan misterius
Dikirimkan dalam antrian panjang menuju suatu tempat yang memastikan sebuah kemenangan

Lamat-lamat kuperhatikan, semuanya berjalan mendekat kearahku.
Namun, tak kunjung sampai
Aku lepaskan kerut yang menyinggahi kening ini
Kemudian garis senyum menyambut dan berkata "kemenangan hanya untuk mereka yang mengepalkan tangan dan berlari ke arahnya"

(26/02/2011)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...