November 23, 2015

SongFiction: Setengah Hati (Part 2)





 Karya: Ismaa


"Malam minggu besok, mereka bakal kencan."

Aku menoleh ke arahnya.

Dia juga menolah ke arahku, setelah sebelumnya hanya menatap ke bawah sana, tempat di mana Anya dan Vano berada.

"Oke. Jadi kita akan ikutin mereka?"

Dia mengangguk, kemudian kembali mengalihkan perhatiannya dariku. 

***

Malam minggu tiba. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, malam ini kami akan mengikuti pasangan itu. Dan di sinilah kami berada, di pasar malam yang letaknya tak jauh dari sekolah tempat kami menimba ilmu.

Kami memperhatikan mereka yang kini menuju wahana bianglala. Memang bukan wahana ekstrim, tapi memang cocok untuk pasangan yang sedang berkencan.

Atha menarik tanganku, membeli tiket di loket, kemudian ikut menunggu dalam antrian yang cukup panjang ini.

Sebelumnya, kami telah menggunakan aksesoris yang memungkinkan Anya dan Vano tak mengenali kami.

"Ayo," ajaknya saat tiba giliran kami masuk menaiki wahana itu.

Dua tempat di depan kami, itu adalah tempat Vano dan Anya.

Bianglala mulai berputar, hingga tiba saat di mana kami tepat berada di kedudukan paling atas, aku menghela napas lemah. Entahlah, rencana yang telah kami susun sebelumnya rasanya tak akan berajalan dengan lancar. Karena entah mengapa aku mulai malas melakukannya.

Aku melirik Atha yang ada di sampingku, pandangannya tertuju pada mereka. Aku menghela napas, kemudian melihat ke alam luasnun jauh di sana. Kerlap-kerlip lampu terasa begitu indah, namun hatiku terasa begitu gelap dan suram, entah mengapa.

Mungkin... karena semuanya tak sesuai dengan keinginanku.

***

Aku memeluk boneka yang tadi Atha berikan. Ah, aku senang sekali hingga rasanya senyuman ini tak bisa kutahan-tahan lagi.

"Thanks, Tha," ucapku sepenuh hati.

"Biasa aja kali, nggak usah senyum sampe segitu lebarnya. Sebenernya itu, kan, buat Anya, bukan buat lo."

Aku menggerutu sebal. Dasar Atha, selalu saja seperti itu. Tak pernah bisa bersikap manis sedikit pun padaku.

Ya, memang benar apa yang dikatakan Atha tadi. Boneka ini sebenarnya ingin ia berikan pada Anya, karena tadi kami melihat Vano tak bisa mendapatkan boneka ini untuk Anya di salah satu stand mainan. Jadi, Atha berinisiatif untuk memenangkannya. Tapi menurut Atha, akan terasa janggal jika seandainya dia memberikan boneka ini pada Anya, jadi dia memberikannya padaku.

Aku meringis kecil saat aku menabrak punggung Atha. Sejak kapan Atha ada di depanku? Dan sejak kapan juga dia berhenti? 

" Kenapa berhenti, Tha?" tanyaku sambil melirik ke depan.

Sejak kapan kami keluar dari area pasar malam?

Aku memfokuskan pandanganku setelah berada di samping Atha. Di depan sana, Vano sedang mendekatkan wajahnya ke wajah Anya. Mereka... berciuman?

Belum sempat aku menoleh ke arah Atha, dia sudah terlebih dahulu berlari ke sana dan menerjang Vano kemudian memukulnya membabi buta. Jadi, Atha... masih cemburu? Entah mengapa, aku merasakan ngilu di hatiku. Selalu saja perasaan ini muncul saat melihat Atha memperhatikan Anya ataupun cemburu karena dirinya.

Satu tetes air mata jatuh saat aku mulai berjalan ke arah mereka, disusul dengan tetes yang lain.

"Elo," aku mendorong bahu Anya keras. "Kenapa lo harus menghancurkan semuanya? Kenapa lo harus dicintai oleh mereka berdua? Kenapa harus lo yang dicintai oleh orang yang gue cinta? Kenapa harus lo yang dicintai oleh Atha, hah?!" Aku meninggikan suara di akhir kalimat.

Dia terlihat kaget melihat aku meluapkan kemarahanku padanya, tapi aku tidak peduli. "Gue cemburu, Nya! Gue iri! Lo ngerebut semuanya! Kenapa harus lo, sih?!" 

Tanganku ingin menamparnya, namun tangan itu sudah menahannya.

"Elo nggak berhak nampar dia!" Atha membentakku, dan aku terperangah akan hal itu.

"Atha..." Aku mencoba berbicara, namun hanya namanya yang bisa kuucapkan.

"Lo cuman pacar pura-pura gue, jadi lo nggak ada hak buat ikut campur dalam urusan gue," tekannya.

Ya, aku tahu bahwa aku hanya pacar pura-puranya. Aku juga sadar siapa aku di sini, dan siapa aku untuknya, aku tahu itu. Tapi, apa yang bisa kulakukan sebagai wanita yang memiliki ego tinggi untuk mendapatkan hal yang diinginkannya, terlebih untuk mendapatkan orang yang dicintainya? Apalagi saat ini pikiranku sedang kacau-kacaunya, aku tak bisa berpikir jernih.

Aku melemaskan tanganku yang dicengkramnya dengan kuat, berharap dia melepaskan cengkramannya yang membuat tanganku sakit, dan itu berhasil. Aku menarik napas sebentar dan menghembuskannya. Rasanya sesak, aku tak bisa bernapas dengan baik.

Aku memaksakan seulas senyum kemudian memandangnya dan berkata, "Maaf, harusnya gue sadar diri."

Aku menatap Anya kemudian menyerahkan boneka yang memang seharusnya menjadi miliknya. "Nih, hadiah dari Atha buat lo." Aku tercekat, teramat susah mengatakan hal itu pada Anya.

"Gue duluan, permisi." Dengan itu, aku pergi. Dan aku, aku menyerah atas semua ini.
Dalam hati aku berharap ini mimpi, namun otakku selalu saja mengatakan bahwa ini nyata, dan itu memang benar adanya. 

***


END

November 21, 2015

SongFiction: Setengah Hati (Part 1)





 Karya: Ismaa 


Atha, nama yang simpel. Dia laki-laki yang menarik perhatianku sejak pertama kali masuk sekolah ini. Mungkin dia bukan laki-laki yang sangat tampan, dia juga bukan siswa yang sangat pintar, namun entah mengapa, hanya dengan melihatnya, hatiku menjadi lebih tenang.

Sikapnya selalu ramah kepada siapa pun, kecuali aku, entah mengapa. Padahal setahuku, aku tak pernah mempunyai salah apa pun padanya. Setiap kali aku menyapanya, dia pasti selalu memalingkan wajah dan tak membalas sapaan aku, dan aku bingung dibuatnya.

***

Riuh suara di dalam kelas ini membuatku jengah. Wajar saja, jam istirahat tengah berlangsung, jadi semua teman-temanku bebas untuk berbicara sesuka mereka. Apalagi ini di lantai dua, jauh dari ruang guru. Dengan malas, aku melangkah keluar kelas.

Keluar dari kelas, aku melihat silut seseorang yang sedang berada di tepi balkon sana. Dia sedang bersandar menghadap ke taman yang ada di bawah sana. Dengan langkah pelan, aku menuju ke arah orang itu.

Ah, aku ingin mengerjainya. Dengan usil, aku menutup matanya dengan tanganku kemudian membalikkan tubuhnya.

"Hai," sapaku.

"Ngapain lo di sini?" tanyanya jutek, seperti biasa.

"Cari angin aja," jawabku sekenanya. "Males di kelas, sumpek. Lebih enak di sini, kan?"

Iya, memang lebih nyaman di sini. Mungkin karena matahari sedang tersembunyi di balik awan sana, jadi cuaca hari ini tak sepanas dan seterik biasanya.

Aku melirik sekilas ke bawah sana, dan aku mendapati... Anya dan Vano? Sedang apa mereka di sana? Di bangku taman, Anya dan Vano sedang duduk bersama. Saat ini, tangan Vano sedang mengusap pipi Anya. Ah, menyebalkan sekali mereka.

"Mending lo pergi, deh." Dia kemudian membalikkan tubuhnya, dan dapat kulihat bahwa dia sedang memperhatikan dua insan di bawah sana. Untung saja dia tak melihat Vano yang tadi sedang mengusap pipi Anya.

Aku mengambil tempat di sampingnya, ikut memperhatikan kemesraan dua anak manusia di bawah sana. Kali ini, Vano sedang menarik tangan Anya yang sedang menutupi wajahnya.

"Cemburu, huh?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

"Apa?"

Ck, selalu saja begitu.

"Elo," aku menunjuk dirinya, "cemburu," kemudian menunjuk mereka berdua yang ada di bawah sana.

"Mendingan lo pergi, deh." 

Ah, dia mengusirku.

"Dasar pengecut!"

"Sekali lagi lo ngomong kayak gitu, gue nggak akan segan-segan--"

"Apa?" potongku. "Elo mau nampar gue? Mukul gue? Nggak mungkin."

"Jangan coba-coba--"

"Gue punya penawaran buat lo," potongku lagi.

Dapat kulihat dia menarik napas sebentar kemudian berkata, "Oke, gue yang pergi."

Dan dengan kata itu, dia benar-benar pergi dari tempat ini.

Biarlah, biarlah dia pergi dari tempat ini--karena jika dia tetap di sini, aku yakin dia akan semakin terbakar cemburu melihat kemesraan sepasang anak manusia di bawah sana.

***

"Masih belum bisa move on, huh?"

Wajahnya nampak terkejut saat menoleh ke arahku.

"Elo lagi," gumamnya pelan. "Kapan sih, lo nggak akan ganggu gue lagi?"

Aku tertawa kecil. "Gue, gangguin lo? Gue, kan, cuman mau bantuin lo aja... sebagai pacar gue."

Iya, sekarang dia pacarku. Kalian tak percaya? Baiklah, akan kuceritakan bagaimana dia bisa menjadi pacarku.

Saat di ulang tahun Anya kemarin, tepatnya setelah Atha menyanyikan sebuah lagu untuk pasangan baru itu, aku menghampiri dia yang sedang duduk di salah satu bangku yang disediakan.

"Gimana perasaan lo saat lihat mereka jadian?" tanyaku pelan, tepat setelah aku duduk di hadapannya.

"Biasa aja," jawabnya pelan.

Aku tertawa kecil. " Biasa aja? Apanya yang biasa aja saat hati lo terbakar?"

Dapat kudengar dengusan sebalnya sebelum ia berkata, "Jangan sok tahu, deh."

"Gue? Sok tahu? Emang kenyataannya gitu, kan?"

"Sebenernya apa mau lo?" tanyanya sinis.

"Jadi pacar gue, dan gue akan bantu lo dapetin Anya," kataku santai namun penuh penawaran.

Dia terlihat berpikir sejenak. "Apa motif lo sebenernya?"

"Yah... anggap aja gue juga mau dapetin Vano."

Dan ketika dia mengangguk kecil, aku tak dapat menahan senyumku.

***


Bersambung ....

November 19, 2015

SongFiction: When I Was Your Man (Part 2)





 Karya: Ismaa

Baca Part sebelumnya, klik di sini
"Sial!" Aku mengumpat pelan. Aku terlambat untuk datang ke acara ulang tahun Anya. Dengan langkah tergesa-gesa, aku masuk ke halaman belakang rumah Anya, tempat di mana pesta ulang tahun Anya berlangsung. Mungkin karena aku kurang hati-hati, aku menabrak seseorang, yang membuat langkahku otomatis terhenti.
"Elo!" Aku berdecak sebal. Gadis ini lagi, gadis ini lagi. Tak bisakah dunia berpihak padaku agar aku tak lagi bertemu dengan gadis ini lagi?
"Hai," sapanya seperti biasa.
Aku ingin memarahi dan membentaknya, namun riuh suara pesta tergantikan dengan alunan lagu yang merdu. Aku menatap ke arah panggung kecil di tengah sana. Tanpa bisa kutahan, langkah kakiku membuat diriku semakin mendekat ke arah panggung itu berada. Di sana, ada Anya yang sedang berdiri di tengah panggung dengan Vano yang berlutut di hadapannya. Aku tahu ini cepat atau lambat akan terjadi, tapi aku benci hal ini.
"Anya, will you be my girl?"
Meski samar, aku masih dapat melihat semburat merah yang muncul di pipi Anya selepas Vano mengucapkan kata-kata terkutuk itu. Dan sekali lagi, aku benci ini.
Meski pelan dan malu-malu, namun Anya tetap menganggukkan kepalanya, mengiyakan penyataan cinta Vano. Selanjutnya, Vano merengkuh Anya dalam pelukannya seiring dengan tepuk tangan yang menyertai mereka.
***
"Cemburu, huh?"
Aku melirik sebal ke arah gadis itu.
"Gue udah bilang, kan, kalau lo itu pengecut."
Aku benci kata-kata sinis itu, tapi apa yang dikatakannya memang benar adanya.
"Apa mau lo?"
"Gue mau lo terima penawaran gue."
"Elo gila atau apa, sih? Udah gue bilang berkali-kali, gue nggak mau terima penawaran dari lo, karena gue tahu, penawaran lo itu sama gilanya dengan diri lo."
Dia tertawa kecil. "Ah, dasar cowok cemen. Lo itu--"
"Atha! Rachel!"
Panggilan itu membuat gadis itu menghentikan kata-katanya.
"Hai," sapa Anya. Di sampingnya, Vano hanya tersenyum kecil pada kami seraya menggandeng tangan Anya.
"Hai, An. Sorry, gue cabut duluan ya, ada yang panggil gue tuh." Lalu gadis itu pergi entah kemana, meninggalkan kami bertiga.
"Atha...," Aku benci nada suara ini, karena kau tahu, saat Anya merajuk seperti itu, itu artinya dia ingin sesuatu dariku.
"What?" tanyaku malas.
"Nggak ada niat buat ngasih gue kado, gitu?"
"Gue udah ngasih lo kado, Anya."
"Ih, Atha. Kado yang ini beda. Gue mau lo ngasih kado buat gue sebagai ucapan selamat jadian baut gue dan Vano, oke?" katanya dengan memelas.
Aku benci ini. "So, apa yang lo mau?"
"Nyanyi buat gue? Piano juga udah gue siapin, tuh." Dia menunjuk piano yang memang sudah ada di atas panggung.
"Oke," putusku akhirnya.
Aku menaiki panggung kemudian duduk di hadapan piano itu. Dapat kulihat Anya dan Vano yang mengambil posisi untuk berdansa sebelum aku mulai menekan tuts piano dan bernyanyi.



* END *

November 17, 2015

SongFiction: When I Was Your Man (Part 1)




 Karya: Ismaa

"Atha gila!!"
Aku hanya dapat tertawa lepas ketika mendengar teriakan Anya. Iya, Anya, sahabatku sedari kecil. Dia tinggal satu kompleks denganku. Rumahnya hanya berjarak 2 petak rumah dari rumahku.
Aku berhenti tertawa ketika derit suara pintu yang terbuka berbunyi. Dari dalam rumah, Anya keluar membawa kantong yang kuyakini berisi tikus mainan yang kubeli tadi pagi saat menemani Mama ke pasar. Yah, mungkin karena niat usilku untuk mengerjai Anya sedang menggebu-gebu, maka dengan teganya aku menaruh tikus mainan itu di kasur Anya. Kontan saja Anya langsung histeris saat melihat tikus mainan itu. Dan aku, yang aku lakukan hanya bisa tertawa puas melihat wajah Anya yang merah padam menahan kesal.
"Nih," dia melemparkan kantong berisi tikus mainan itu kepadaku, "gue balikin tikus mainan lo!"
Setelah mengucapkan itu, Anya langsung masuk ke dalam rumah, pergi meninggalkanku yang kembali meledakkan tawa.
"Bye-bye, Anya. Gue simpan ya, tikusnya." Akuu melambaikan tangan kemudian segera pergi setelah mengambil tikus mainan itu. Lumayanlah disimpan, jaga-jaga untuk usilin Anya kapan-kapan.
***
Aku hanya bisa menatap Anya bingung. Iya, aku bingung harus berbuat apa. Saat aku tiba di rumah, tahu-tahu Anya sudah berada di ruang tamu sambil menangis tersedu-sedu. Tisu-tisu bekas sudah berserakan di sekelilingnya. Aduh, jika Mama sampai tahu rumahnya berantakan seperti ini, beliau pasti akan murka.
"Anya, please, bisa nggak lo diem sebentar lalu cerita ke gue apa masalahnya, oke?"
Bukannya menuruti perkataanku, Anya masih terus menangis terisak. Tak jarang dia mengusap air mata yang terus mengalir dan membersihkan ingusnya.
"Atha... Va-vano...," dengan terbata-bata dia berkata, "Vano, Tha, dia jalan sama cewek lain."
Rasanya, aku ingin menenggelamkan Anya ke dalam samudra yang paling dalam. Aku kira dia menangis karena ada masalah yang penting. Tapi nyatanya, hanya karena Vano-gebetannya di sekolah-jalan dengan gadis lain, dia bisa menangis selebay ini. Dasar perempuan, selalu baper dan berlebihan!
"Please, Anya. Kenapa juga lo harus nangis sehisteris ini, sih?" kataku sinis. "Anya, Vano itu cuman gebetan lo aja, jadi wajar dong, kalau dia mau jalan sama siapa aja. Enggak harus sama lo, kan?"
Dan Anya hanya menangis semakin histeris setelah aku berkata seperti itu.
"Atha jahat! Lo nggak tahu gimana rasanya jadi gue. Gue tuh serasa dikasih harapan palsu tau nggak sama Vano. Secara, selama dua bulan ini, kan, kita udah deket banget. Masa iya, gue cuman dijadiin selingannya aja?"
Aku bingung harus berkata apa lagi.
***
Karena tak menemukan lagi cara untuk menghibur Anya, akhirnya aku hanya mengajaknya pergi ke taman kota yang tak jauh dari kompleks perumahan kami. Sore hari seperti ini, taman kota terlihat ramai dengan banyaknya orang yang mengisi seluruh penjuru taman. Anak-anak kecil pun berlarian, bermain bersama teman sebayanya. Tak jarang juga kulihat sepasang muda-mudi yang tengah bersantai di bangku taman yang telah disediakan. Ah, tempat ini memang cocok untuk tempat berpacaran.
"Gue udah ngajak lo ke sini, jadi terserah lo masih mau nangis histeris di sini apa enggak," kataku pasrah.
"Atha...," rajuknya, "gue, kan, cuman meluapkan rasa sedih gue," katanya tanpa dosa.
Aku mendengus sebal. Wanita dan alibinya.
"Mending sekarang lo hibur gue deh, Tha."
Aku berpikir sejenak, "lo tunggu di sini sebentar," kemudian pergi meninggalkan dia.
Aku membeli semangkuk besar es krim untuk Anya. Layaknya perempuan lain, Anya juga sangat menukai es krim, terutama rasa cokelat.
"Nih, buat lo." Aku mengulurkan mangkuk es krim itu ke arahnya.
Senyum lebar segera terulas di wajahnya. "Ah, Atha baik banget deh. Thanks, Atha. Love you..."
Aku hanya membeku mendengar kalimat terakhirnya, sedangkan dia, dia segera melahap habis es krim itu.
***
Jika dua hari yang lalu Anya di rumahku menangis histeris, maka hari ini tampaknya dia sedang sangat bahagia. Dari tempatku berdiri saat ini, aku dapat melihat Anya sedang duduk di taman belakang sekolah dengan senyuman lebar yang tercetak jelas di bibirnya. Terlihat bahwa sesekali dia juga tampak bersenandug kecil.
Tak lama berselang, Vano datang membawa dua botol minuman. Satu botol diserahkan kepada Anya yang langsung diterima dengan senang hati. Kemudian, Vano ikut duduk di samping Anya. Mereka tampak terlibat dalam obrolan yang seru, dan aku benci karena tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tiba saat dimana Vano mencondongkan tubuhnya ke arah Anya untuk membersihkan dedaunan dari rambut gadis itu, membuat aku mengepalkan tangan. Aku benci hanya menjadi penonton di sini. Aku benci hanya bisa berdiam diri. Aku benci karena mereka terlihat... mesra, aku benci.
Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, dan sentakan yang kuat di tubuhku membuat diriku berbalik. Hal selanjutnya yang kulihat adalah wajah seorang gadis yang tingginya hanya sampai daguku, sehingga aku harus sedikit menunduk jika ingin melihatnya.
"Hai," sapanya, tak lupa dengan senyum menyebalkannya--menurutku.
"Ngapain lo di sini?"
Dia menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum geli. "Cari angin aja," jawabnya santai. "Males di kelas, sumpek. Lebih enak di sini, kan?"
"Mendingan lo pergi, deh." Aku kembali membalikkan tubuhku, kemudian menatap mereka di bawah sana. Anya terlihat menutupi wajahnya. Kenapa?, satu pertanyaan terlintas di benakku.
Kulihat tangan Vano menarik tangan Anya yang menutupi wajahnya. Meski samar, aku masih bisa melihat semburat merah dipipi Anya. Aku juga benci hal ini, karena bukan aku yang membuat Anya tersipu malu seperti itu.
"Cemburu, huh?" Pertanyaan itu membuat aku sadar jika masih ada orang lain di sini. Rupanya gadis itu belum pergi juga.
"Apa?" tanyaku ketus.
"Elo," dia menunjuk diriku, "cemburu," kemudian menunjuk mereka berdua yang ada di bawah sana.
"Mendingan lo pergi, deh." Sekali lagi aku mencoba bersabar pada dia.
"Ck," decaknya kesal. "Dasar pengecut!"
Aku menggeram, menahan amarah antara perkataannya dan rasa cemburu yang ingin kuluapkan
"Sekali lagi lo ngomong kayak gitu, gue nggak akan segan-segan--"
"Apa?" potongnya. "Elo mau nampar gue? Mukul gue? Nggak mungkin," katanya meremehkan.
"Jangan coba-coba--"
"Gue punya penawaran buat lo," potongnya lagi.
Aku menarik napas gusar. Jika masih terus berada di sini, bisa-bisa gadis ini menjadi sasaran kekesalan dan amarahku.
"Oke, gue yang pergi."
Dengan kata itu, aku benar-benar pergi dari tempat terkutuk itu.


Bersambung ....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...