February 16, 2016

Sebuah Puisi

Karya: Desya

Di saat semesta mulai tertidur
Aku masih saja terjaga di sini

Menyusun kata demi kata
Merangkai larik demi larik
Mengindahkan sebuah puisi

Semuanya tertata rapi untukmu
Ya, kamu
Karena kamu adalah puisiku

February 13, 2016

Dia dan Gadis Itu


Yuk kirimkan karyamu!

Karya: Bacels-00

Gelap membalut malam bersama sunyi yang erat melekat. Sunyi yang membuat debar jantungku seolah menggema di ruangan ini. Kurang dari semenit yang lalu aku terjaga dari istirahat terburukku. Menyibak selimut tebal, lalu diam terduduk.

Aku tak yakin ini sudah pagi. Kuraba meja kecil di samping tempat tidurku. Kuraih jam yang detaknya jauh lebih lambat dari nadi di tanganku. Jarum kecilnya bergerak perlahan. Sangat pelan. Masih pukul tiga pagi. Aku tahu, tadi hanya mimpi buruk. Tapi, apa itu? Kuingat kembali semuanya. Bulir-bulir peluh merambat di dahi hingga pelipis. Anak rambutku sudah basah sedari tadi.

“Tidak! Jangan! Bodoh jangan disini! Ini berbahaya!”. Dia di sana, dengan pemantik di tangannya. Aku tak tahu ia sedang apa. Tapi, apa itu? Dia bicara dengan siapa? Aku disini. Hey! Siapa?

Gadis itu. Gadis yang seolah pernah kulihat. Gadis itu hanya diam di tempatnya. Terlihat mengabaikan ucapan pemuda di dekatnya. Ia hanya diam mematung. 

“Hey! Menjauh! Ke dalamlah! Kalau aku bilang ke dalam ya ke dalam! Kau ini bodoh atau apa? Ini berbahaya! Dengarkanlah aku! Ada apa denganmu? Kenapa akhir-akhir ini kau bodoh! Menjauh! Ini berbahaya untukmu!”. Suara itu terdengar lagi. Masih dari orang yang sama. Wajahnya pucat. Pemantik di tangannya menyala tanpa ia perintah. Ia panik. 

Orang-orang di sekeliling sama sekali tak peduli.Sibuk dengan urusannya. Lalu aku? Aku tak tahu siapa aku? Aku melihat semua ini. Itu artinya aku bukan salah satu dari mereka. Bukan gadis yang ingin ia lindungi. Apa ini? Aku ini apa?

Fajar merangkak dari pembaringannya. Cahayanya masih pudar. Sangat pudar. Hanya terlihat biru terang yang bergradasi dengan kuning muda. Sangat mempesona. Aku mendekatkan diri ke arah jendela. Kubuka perlahan tak ingin seorang pun tahu. Aroma rumput yang basah dibasuh embun pagi tercium sangat pekat. Merecup rongga hidung.

Aku melipat tangan. Menyandarkan kepalaku di atasnya. Hujan yang basah berteduh dimataku. Menggenangi pelupuk dan jatuh begitu saja. Kali ini, semua sudah jelas. Tak akan kupungkiri lagi. Tuhan sudah menjelaskan dengan sangat jelas. Aku tahu. Dia bukan milikku dan memang bukan untukku. 

Gadis itu. Siapa pun dia. Kau pasti lebih mencintainya.

February 11, 2016

Hilang dan Terhina


Yuk kirimkan karyamu!

Karya: Rizahlevi

Pernahkah kita merasakan hilangnya sebuah harapan
Harapan yang muncul sekelibat, hingga nafasmu terasa berat
Sekedar ingin merebahkan tubuh pun
Untuk melangkah lebih

Waktu yang kita habiskan dalam pencarian makna
Tentang siapa diri kita sebenarnya?
Bahwa kita, manusia yang telah ditakdirkan oleh tuhan
menciptakan dan diciptakan

Adalah sebuah keangkuhan, ketika kita hanya duduk dalam diorama
Kita bukanlah mereka
Tampil sebagai simbol suatu kemewahan
Atau lahir dari keturunan monarki
Atau menjadi terasingkan , atas rasa ketidakmampuan yang mendera

Melalui pemikiran pemikiran itu,
Kita menikmati masa yang terlintas oleh waktu
Menggeser segala pembicaraan
Menjadi sebuah alkisah
Atas sebuah perjuangan yang terlewati

Sederhana, Sebenarnya, Sekedar berikan arti dan warna sekitar
Dan berlarilah kawan
Saat kau rasa di penghujung akhir cerita

Segalanya bukanlah akhir
Ini adalah awal dimana kita mampu melesat menuju titik terjauh
Dimana kita dapat memberikan arti di setiap langkahnya
Di sebuah tempat yang pernah kita singgahi bersama

Sejarah  telah terukir hari ini
Bahwa saat ini, kita semakin jauh lebih kuat dari apa yang pernah di bayangkan
Begitu juga pada masa yang akan datang

Di narasi oleh lisan yang merdu
Di tegakkan oleh kasih sayang yang hangat
Dieratkan oleh tali persaudaraan yang kuat

Lalu di satukan oleh cinta yang abadi
Atas segala doa dan harapan kepada Penguasa Langit dan Bumi
Segala makna yang berarti untuk kita


February 9, 2016

Dalam Diam

Karya: Desya

Kau adalah sebuah puisi yang tak pernah ku bacakan
Sebuah melodi yang tak pernah ku alunkan
Sebuah rahasia yang tak pernah ku rasankan

Tanpa kau sadari
Perlahan dirimu menyelinap ke dalam hidupku
Menjadi cinta baru yang ku akui dalam diam

February 7, 2016

Pengumuman Pemenang Kisah di Bulan Januari 2016


Hai guys! Whoaahahaa.. akhirnya tiba saat yang ditunggu-tunggu sama kalian nih. Pengumuman pemenang lomba Kisah di Bulan Januari 2016 oleh Kafe Kopi yang disponsori buku "This is (not) Love" karya chef terbaik dari kafe kami.

Aku sangat senang bisa menjadi juri untuk lomba besar yang diadakan KafeKopi ini. Awalnya agak kaget karena ditunjuk tiba-tiba sama ownernya buat memilih tiga terbaik dari para peserta lomba. Aku menyetujuinya, dan sebagai gantinya, aku pengen membuat satu postingan spesial buat kalian. 

February 5, 2016

SEWINDU

Karya:Ariani




Aku berdiri didepan rumahku dan memandangi rumah yang tak jauh dari rumahku. Rumah bernuansa modern juga beberapa bunga dan tumbuhan indah mengitari halaman rumahnya. Oh ya, perkenalkan namaku Daffa Maulana Nugraha. Usiaku masih 22 tahun. Hanya berbeda 3 tahun dengan ‘Dia’. Aku anak tunggal dan kedua orangtuaku berada di Batam sedangkan aku di Jakarta.

Seperti biasa, setiap pagi aku selalu mendatangi rumah ‘Dia’. Ya dia. Siapa lagi kalau bukan Sheryl Anastasya. Gadis 19 tahun yang selalu membuat hariku lebih semangat. Aku berjalan menuju rumahnya yang hanya berjarak 5 meter dari rumahku. Dekat bukan? Itulah yang membuatku lebih mudah memandanginya.

Kini aku sudah berada didepan rumahnya, jantungku bagaikan orang yang habis marathon. Berdetak melebihi batas. Mungkin kalau ada polisi lalu lintas jantung, jantungku sudah terkena tilang karna berdetak sangat cepat. Akupun mengatur nafasku agar tidak terlihat gugup dihadapannya juga menyiapkan senyum terbaikku.

February 4, 2016

Di Februari, Ada Kejutan Manis untuk Para Peserta Lomba Menulis Songfiction "Kisah di Bulan Januari"

Sudah menjadi kebiasaan Kafe Kopi sejak mengadakan event perdana, Unexpected Ramadhan, untuk memberikan kejutan bagi para peserta lomba. Apa kejutannya untuk event kali ini?

Izinkan saya memberi salam dulu,

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkatNya lah kita semua bisa  mengadakan acara lomba menulis nasional bertajuk "Kisah di Bulan Januari".

Januari adalah bulan penuh kesan. Tidak hanya untuk Anda, tetapi juga untuk kami. Karena di bulan inilah, Kafe Kopi berhasil bangkit setelah beberapa bulan lalu berhenti berkarya akibat masalah teknis. Di Januari pula, Kafe Kopi meluncurkan buku perdananya, "This Is (not) Love", yang bisa Anda pesan melalui situs mitra kami, nulisbuku.com. Silakan klik tombol di bawah ini untuk memesan bukunya. 

February 3, 2016

Harus Berakhir

Karya: AsKa



Nama lengkapnya adalah Adi Syahputra. Ia lebih sering di panggil Adi oleh teman sekelasnya. Adi adalah siswa terpandai di salah satu SMAN terkenal di kota Bandung. Wajah Adi lumayan tampan dan karena itu banyak wanita tergila – gila kepadanya. Namun, Adi tidak terlalu memperdulikan ketenarannya. Ia lebih memprioritaskan pendidikan dan lebih sering mengasingkan diri dengan bukunya. Kehidupan Adi sedikit berubah ketika mulai mengenal sosok seorang perempuan tomboy bernama Sarah. Cewek yang mampu meluluhkan hati Adi dari ratusan cewek di SMAN terpavorit itu.

Adi jadian dengan Sarah pada Januari di musim hujan. Di bawah pohon ketika hujan. Adi menyatakan perasaannya kepada Sarah. Dengan seikat bunga dan baju yang basah Adi bertekuk lutut sambil memegang tangan Sarah. Ia memperlakukan Sarah yang tomboy layaknya seorang wanita anggun yang sangat berharga dan Sarah langsung menerimanya tepat pada  tanggal 11 Januari 2014. Adi sangat menyayangi Sarah, begitu pun sebaliknya. Tiada hari tanpa bertemu. Ke kantin, perpus, musola, berangkat, pulang, kemana pun mereka selalu bersama.

Namun, karena hal itu prestasi Adi menjadi sedikit menurun. Kini peringkatnya menjadi siswa terpandai ke dua di sekolah itu. Hal itu yang membuat Adi sedikit menjauhi Sarah. Yang dulunya selalu bersama, kini mereka seakan terpisahkan suatu penghalang yang membuat mereka berpisah. Hal tersebut yang membuat Sarah kian bertanya – tanya. “Ada apa dengan Adi ?, mengapa ia berubah secepat ini ?, Padahal Hubungan kami baru 5 bulan. Apakah ia bosan kepadaku ?”, tanya Sarah dalam hatinya.

Adi menjauhi Sarah bukan karena Ia sudah tak menyukai Sarah. Melainkan, karena Ia ingin memperbaiki nilai – nilainya yang menurun. Sekarang mereka sudah kelas 3 SMA dan mendekati Ujian Nasional. Karena itulah, Adi lebih memprioritaskan pendidikannya tanpa mempedulikan perasaan pacarnya. Karena tidak ada kejelasan dari Adi. Akhirnya, Sarah Mencari tahu sendiri, apa ? dan mengapa ? sikap Adi menjadi seperti itu.

Menanti Sembilan Januari

Karya: Ratih Kemala



Aku mengalah. Diawal minggu ini aku mencoba meneleponnya. Melawan ego dan gengsiku selama ini demi hubungan yang tak bisa dibilang seumur jagung. Berkali-kali tak ada jawaban, tapi kali ini tak bisa dihubungi.
Ketika itu malam minggu. Sekitar pukul sepuluh malam. Tiba-tiba Dira kirimkan sebuah pesan singkat untukku:
Hi Sayang, maaf ya, saat ini aku sedang butuh waktu bareng teman-teman. mungkin kamu juga rasain. kita terlalu lama pacaran. jujur aku mulai bosan. menurutku solusi terbaik saat ini adalah kita pisah saja.
            Aku hanya terpaku. Terbayang olehku Dira yang selama ini tak bisa tidur tanpa ucapan selamat malam dariku. Dira yang tak akan pernah bisa memotong kukunya sendiri tanpaku. Dira yang selalu merengek padaku jika tak kugandeng saat kami jalan bersama. Dira adalah Baby Hui-ku, yang sudah ku asuh sejak masa SMA. Delapan tahun lamanya. Rasanya tak mungkin.
Ku tahan air mata yang hampir tumpah. Memberanikan diri membalas pesannya. Ku buat dengan yakin tanpa penolakan, tanpa pembelaan.
Oke Dira, kalau memang itu yang kamu mau, aku terima. Mungkin ada benarnya kita harus pisah.
**************************

Januari Ketiga

Karya: Anindya
 



“Hai, gimana kuliah mu? Kesan buat semester pertama kuliah, atau semester pertama tinggal di Surabaya, mungkin? Saya nggak nyangka kita bakal ketemu lagi, di kota yang jauh banget dari Ibu Kota, tempat sekolah kita dulu. Maaf saya nggak negur kamu tadi. Jujur saya masih kaget bisa ketemu kamu di acara kampus hari ini. Saya juga nggak mau ngerusak momen kamu yang kelihatannya lagi jadi tourguide buat sahabat setiamu. Kalau boleh, minta waktu kamu sebentar, bisa? Saya nunggu di bangku taman sebelah barat. Seselesainya kamu dan temanmu aja, saya nggak mau ganggu kalian. –salam, Muhammad Aditya.”

“Isinya apaan, Ra?” tanya Riska sambil mencoba mengintip dari balik bahu ku.
Aku tidak memperlihatkan isi suratnya.

“Emang kamu kenal dia, Ra? Katanya alumni SMA kita dulu, angkatan sebelum kita. Tapi aku nggak pernah tau sih, soalnya nggak masuk di daftar K3 ku, alias Kakak Kelas Kece, hehe.” Terang Riska.

“Dasar,” selorohku.

“Kok, dia sampe ngasih surat ke kamu? Pake nitip-nitip segala lagi. Yaa bukannya keberatan apa gimana sih, kepo aja,” potong Riska.

Aku menghela napas, dalam hati memutuskan bahwa sebaiknya aku ceritakan saja kejadian setahun yang lalu. Ya, bulan Januari yang lalu. “Nanti ku ceritain sesuatu, tapi nanti.”

***

February 2, 2016

Partikel January dalam Ampas Kopi

Karya: eskade



Aku adalah gadis penikmat kopi. Kopi adalah teman, pacar sekaligus suri tauladan bagiku. Bukan kafein yang membuatku mencandu secangkir kopi, bukan juga aroma kuatnya yang khas, melainkan pahitnya yang mengingatkan. Mengingatkan akan realitas bukan ekpektasi. Percaya atau tidak, rasa pahit tercipta agar manusia mensyukuri setiap milidetik kehidupan yang Tuhan berikan. Aku percaya, pahit tidak berarti buruk. Itu pelajaran pertamaku tentang kehidupan. Karena ada pahitlah, manis ada. Bukannya setiap hal diciptakan berpasang-pasangan? Jika kamu bukan manis, berarti kamu pahit. Jangan disesali, jadilah rasa pahit yang bijaksana. Lebih baik ketimbang rasa hambar yang abu-abu.

Keyakinan keduaku adalah adanya partikel ampas kopi dalam kehidupan ini. Setiap hela nafas panjang yang lelah, setiap garis luka yang membebankan, juga setiap cinta yang meragukan ada dalam ampas kopi. Mengendap. Tidak tersentuh. Tidak diinginkan, tapi nyata adanya. Tersisa di dasar cangkir setelah bagian ternikmatnya habis. Yah, manusiawi jika bibir lupa hikmahnya ampas kopi, layaknya seorang anak yang menjadi konglomerat lupa karena siapa dia terlahir ke dunia ini. Tapi lihat ini, adakah orangtua yang berpikir: daripada aku melahirkan konglomerat yang melupakanku, lebih baik aku melahirkan pemulung yang selalu mengingatku. Aku rasa tidak ada, ampas kopi juga tidak. Ia hanya mengendap dan nrimo.

Tentu saja dengan ideologiku sendiri, aku selalu mengaduk sisa kopi terakhirku agar ampasnya tercampur, kemudian meminumnya tanpa sisa. Maaf, tapi aku bukan substansi kopi yang lupa pada ampasnya dan sebagai tambahan, aku bukan seorang konglomerat yang lupa daratan.

Menjadi Champion di Tahun Baru

Karya: Theressa Butar-butar




            Pada perlombaan Bakat Anak Bangsa, Riana sebagai ketua dari tim Blue Sky menatap miris temannya yang semangat. Riana merasa bahwa tim mereka tidak pantas untuk menang. Banyak perlombaan yang mereka ikuti, namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Kali ini, mereka akan bersaing beberapa tim termasuk, tim Merdeka yang selalu lolos menjadi pemenang. Riana hanya pasrah menatap tim Merdeka yang merendahkan mereka. Namun, tidak bagi teman-temannya, mereka tetap semangat menuju panggung dan menunjukkan bakat mereka. “C’mon, guys, malam tahun baru ini  , mari kita bersama-sama berjuang!” ucap Noel, sahabat Riana.

Coffee Death

Karya: TO

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Sepuluh hari telah berlalu. Aku hanya menyibukkan diriku dengan kegiatan kampus dan pergi jalan-jalan dengan teman-temanku. Sesekali aku handphone berharap Dimas membalas pesanku. Namun tidak ada kabar darinya setelah malam pergantian tahun. Besok adalah waktu untuk penjanjian kami. Aku tidak bisa tidur pulas malam ini. Beribu-ribu pertanyaan berputar dikepalaku. Aku merasa frutasi. Aku keluar dan duduk di balkon kamarku. Kutatap langit malam yang gelap gulita itu. Apakah kita sedang menatap bintang yang sama? Apakah kita sedang memikirkan hal yang sama? Apakah kita akan bertemu?

“Arghhh… Kenapa aku ini? Menepuk kedua pipiku. “Sadarlah Dian! Sadar! Pasti sesuatu yang baik akan terjadi. Percayalah!” Aku kembali memasuki kamarku dan tidur dengan menutup seluruh badanku dengan selimut.


OH RAMA

Karya: Alri



Aku mempunyai seorang sahabat, Rama namanya. Dia adalah teman bermainku sejak kami sama-sama masih balita. Kami lahir di bulan Januari di tahun yang sama. Rama sehari lebih tua dariku. Ketika kelas 3 SD, Rama sekeluarga pindah rumah karena ayahnya dipindahtugaskan. Ibuku bilang Rama pindah ke Malang. Aku sangat sedih pada saat itu. Setiap hari aku bertanya kepada ibu, kapan Rama akan datang dan bermain lagi bersamaku. Ibu selalu menjawab nanti kalau ayah Rama sudah selesai bekerja, mereka semua akan kembali lagi ke Bandung. Kini aku sudah menjadi mahasiswa. Hari ini adalah hari pertamaku menjalani masa perkenalan kampus. Banyak orang yang tidak aku kenal.

KENANGAN JANI

Karya: Alri



20 Januari 2016
Sebuah pesan masuk:
Hai, Jani. Apa kabar?
Selamat ulang tahun, ya.
Semoga kamu sukses meraih semua impianmu, senantiasa dikelilingi oleh kebaikan, disertai hati yang selalu cantik, tentunya dengan keberkahan hidup di setiap detiknya.
Maaf, aku masih belum bisa menemuimu untuk bilang ini secara langsung. Aku masih di Medan bersama dengan tumpukan berkas-berkas kantor. Semua ini sangat membosankan, serius!
Aku selalu merindukanmu, Jani. Hope we can meet as soon as possible. J
Ah, dia lagi. Ketika aku sudah berusaha untuk melupakannya, dia justru datang seenaknya dengan pesan sederhana yang indah tanpa tahu bahwa dia sudah mengacak-acak hati yang dengan susah payah kutata setelah memutuskan untuk mengeluarkannya dari hatiku. Arrrgh!!!
***

CINTA TERLARANG

Karya: Abhy Azra



Fiuuuh...

“ikh! Gak usah nyebelin kenapa sich?” aku sebal setengah mati, bukan kaget karena tiba-tiba Ares meniup telingaku dari belakang, tapi karena bosan dengan berbagai macam teror yang dilakukan Ares padaku.

“Hahaha... sewot banget sich? emang gitu ya kalo jomblo, bawaannya pengen ngambeeek terus hihihi..”

Nach tuch!, dia selalu mengait-ngaitkan segala sesuatu yang salah dariku dengan statusku yang  J.O.M.B.L.O, memangnya kenapa? Apa wajahku terlihat sangat menderita? Tidak kan? Heuh!!.

“Ares, berhenti donk usilin venus. Entar tugas kita gak kelar-kelar kalo kamu ganggu dia terus” Bela Rose kepadaku. Aku menjulurkan lidah padanya. Ares terpingkal melihatku.

Rasa Sendiri

Karya: Seaa



“Kamu mau gak jadi pacarku? Kalo nggak, biar aku aja yang jadi pacar kamu”
Suara berat disertai tawa kecil di ujung sana begitu lantang dan hangat terdengar sehingga mampu membuatku memerah hingga tak tahu harus menjawab apa. 
Perkenalan singkat yang lebih aktif kami lakukan via chat dan video call ini, telah berhasil membuat setidaknya tiap jam dalam sehariku terasa begitu menggelikan. Aku tidak menyangka rasa nyaman dapat hadir begitu cepat hingga berhasil menggeser kenangan buruk percintaan yang berjanji tidak akan aku ukir lagi.

February 1, 2016

(Terlalu) Istimewa

Karya: Yazid Hidayat



Kamu bukan siapa-siapa! Kamu tidak berharga sedikitpun! Enyahlah dirimu! Bersama yang kamu bilang perasaanmu itu! Dasar egois!. Dari jauh samar-samar Zadin melihat teman-teman, guru, kakak, bahkan orang tuanya berjalan manjauhi dirinya sambil tertawa. Hiduplah sendiri! Kalau kamu tidak butuh kami! Bertemanlah dengan dirimu sendiri! Dasar tidak tahu diuntung! Teman macam apa kamu! Kamu tidak butuh kami, kami tidak butuh kamu!. Rasa sakit semakin menunjukkan kesedihannya, ia lemas tidak percaya teman-temannya akan pergi meninggalkannya sendiri, bahkan kakaknya yang paling ia sayangi dan paling menyayanginya pun pergi. Aku sudah bosan menjagamu! Tidak ada gunanya aku jadi kakakmu! Lebih baik aku pergi daripada harus menanggung derita ini!. Tanpa sadar Zadin menitikkan air mata, sudah hilang tanpa bekas semuanya, kini ia benar-benar sendiri. Tak apa Zadin, aku ada untukmu… Memang mereka membencimu… Bencilah mereka! Katakan! Aku benci kalian!!!. Zadin berteriak dengan lantang, “Aku, TIDAK membenci kaliaaaaaann!!!”.
“Tak apa Zadin, aku disini. Zadin, ini hanya mimpi buruk, sadarlah”. Zadin membuka matanya dan tersadar dirinya berada di dekapan sang kakak. “Mimpi buruk lagi, yaa.. Hayoo, tadi malam lupa baca doa nih, Zad, Zad…”. “Kak, aku kangen bapak sama ibu…”, kata Zadin seketika mengejutkan Zinda, kakaknya. Ia berpikir pasti Zadin tadi bermimpi tentang mereka. Zadin melihat jamnya yang sudah menunjukkan jam setengah enam, kemudian ia bersiap-siap mandi, sarapan, dan pergi ke sekolah, tak lupa ia mencium tangan sang kakak. “Hati-hati di jalan, jangan lupa makan bekal..!” Seru Zinda. Tak berapa lama Zadin berangkat menuju sekolah yang jaraknya lumayan jauh untuk anak SMP seperti dia, sekitar setengah kilo hanya dengan berjalan kaki.

Hurt

Karya: Dita

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Suara klakson yang turut meramaikan kemacetan di siang hari ini membuat Dhya jengah. Oh ayolah tidak bisakah orang – orang bersabar sedikit. Bulan Januari sudah memasuki musim hujan tetapi tetap saja cuaca pada siang hari ini tidak memberikan rasa dingin sedikit pun.

Drrt… Drrtt…

Getaran ponsel Dhya membuatnya tersadar dari lamunannya, namun ia enggan untuk membuka ponselnya. ‘Ah mungkin juga pesan dari operator’ pikir Dhya, memangnya siapa lagi yang akan mengiriminya pesan pada saat orang – orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing – masing terlebih ia tidak mempunyai kekasih.


Coffee Date

Karya: TO

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Hari ini sangat cerah, matahari bersinar dengan penuh semangat. Aku bersiap-siap untuk bertemu dengan teman SMA ku di sebuah kafe. Kali ini aku memilih dress putih dengan tas selempang kulit berwarna hitam dan flat shoes hadiah ulang tahun dari Ibu. Aku pergi menggunakan bus umum.

Aku sampai lebih awal, yaitu pukul 10.45. Jantungku tiba-tiba berdebar dengan kencang dan terasa sakit. Aku merasakan sesuatu akan terjadi, namun aku tidak tahu apakah itu sesuatu yang baik atau buruk. Aku berdiri sejenak didepan kafe dan melihat nama kafe yang begitu besar dan desain klasik dari kafe “Kofee Shop” ini. Ternyata temanku bisa menemukan teman yang menarik. Aku merasa gugup, tidak hanya karena akan bertemu dengan temanku, tetapi ini adalah pertama kalinya aku datang ke sebuah kafe. Jantungku berdebar semakin kencang, pasti akan sangat memalukan kalau aku melakukan hal-hal yang tidak biasa. Aku memantapkan langkahku untuk memasuki kafe.

Aku membuka pintu masuk. Suara lonceng kecil yang tergantung dipintu membuatku terkejut dan bingung. Ting ting ting ting….

Pemain atau Penonton

Karya: Pilot BPT-P

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


“Bermimpilah Setinggi Langit Bila Engkau Jatuh Engkau Akan Jatuh Diantara Bintang-Bintang” begitulah perkataan The Founding Father kita sang Proklamator Bung Karno, yang sampai saat ini ucapannya-ucapannya selalu membius membakar semangat para pemuda tanah air. Tak terasa penghujung tahun 2015 telah berlalu pergi tanpa sedikitpun perduli, awal tahun sudah dibuka dengan beragam doa keinginan dan harapan akan dapat apa kira-kira kedepannya, banyak kesempatan dan waktu yang saya sia-siakan di tahun yang lalu, terlena dengan gemerlapnya dunia anak-anak muda kota hedonis, terkadang diri ini lupa kemana hidup ini harus dibawa, hampir setiap hari saya terus menambah dosis motivasi namun hanya hiang hanyut ditelan mimpi. Semuanya lebih berantakan ketika nilai IP turun drastis seakan menjadi tamparan keras menegaskan hasil dari semua yang ditabur selama ini, iri rasanya melihat teman-teman lain bergembira dengan nilai di atas rata-rata, apalah daya nasi sudah menjadi bubur tak mungkin lagi kembali, yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana meramunya menjadi bubur ayam yang lebih lezat dari nasi, memperbaiki semuanya dan bangkit tak menyerah adalah solusi kongkrit yang harus dijalani dan mengubur jauh pengalaman kelam di tahun lalu. Teringat ketika salah seorang kawan yang mengirimkan ucapan selamat tahun baru dengan pesan bertuliskan semoga resolusi di tahun ini bisa tercapai, tak ada kata terlambat untuk belajar satu pintu tertutup seribu pintu akan terbuka pepatah untuk para pencari kebenaran pemaknaan hidup yang sesungguhnya, menjadi seorang mahasiswa ternyata mempunyai tanggung jawab yang tidak mudah apabila kita tau betul siapa sosok insan akademis yang menyandang status terhormat tersebut. Mempunyai andil dan sumbangsih dimasyarakat adalah salah satu tolak ukurnya, banyak sumber yang menyebutkan bahwa beribu-ribu sarjana belum bisa terserap menjadi tenaga kerja seakan menghantui pikiran, mungkinkah saya termasuk didalamnya apalagi dengan sumber daya intelektual yang tidak mumpuni ini.

Bangkit bangkit dan bangkit ucapa salah seorang senior panutan saya yang selalu memberi motivasi agar sekali-kali jangan berputus asa, jadikan awal bulan Januari ini sebagai garis start yang baru untuk kembali meraih semua mimpi-mimpi yang tertunda. Roda kehidupan teruslah berputar kadang hidup kita diatas kadang juga turun kebawah, tidak mengapa sekali-kali jatuh asalkan jangan terlalu jauh dan terlalu lama, kadang saya kesal kecewa dan bahkan merasa tidak adil kenapa semua ini terjadi, lupa bahwa Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Masa lalu cukuplah untuk kita kenang, santai saja kawan semua indah pada waktunya, banyak hal-hal yang berbeda yang saya lakukan di awal-awal pembuka tahun ini seperti menghabiskan momem pergantian tahun dengan hanya duduk di teras rumah seakan tak tertarik lagi untuk melihat keramaian kota di malam pergantian tahun, sejumlah target pun sudah saya catatkan semisal dengan target IP yang tinggi, menambah ikut ormawa, sampai membuat slogan ibadah taat aksi kuat prestasi hebat. Teringat ketika mengikuti seminar beasiswa oleh GMB (Gerakan Mari Berbagi) sebuah yayasan yang salah satunya gerakan untuk mencetak para pemuda menjadi manusia di atas rata-rata dimana seluruh kadernya rata-rata adalah mahasiswa penerima beasiswa, dan yang paling saya kagumi adalah Andri Putra peraih beasiswa LPDP Harvard University seorang pemuda pendiri YPAB (Yayasan Pendidikan Anak Bangsa) yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran yang saat ini rasanya sudah mulai luntur, salah satu perkataanya yang menggemanya adalah jadilah dirimu sendiri atau be original yourself nilai itu tidak terlalu berpengaruh karna yang paling penting adalah perubahan.

Terik Januari

Karya: Ni Komang Ria

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Januari. Januari tahun ini mengirim mendung yang tidak berhenti selama beberapa hari, tapi terkadang menyimpan terik yang meneteskan peluh penyebab dehidrasi. Januari, menyimpan banyak harapan musim semi. Tetapi januari tetaplah januari, hanya latar waktu penuh emosi bukan pemeran utama dalam cerita sehari-hari. Maka itu aku disini, duduk di deretan kursi samping jendela di sebuah kafe kopi, menikmati secangkir kopi latte. Sama seperti Januari, maka kopi dalam latte hanyalah latar, ringan didominasi susu. Maka dari itu aku disini, mengundang dan menunggu kamu.

"Tring tring" suara lonceng kafe kopi ini menyadarkan aku dari lamunan. Ah kamu sudah datang. Kesini, aku isyaratkan dengan lambaian tangan. Dengan senyum kamu melangkah perlahan. Aku menunjuk bangku di depanku dengan dagu, mengisyaratkan kamu untuk duduk di hadapanku.

"Pesan apa?" Kamu menunjuk capuucino dalam menu. Pelayan meghampiri kita setelah melihat isyarat memanggil dari lambaian tanganku.

You are My Life and My Love is You

Karya: Vika

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Terbaring lemah dan tak berdaya di dalam ruangan berbau obat-obatan itu dengan jarum infus yang masih tertusuk di tangan kiriku. Seorang diri dengan suara televisi yang ingin bertikai padaku, sangat menyakiti telinga karena kebisingan suara dengan siaran malam tahun baru di belahan berbagai negara termasuk Indonesia. Aku hanya bisa tergulai lemah, tanpa dapat memeriahkan acara tahun baru dengan berbagai kembang api itu. ‘mungkin jika aku tidak ada di tempat ini, aku akan memeriahkan malam tahun baru dengan bom agar lebih greget.’ Pikiran ku mulai aneh.

Alien or Kadal

Karya: Riri

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Ini Januari, sudah saatnya untuk Move On dari semua rasa pahit di waktu yang telah lalu. Segala itu memang tidak semudah yang diucapkan secara lisan, butuh sebuah usaha besar. Move On lebih melelahkan daripada berjalan kaki sejauh Pantai Sidem ke Pantai Popoh di bawah terik matahari. Syafira, begitulah kebanyakkan orang menyapanya. Gadis tujuhbelas tahun yang sangat rapuh layaknya kelopak sakura yang telah berguguran. Semua orang mengira bahwa Dia adalah gadis yang memiliki sebuah keberuntungan, tetapi faktanya keberuntungan tidak berlaku pada kisah cintanya.

Kalau Alien suka sama Dia, Alien boleh kok Pacaran sama Dia. Aku kan bukan siapa – siapanya Alien.

Kejadian itu sudah lama tetapi entah mengapa rasa sakit masih tetap tersimpan rapi di dalam hati Syafira. Apa yang telah dilaluinya bersama seseorang yang disebutnya Alien benar – benar tidak berarti apapun.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...