January 31, 2016

Melodi dalam Sunyi

Karya: Mel

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


“Nananananana…” Oh, hai, aku suka sekali menyanyi. Kehidupan bagiku adalah sebuah musik. Dimana akord adalah suatu kebersamaan dan nada menggambarkan  perasaan. Kita mengulangi hal-hal yang baik layaknya ritme. Menyusun masa depan seperti halnya melodi. Selalu semangat dan juga terkadang lelah ialah cerminan dari tempo. Jika kau selalu tepat dalam melakukannya bak intonasi, hidupmu  akan tersusun rapi dalam suatu keselarasan yang disebut harmoni. Lika-liku dalam hidup akan terjadi jika kau tak memperhatikan lantunan musikmu yang akan membuat iramanya tak layak untuk didengar. Namun jika kau adalah pemusik sejati, kau tak kan pernah putus asa sebelum kau puas meluruskan lika-liku itu. Ya, inilah hidup. Kau harus terus bangkit untuk mencapai keselarasan dalam hidupmu apapun cita mu. 

Musim hujan datang lebih lambat tahun ini. Tak biasanya angin berhembus kencang di pagi hari. Hawa dingin ini telah mengoyak tubuhku, mencabik-cabik urat sarafku dan telah membuat tubuh ini mati rasa. Untung saja hari ini tak ada kelas. Jadi aku bisa bersantai menjelang matahari dengan segelas teh panas dan masih dengan piyama berwarna jingga. 

Sepasang manik hitamku tengah memandangi setiap sudut yang ada di kamar. Ruangan ini terlalu luas untuk tubuh mungilku. Membersihkannya pun mebutuhkan tenaga ekstra. Menjadi mahasiswi yang aktif membuatku tak sempat menjamah ruang-ruang sempit dalam kamarku.  Letih, lelah, lambat-lambat terkuras.

Lesung Pipi

Karya: Dini Hari

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Saat ini adalah Januari dan di luar sana sedang turun hujan. Rasanya mereka mengerti benar apa yang sedang kurasakan sekarang. Karena entah mengapa, di setiap tetesan hujan yang terdengar dari jendela bus kota mengingatkan aku pada suatu rindu. Aku tak tahu mengapa, aku merasa Januari adalah waktu yang melankolis. Dimana hujan adalah waktu miliyaran orang merasa jatuh cinta. Anehnya hanya aku yang paling tak berdaya pada rintik dan aromanya pada bunyi dan melankolinya. Aku merasa malam ini melihat lampu-lampu jalan itu dengan warna-warna yang baru, gerimis yang menyelinap mengurai cahaya jingga seolah-olah semuanya menjelma menjadi sketsa perasaan yang belum sempat terselesaikan. Sketsa itu kemudian memudar, terhapus oleh hujan yang turun disudut mataku. Semuanya terasa mesra tapi hampa! Seolah-olah aku merasa hanya dirikulah yang terpenjara oleh bayangan-bayangan dijalan-jalan yang menjadi puitis karena hujan.

Sinar

Karya: Shonia11

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Lukisan  awan terkadang memberikan bentuk yang teratur, kadang pula hanya membentuk goresan abstrak, namun tetap saja menggores langit dengan karakternya. Arah hidup juga seperti itu kadang terlihat teratur seperti yang kita rencanakan, kadang pula berbelok dari apa yang kita rencanakan, namun tetap saja selalu ada hikmah yang tersembunyi didalamnya, asal kita pandai mengambil celahnya untuk tetap sabar dan

“Begitulah hidup...”, desah wanita berparas jawa dengan karakter  pakaian yang sederhana dan wajah yang sederhana. Masih teringat kabar gembira yang membuat jantungnya berdebar ketika terdengar ada orang tua dari lelaki yang mencoba dijodohkan dengannya. Aisyah begitulah teman-teman memanggilnya. Ia lahir dari keluarga yang sederhana dan didikan yang cukup membuatnya menjadi mandiri. Aisyah ternyata tinggal satu desa dengan lelaki yang hendak dijodohkan dengannya. Iy.. maklum aisyah memang jarang berada di rumah karena ia harus belajar dipesantren sejak SMP sampai dengan SMA. Usai lulus SMA ia juga harus merantau ke Samarinda, untuk bekerja dan melanjutkan belajar. Sehingga tidak begitu banyak mengenal masyarakat didesanya.

Ketika aisyah tahu bahwa ia akan dijodohkan dengan lelaki yang bernama Handika, ia merasa bersyukur kepada Allah, karena ia merasa jodohnya telah dekat. Aisyah menargetkan usai lulus kuliah jika jodohnya sudah datang maka ia akan menikah tanpa menunda. Ia bersyukur kepada Allah sembari berdoa, “ Ya Robbi jika memang ia jodohku limpahkanlah segala keridhoan engkau kepada hamba Ya Allah”.

Lost Parade

Karya: Yusuf

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


“Cel..! jangan kelamaan, nanti keburu sore loh!” Ucapku setengah berteriak di depan pagar rumah salah satu temanku, Celia. Ah iya, namaku Mike. Saat ini aku masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar (SD). Sekarang bulan Januari dan itu artinya kami baru saja menghabiskan liburan kami dan sudah mulai masuk sekolah kembali di semester 2. Kami? Oh aku lupa, Celia juga masih kelas 6 SD, di sekolah yang sama denganku. Tidak hanya itu, kami sudah berteman sejak kecil karena memang rumah kami yang bersebelahan.

Tak lama kemudian, orang yang ku tunggu pun akhirnya keluar dari balik pintu. Berbeda denganku yang masih memakai seragam sekolah, Celia tampak sudah mengganti seragamnya dengan baju santai untuk bermain. Ya, memang kami sudah berencana akan bermain di taman kota setelah pulang sekolah.

“Iya iya, dasar. Kan udah ku bilang tunggu sebentar.” Omel Celia, aku hanya memasang senyum tak bersalah. Kami pun segera menuju taman kota. Kebetulan siang ini mendung sehingga kami tidak kepanasan. Sesampainya disana kami bermain sampai merasa lelah.

Kaleidoskop Lima Tahun Silam

Karya: Fatmahira

Diikutsertakan dalam lomba menulis songfiction: Kisah di Bulan Januari


Hari ini 16 Januari tahun 2016 aku membuat bulatan merah di kalender kecil yang sengaja aku simpan diatas meja dekat dengan laptopku, membuat bulatan merah adalah kebiasaan ku sejak Lima tahun silam.  Entah untuk apa, mungkin untuk sekedar menghabiskan tinta.

Perkenalkan aku adalah Pevita Dealenova, hari ini sedang di Paris, untuk apa ? untuk melanjutkan seri novel kedua yang berjudul Dealenova, tadinya aku ingin nulis novel ini di indonesia aja, tapi karena ingin mempertegas karakter tokoh, latar, serta alur jadi apa salahnya jika terbang langsung ke negri design ini, fokus utamanya ya ingin bersentuhan langsung dengan orang orang yang akan terlibat di dalam novel ini, enggak hanya orang sih tapi merasakan cuaca juga, aroma makanan khas paris juga , atau sekedar melihat lihat struktur bangunan di paris. Dengan mengamatinya langsung sepertinya aku bisa lebih all out di novel kedua ku ini. Dan novel dealenova aku ambil dari nama akhirku.

Pukul sepuluh malam, saat ini aku sedang duduk di suatu ruangan yang terkunci rapat di lantai 57 apartemen yang aku sewa bersama temanku Diana, di kota paris tentunya,  Diana adalah temanku yang sengaja aku ajak untuk menemaniku sampai seri novel kedua ini selesai, dan sekarang Diana sedang di ruang tivi entah apa yang sedang dia lakukan sepertinya sedang menggambar design baju terbarunya.

Akhir Januari

Karya: Meta



Apa kau pernah merasa kecewa? Apa kau pernah disakiti? Apa kau pernah menyakiti?  Apa kau pernah berjuang? Apa kau pernah di sia-siakan? Apakah kau pernah merasakan suatu penyesalan? Pernahkah kau terjebak dalam hal itu? Penyesalan yang bagaimana? Apa penyebabnya? Siapa dalangnya? 

Ya. Aku pernah mengalami itu bahkan sampai saat ini aku tidak bisa keluar dari jebakan itu. Aku bingung akan hal ini. Bukankah biasanya orang menyesal karena telah menyia-nyiakan seseorang yang mencintainya? Tapi tidak dengan diriku aku justru sangat menyesal pernah memberi kesempatan berulang kali kepada seorang Lelaki, aku menyesal pernah memperjuangkan hubungan kami. Dio namanya. Ini kisah cinta yang rumit untuk perempuan seusia ku. Aku seorang remaja yang belum mengerti tentang cinta. 

Sesuatu yang membuatmu pergi, pada saatnya akan menjadi sesuatu yang membawamu pulang kembali. Sesuatu itu berwujud satu, tetapi memiliki dua nama, “luka” dan “kenangan”. Yang satu membuatmu ingin melangkah jauh dan yang satunya lagi memaksamu untuk mendekat kembali. Tarik menarik antara mereka, biasa di sebut : CINTA. 

January 30, 2016

Anugerah Terindah di Januari

Karya: Granger




“My life is a beuty”-Taeyeon ‘I’-
Bau tanah setelah hujan menyatu dengan alam. Hijau padang rumput memanjakan mata Safira yang lelah dengan pemandangan kota. Awan berarak perlahan seakan berkata bahwa segalanya baik-baik saja. Semilir angin meniupnya damai. Namun, kedamaian itu tak sampai di hatinya yang gundah gulana. Safira merebahkan badan di atas rumput pendek nan lembut. Ia pejamkan mata sesaat, sesekali menghela nafas dalam-dalam.
“Aku lelah,” gumamnya. Ia pandangi langit pagi. Langit telah menumpahkan hujan deras di malam tahun baru.  Itu adalah berkah. Safira berdoa untuk kebaikan tahun ini sekaligus lepas dari belenggu-belenggu pada dirinya.
“Aku lelah,” keluhan keluar kembali dari bibir tipisnya, “aku harus lepas dari belenggu kantorku tahun ini. Aku merasa ini bukan diriku” ujarnya sambil menahan air mata.
Liburan telah usai, saatnya kembali ke rutinitas penat. Lalu lintas Jakarta macet seperti biasa. Bunyi klakson, sumpah serapah masih bertebaran di jalan, “tahun baru Jakarta gini-gini aja. Gak ada yang berubah,” gerutunya dalam hati. Ia menyetir dengan hati-hati karena khawatir motor menyerobot dan mengenai mobilnya.
Ia pun sampai di tempat kerja dengan semangat minim. Safira memarkir mobilnya dengan posisi sempurna. Lalu ia bergegas turun dan memasuki Cafe untuk bekerja paruh waktu. Walaupun minim semangat, ia tak pernah datang terlambat. Gadis berusia 19 tahun itu selalu menyelesaikan tugasnya dengan baik sebagai pelayan Cafe.
“Silahkan, ini pesanannya,” ia menghampiri pelanggan dengan tersenyum, “Coffee Latte, roti bakar, dan susu hangat,” ia memastikan pesanan yang dibawa sudah tepat. Kemudian ia meninggalkan meja pelanggan menuju tangga dekat dapur.

A Strange Love

Karya: Rirs



Namaku Cinta. Entah mengapa aku memiliki nama seindah itu. Ketika aku bertanya, orangtua ku berkata bahwa ia memberiku nama itu karena aku dilahirkan dengan penuh rasa cinta. Ia juga mengatakan bahwa aku sangat patut dicintai. Sebuah nama yang berarti sebuah doa, dan itu terkabul. Sungguh menakjubkan. Sejak aku kecil, semua orang begitu menyayangiku. Mulai dari ayah, ibu, paman, bibi, kakek, nenek, kakak, adik dan bahkan teman-temanku. Mereka semua memperlakukanku dengan penuh cinta, begitupun aku sebaliknya. Ya, memang sangat sesuai dengan namaku. Bahkan, hingga kini aku beranjak dewasa. Usiaku sudah mencapai 25 tahun. Saat-saat yang sangat didambakan bagi para wanita untuk segera menikah. Tapi bahkan calonpun aku tak punya.
Usia yang belia ini, kecil tidak tua pun tidak, aku baru saja menyelesaikan studyku di Jepang, dan kembali ke Indonesia untuk sebuah pengabdian. Aku berencana mendaftar di perusahaan lokal, tapi sayangnya takdir berkata lain. Perusahaan asinglah yang menjadi tempat bekerjaku kali ini. OLHealth Company perusahaan tersebut bergerak di bidang kesehatan. Sangat sesuai dengan bidang yang telah ku geluti selama ini.

Elegi Rindu

Karya: Zhee




“...Aku rindu setengah mati kepadamu, sungguh Ku ingin Kau tahu...”
[Rindu Setengah Mati – D’Masiv]
***
            Hujan. Lagi-lagi. Untuk kesekian kalinya Aku disini. Di tempat dan suasana yang sama. Pula, dengan lagu yang sama. Ah, semenjak Kau pergi hati ini semakin tak karuan jadinya. Tak perlu Kau bayangkan Aku akan menikmatinya, Aku sudah jenuh bila kesekian kalinya Kau tak disampingku. Jangankan Kau, bahkan bayangmu sepertinya enggan untuk singgah dalam khayalku.
            Kau tahu? Hari-hari hanya kuhabiskan untuk mematuk jari, menghitung detik kapan Kau kembali. Jari mungilku ini rutin memainkan deretan nada dalam partitur yang Kau hadiahkan. Setiap pagi, bibir ini selalu mengucap doa agar Kau datang menghampiri walau setidaknya hanya bayangmu yang hadir dalam mimpi.
            Hei, Rangga! Apakah Kau tidak ingat? Ini adalah Januari kita. Dimana kita selalu merayakannya setiap tahun. Sudahkah Kau menghitung, berapa Januari yang kita lewati?
            Apa? Kau tidak tahu? Kau tidak menghitungnya, Rangga?
            Baiklah, Rangga. Aku akan memberi tahumu. Terhitung sejak pertama kali kita bertemu, sudah delapan Januari telah kita lewati hingga saat ini. Dan tiga Januari terakhir Kau biarkan Aku bersusah payah menunggu untuk hal yang sama, yaitu kehadiranmu.
            Aku tetap ingat kebersamaan kita di setiap Januari, Rangga. Jangan bilang Kau telah melupakannya. 
            Di Januari pertama, kita bertemu. Masih sama-sama memakai seragam abu-abu kita. Di perpustakaan, Kau datang dan mencoba untuk mendekatiku. Aku menerima Kau, Rangga.
Karena kedekatan kita, teman-teman menjuluki kita ‘sejoli perpustakaan’. Ingatkah apa yang dikatakan teman-teman tentang kita, Rangga?. Mereka berkata, kita adalah dua manusia yang serasi dan kita hanya bisa tersenyum geli mendengarnya.
Kita habiskan tahun pertama kita dengan persahabatan yang penuh suka cita.
            Rangga, bagaimana perasaanmu bila mengetahui bahwa kini Aku tertatih berjalan menyusuri jalan kenangan kita?
Pada Januari kedua, Kau bertanya padaku, “sudikah kiranya bila Kau menjadi pengisi hatiku? Bahkan sampai nanti, sampai maut menjemputku?”
Kau tahu, Rangga? Hatiku sangat bahagia saat Kau utarakan hal ini. Bak terbang diatas pelangi, hatiku tak karuan senangnya. Aku menerimamu, Rangga!
Kemudian Kau berjanji akan selalu bersamaku. Selalu ada saat suka maupun duka, Kaulah yang pertama kali memelukku saat Aku tersungkur menghadapi kerasnya terpaan hidup. Kau juga telah berjanji, Kau akan berdiri di belakangku dan memegang pundakku saat Aku berdiri menghadapi cercaan dunia.
Januari kedua yang manis kan, Rangga?

Apakah ini cinta sejati? Tapi, mengapa?

Karya: Rirs



Hidup, inilah hidup. Terkadang ada masa kita berada di atas dan juga dibawah. Ya, terombang-ambing. Istilah yang sangat sering kita dengar di telinga. Aku, kamu, kami, kalian, mereka. Semua berhak merasakan bahagia, namun semua juga berhak merasakan kesedihan. Kebahagiaan dan kesedihan itu pasti meninggalkan bekas. Berbeda dengan hidup yang hampa, tanpa bekas bahkan terlupakan. Kisahku, sebuah kesedihan yang lebih membekas. Mengapa demikian? Terkadang kebahagiaan memang menyenangkan, membuat kita merasa senang bahkan tertawa tak henti. Berbeda dengan kesedihan, membuat kita murung dan murung bahkan kehilangan mood. Itulah mengapa kesedihan akan lebih membekas, dapat merubah mood seketika. Bahkan ketika kita bahagia’pun dan tiba-tiba kedatangan berita buruk pembawa “kesedihan”, saat itu juga kebahagiaan berubah menjadi kesedihan.

Kisah seorang anak remaja, yang sangat umum adalah “cinta”. Cinta mungkin sulit untuk didefinisikan bagi beberapa pihak. Ada yang menyebutnya “anugrah terindah”, ada juga yang menyebutnya “malaikat jatuh dari langit”, dan bahkan ada yang menyebut sebagai “cinta sejati”. Tapi, apakah arti dari semua itu? Sebuah kata? Ataukah sebuah perilaku? Atau bahkan sebuah perasaan? Tak satupun dapat mendefinisikan. Hingga suatu ketika aku bertemu dengan seorang pria. Ia sangat tampan, baik hati, religious, smart, gorgeous, patient, and I think he is so perfect. Sudah lama aku mengetahuinya, dan bahkan memperhatikannya. Kita memang teman satu sekolah. Tapi tidak saling kenal bahkan saling sapa. Hingga suatu ketika kita berkenalan tak sengaja, kita bertemu di suatu tempat yang sangat indah, penuh dengan bunga, buah, dan kupu-kupu. Ya, taman bunga. Tidak selayaknya cerita cinta lainnya yang bertemu karena bertabrakan dan menjatuhkan buku, teman sekelas, memandanginya, atau bahkan terbiasa bersama.

JANUARIKU HARAPAN BARUKU

Karya: Ikhwan



Tidak terasa tahun 2015 telah pergi meninggalkan ku dengan sejuta kenangan dan harapan yang belum sempat aku wujudkan, Januari ya seharusnya dibulan ini saya bisa menargetkan Seminar Proposal Penelitian, sebagai Mahasiswa semester VII salah satu PTN di Jawa Tengah saya merasa sedikit kecewa dengan kegagalan target saya untuk melaksanakan Seminar dibulan Januari yang telah saya rancang dari jauh-jauh hari bukan karena mandetnya penulisan atau terhalangnya mood untuk mengerjakannya tapi karena ada hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sudahlah mungkin itu yang terbaik tapi dengan begitu saya jadi bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang dan tak ada yang perlu disesali.
Januari adalah bulan yang akan membawa saya pada langkah selanjutnya, bukan hanya dengan pendidikan karena januari pun memberikan sumbangsihnya untuk percintaan saya, tepat senin 11 Januari bulan ini saya mencoba untuk membuka hati saya kembali dengan seorang gadis yang sudah lama saya kenal, pertemuan ini terasa berkesan dengan seorang gadis yang pernah hadir didalam hidup saya dan memberikan corak warna dalam kisah saya, awalnya kita sudah jarang untuk berkomunikasi tapi prasaan tidak mudah untuk dibohongi dan akhirnya saya mencoba untuk menghubunginya kembali memperbaiki kesalahan yang pernah tejadi. Setiap berada didekatnya diri ini tidak bisa bohong karena diri ini masih sayang dengannya. Tidak, saya tidak pacaran dengannya lebih tepatnya belum, karena saya tidak mau menyakiti hatinya lagi dan perjalanan kita masih jauh dan panjang hanya tersebit untuk memperbaiki diri ini agar hubungan kedepan nanti lebih baik, rasanya ingin berbisik “kau bawa diriku kedalam hidupmu kau basuh diriku dengan rasa sayang senyummu juga sedihku adalah hidupku kau sentuh cintaku dengan lembut dengan sejuta warna”.

Ada Apa?

Karya: Raframa Yahya



            Keheningan pagi buta pecah oleh suara decit ban yang beradu dengan aspal yang masih basah dengan hujan semalam. Motor biru meluncur keras, menyingkirkan sampah yang ditinggalkan penikmat pesta tadi malam. Menyapu bersih sisa terompet dan serbuk-serbuk kembang api. Disapu habis dengan genangan darah yang beradu dengan genangan air hujan yang diuraikan oleh gerimis yang turun rintik-rintik. Beradu dengan udara yang mengembun, darah mengering seiring dengan matahari yang mulai naik.
            Aih, Januari yang cerah.
*

Gantungan Hati Di Awal Januari

Karya: Ardena Akli




Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan
Hingga mungkin ku tak sanggup lagi
Dan meninggalkan dirimu..

            Awalnya aku berharap Desember cepat berlalu. Namun setelah ku tahu sesuatu, rasanya aku tak ingin Januari cepat datang. Ini adalah harapanku sebelum ku menyesal dengan kata-kataku sendiri. Yang buatku kecewa setelah mengatakannya. Namun sebaliknya aku malah menginginkan bahwa Januari ini tak pernah ada. Karena kau telah menorehkan luka di dalamnya.
            Sore ini aku membuka pesan dalam Facebookku. “Aku balik dek” kata Reza dalam pesan singkatnya. Betapa bahagianya aku bahwa ia telah pulang. Terasa ingin berteriak ketika ia mengabariku tentang kepulangannya. Setelah enam bulan pergi dan tanpa kabar. Ini membuatku menunggu dan menahan rasa rindu karena ia tak ada disini yang biasa menghibur dan tertawa bersamaku.
            “Bagaimana Kabarmu?” satu pertanyaan yang buatku heran karena ia menanyakan kabarku. Seorang Reza yang dikenal cuek ternyata masih punya simpati untuk sempat bertanya keadaanku. “Alhamdulillah baik Mas” itulah yang ku katakan. Tapi tidak pada kabar hatiku yang terasa “Sakit”jika menahan rindu berbulan-bulan dan menunggu Reza pulang. Namun semua  terobati ketika ia kembali dan mengatakan bahwa hubungan ini tak berakhir meski jarak dan waktu terasa terbentang antara aku dan Reza.

Oh Hati, Bersabarlah!

Karya: ndehyaminari




Mungkin malam perayaan tahun baru ini adalah malam yang paling menyenangkan. Langit berhias bintang memancarkan cinta di awal tahun ini. Aku tak menyangka bisa merayakan awal kehidupan baru bersamamu, bersama dia, bersama kalian berdua. Tepat satu tahun, aku memendam perasaan ini. Bagai pungguk merindukan bulan, rasa yang kusimpan lama adalah hal yang sangat tidak mungkin untuk kuwujudkan. Rasa yang bagiku adalah suatu kesalahan. Tapi, apa mau dikata, cinta tak bisa disalahkan. Tanggal satu Januari, segala harap kurajut hari ini.
”Riza, kok kamu bisa betah sih jalin hubungan sama Rani?” Aku bertanya pada Riza, pacar Rani, sahabatku yang baru enam bulan menjalin hubungan. “Kok nanya kayak gitu?” Tanya Riza heran. Aku sedikit gugup, bingung harus menjawab apa. Tapi belum aku menjawab pertanyaan Riza, Rani tiba-tiba datang. Dia membawa kotak yang entah berisi apa. Aku langsung bergeser tempat duduk, agar Rani bisa duduk diantara aku dan Riza. “Maaf ya lama. Aku habis beli kue nih buat kalian. Kan kalau belajar pasti lapar. Hehe.” Katanya sambil menyodorkan kotak yang berisi kue itu kepadaku. Kulihat Riza dan Rani saling berdiam diri, tak seperti biasanya.

January 29, 2016

JANUARI PENGHABISAN

Karya: Derry Saba




Di depan rumahnya kau masih menunggu hujan yang dijatuhkan langit Januari reda. Sesungguhnya kau sudah mulai gelisah sejak senja mulai merosot, ketika langit masih mendung, dan hujan masih seperti butir-butir embun. Kau dihantui pikiran-pikiranmu yang kau sendiri belum yakin kebenarannya. Lalu kau belajar memaki diri sendiri, entah untuk alasan apa. Kau tahu, ini semua tak pernah kau inginkan untuk terjadi. Dan ketika semuanya sudah sungguh-sungguh terjadi, kau tak tahu harus menyalahkan siapa. Kesetiaan yang kau pelajari dari setiap kesakitan, kini hampir tak ada bedanya dengan sebuah kebodohan. Maka kau bingung; kau terlalu bodoh untuk menjadi lelaki setia, ataukah kesetiaan menjadikanmu bodoh. Dan tak seorangpun peduli pada kebingunganmu itu. Kau lalu memilih untuk diam, seperti Januari yang membunuh Desember dalam diam.
Kau terdiam sementara hujan sudah berhenti menjatuhkan dirinya. Dan kau masih di depan rumahnya. Ini adalah untuk yang kesekian kalinya kau ditemani sepi. Dan malam yang pekat menyublim ke dalam hatimu. Gelisah di hatimu meninggi. Sementara itu, dari dalam rumah, angin membawa ke telingamu suara desah nafas yang sedang beradu. Sesekali bunyi derit ranjang tertangkap kupingmu juga. Dan sesaat kemudian kau bisa mendengar erangan kenikmatan yang gagal mereka tahan dari mulut mereka. Di saat-saat seperti inilah, kau selalu merasa luka di hatimu yang gelisah, kembali berdarah. Dan selalu kau akan kembali ke ritual rutinmu: diam!

SEKEDAR UNTUK MENGINGATKANMU

Karya: Derry Saba



(Atambua, 11 Januari 2016)

Akulah duri pada tubuh mawarmu. Sejak kau masih dikenal bumi sebagai tunas yang rapuh, sebelum kau tumbuh dengan kelopak dan bunga yang indah, aku sudah ada di tubuhmu ini. Dipersatukan oleh sepi, aku dan waktu berdiskusi banyak tentang masa depanmu. Dan sepi… diam-diam merapalkan doa-doanya yang tak terdengar. Ku rasa itu jugalah yang menjadi doa yang kau ucapkan tiap pagi setiap kali pagi mematahkan embun di pucukmu. Maka bagiku ketika kau tumbuh dewasa, kau adalah tumpukan doa-doa yang pernah kalian ucapkan sebelum tidur, sebab setelah tidur kalian lebih banyak hanya mengucap harap.

INGATAN TERDALAM DI BULAN JANUARI

Karya: Vennia Aprelia



Januari. Nama yang cantik untuk nama suatu bulan pengawal tahun. Semua orang mengirimkan harapan melalui media sosial mereka setiap awal pergantian tahun. Rena mengeryit melihat beranda twitter-nya berisi harapan teman-temannya yang hampir semuanya sama yaitu mendapatkan pacar baru. Menggelikan sekali bila harapan terbesarmu di tahun baru ini adalah mendapatkan pacar. Sebegitu pentingkah pacar di hidupmu. Walaupun Rena menyadari memiliki pacar memang menyenangkan, tetapi benar-benar tidak bijaksana kalau menjadikan pacar sebagai bagian terpenting dari hidupmu.
Suara petir yang menggelegar tiba-tiba membuyarkan lamunan Rena. Sedetik kemudian hujan turun sangat deras. Rena melamun memikirkan harapan teman-temannya lama sekali sehingga tak sadar anak-anak kecil berlarian sekali di depan rumahnya untuk bermain mandi hujan. Entah mengapa Rena sangat tertarik untuk memperhatikan mereka. Ada delapan anak di sana, dua di antaranya perempuan. Anak-anak itu terlihat senang sekali. Yang lain berlari kesana kemari, tetapi seorang anak laki-laki yang paling tinggi memilih berdiri di bawah gerujukan air yang mengalir dari atap rumah warga. Kemudian anak perempuan terkecil terpeleset jatuh. Lututnya berdarah, dan ia mulai menangis. Dengan sigap, anak yang beridiri di bawah gerujukan air langsung mendekati anak yang terjatuh tadi. Kemudian dengan susah payah ia berusaha menggendongnya. Anak yang terjatuh tadi langsung diam, kemudian tersenyum malu. Melihatnya tersenyum, anak yang paling tinggi tadi tertawa geli menengadahkan kepalanya sambil tetap berusaha menggendong anak yang terjatuh.

Kado Sang Januari

Karya: Romlah Safitri



Dari malam kembali ke malam. Berkali-kali bahkan berhari-hari hal itu terus terjadi, bagai roda berputar dari atas kembali ke atas. Kehidupan juga berputar seperti janji-Nya. Jakfar ‘Sang Penatap Langit’ berhasil menangkap kalimat itu dalam kepalanya. Saat melihat sekelompok muda-mudi dalam jumlah yang tak terlalu banyak sedang melintas di depannya, lalu duduk sumringah dengan tangan-tangan penuh permainan. Dalam kehidupannya dulu, ia suka melakukan hal yang sama dengan teman-temannya. Tapi sekarang ia harus berdiri bersama para pelayan kafe mengantar piring dan gelas ke sudut-sudut ruangan.

Sepulangnya bekerja Jakfar melihat ke jendela kamar, tampak seorang wanita keluar dari rumahnya. Meski terasa lelah ia segera bergegas meninggalkan rumah, mengunci gerbang, dan mulai berlari pelan untuk mencari jejak wanita yang baru saja keluar dari rumahnya. Ia menemukan wanita itu sedang berjalan pelan dengan kepala menunduk menepi ke arah Kedai Kopi. Jakfar pun menghentikan langkahnya. Seakan tak ingin mengganggu dan hanya memandang dari kejauhan.
Tubuh Jakfar mulai gemetar karena dinginnya udara malam. Jalanan pun berangsur-angsur sepi dan sunyi. Tak lama wanita itu pergi meninggalkan Kedai Kopi sambil menangis. Jakfar berlari mengejar wanita itu. “Tunggu,” teriaknya. Sementara wanita itu terus berlari menyusuri trotoar sampai akhirnya tiba di sebuah taman yang indah. Wanita itu berbalik arah. “Ibu!” kata Jakfar kaget. “Ibu mau kemana?” Wanita itu hanya menatap dengan tatapan kosong. “Ibu dari mana saja? Malam ini aku tak punya teman. Temani aku jalan-jalan ya bu. Aku ingin ibu selalu ada disampingku. Ibu jangan kemana-mana lagi ya. ” Wanita itu masih menatap diam dirinya. “Atau kita pulang saja yuk! Cuacanya semakin dingin.” ajaknya. Tiba-tiba wanita itu berlari ke tengah jalan raya. Jakfar mengikutinya, sementara dari arah kanan terpancar lampu mobil besar yang melaju kencang. 

“Tidaaaaaaaaaak… “

“Kriiiiiiiiiiiing” Jakfar terbangun dari tidurnya dan mencari jam weker. Ia pikir suara itu raungan si weker, ternyata alarm handpone menunjukkan bahwa pada tanggal 20 Januari 2016 tepat pukul 12.01 adalah hari ulang tahunnya yang ke-17. Ia melihat ke sekitar ruangan dan ke luar jendela kamar, langit diluar masih tampak hitam. “Ternyata Cuma mimpi.” gumamnya. Jakfar bangkit duduk di atas ranjang. Mungkin aku terlalu lelah dan merindukan ibu, pikirnya. Lalu keluar kamar menuju kamar yang lain. Ia tak mendengar suara apapun, juga tak terlihat penghuni lain selain dirinya di rumah itu. Suasana sepi telah menjadi temannya di hari-hari setelah ibunya pergi akibat tak kuat menahan kanker serviks pada tanggal 10 Januari kemarin. Sedang ayahnya sudah lebih dulu pergi akibat gagal ginjal sepuluh tahun lalu. Ia hanya anak tunggal yang jauh dari sanak famili, sehingga membuatnya harus sekolah sambil bekerja untuk membeli beberapa kebutuhan meski terkadang ada yang memberi beras, uang, dan lainnya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...