October 31, 2015

KEPUTUSAN


Karya: De 


Butuh waktu yang panjang untuk dapat seperti ini

Butuh pengorbanan yang besar untuk dapat seperti ini

Butuh banyak pertimbangan untuk dapat seperti ini

Semua ini bukan pencapaian yang mudah

Percayalah bahwa aku menyesal

October 29, 2015

October 25, 2015

Songfiction : Kado Terindah (Part 2)




“Happy Birthday, Dannet (Melly)

Semoga panjang umur (Abiy)

Tetap sehat! (Rayhan)

Jadi orang sukses (Walid)


Semoga setiap ulangannya dimudahkan (Ica)

Happy Birthday (Shahnaz)

Semoga dapet nilai yang bagus (Rico)

Tambah Cantik (Rafi)


Semoga langgeng sama Wheza (Syakura)

Semoga keinginannya terwujud (Dimas)


“SELAMAT ULANG TAHUN, DANNETA ...” Seluruh teman-temanku berteriak kompak dari dalam rekaman handphone yang kupegang.

October 10, 2015

SongFiction: Kado Terindah (Part 1)

Karya: Wheza
 

Sebelum aku mulai ceritaku, aku harap kalian tidak iri, baper, atau berharap bahwa gebetan kalian akan melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan...

***



***

“AYO MANA TERIAKANNYA SEMUA?!” Aku membangkitkan semangat murid-murid baru yang berdiri di bawah panggung aula.

Semua penghuni aula berteriak sekeras yang mereka bisa.

Pagi hari ini tidak ada yang bisa mengalahkan hebohnya penyambutan murid baru di sekolahku. Aku bisa melihat puluhan wajah baru yang hadir di aula. Ceria. Sangat bersemangat. Tidak sabar ingin memulai pelajaran di sekolah ini. Menunggu moment yang sama seperti yang aku rasakan di atas panggung. Ingin segera menunjukkan bakat mereka.

Tapi tidak sekarang. Kali ini, giliran aku yang mempersembahkan sesuatu yang istimewa di atas panggung. Aku ingin memberikan kejutan pada seseorang.

“Ada yang tahu sekarang hari apa?” Aku mencoba mengambil alih fokus semua murid. Guitar di depan perutku dikesampingkan.

“S-E-N-I-N”

“Tanggal berapa sekarang?” Mulutku mencoba berbasa-basi, mengajak para penonton di bawah sana berbincang sebentar. Sambil kedua mataku menelusuri setiap wajah baru yang menghadap padaku. Mencari seseorang.

“S-E-M-B-I-L-A-N B-E-L-A-S J-U-L-I”

“Ada yang istimewa tanggal sembilan belas Juli ini. Ada yang tahu?” tanyaku. “Yap! Hari ini adalah hari yang spesial karena kalian berhasil lolos masuk ke sekolah paling favorit di kota kita. TEPUK TANGAN BUAT KITA SEMUA!”

Seolah terhipnotis oleh kalimatku, aula dipenuhi oleh tepuk tangan penonton. Riuh ramai. Sebagian bersorak, satu dua bersiul.

Selagi penonton riuh bertepuk tangan, mataku masih berkeliling mencari wajah seseorang. Dimana dia? Oh... dimana kamu, sayang?

“Mungkin bagi kalian, hari ini hanyalah hari dimana kalian akan bergabung ke sekolah ini. Tapi bagi seseorang, hari ini adalah hari yang istimewa.” Tepat saat aku mengucapkan kalimat itu, sosok cantik yang kukenal tertangkap oleh lensa mataku

“Lagi kali ini aku tulis, dan aku persembahkan hanya untuknya,” Aku menatap lamat sosok cantik di depanku. “...aku harap kamu menyukainya.”

Aku memberi ketukan pada guitar.

Satu, dua, tiga, empat...

Aku mengayunkan tanganku, membuat keenam senar guitar bergetar. Adam mulai memainkan bass. Tempo cepat. Iwan mengikuti dengan menekan keyboardnya. Intro slow dengan tempo cepat itu kuulang, dua kali empat. Fikri memberi ketukan di bar terakhir dengan hi-hat-nya.

“Kado Terindah,” ujarku menyebutkan judul lagu yang kami mainkan.

Begitu ketukan keempat, aku merubah instrument guitar menjadi overdriven. Fikri memukul crash symbal, sambil diselingi oleh bass dan snare. Rock-mode-on.

Aula mendadak sunyi. Instrument musik kami yang menggema. Intro yang indah mengambang di langit-langit aula, membawa para penonton ikut memasuki irama.


“Sembilan belas Juli

Bertambah satu tahun lagi

Hari istimewa


“Kupersembahkan padamu

Kado Terindah dariku

Semoga kau suka


“Karena kau-lah yang berarti

Kau yang tak pernah terganti

Kau yang selalu kucintai


“Selamat ulangtahun

Selamat panjang umur

Mau-kah kau menjadi pacarku?


Musik berhenti.

Fikri bangkit berdiri. Beranjak menuju posisi berikutnya. Kini gantian drum elektrik yang mendominasi ruangan. Musik berubah genre menjadi slow-jazz ga jelas.

Aku memberi sentuhan nada dengan merubah instrument menjadi electric guitar. Adam mengikutiku. Sebelum kemudian, Iwan menunjukkan kebolehannya. Bermain lihai dengan tuts keyboard. Keyboard solo dua kali empat, lalu diikuti dengan irama keyboard sama dengan guitar, dan kemudian ditutup oleh instrumental Happy Birthday.

Dan musik kembali berhenti.


Selamat ulangtahun, Danneta... ujarku sambil menatap sosok cantik jauh di antara kerumunan di bawahku.


Perempuan itu mengangkat kedua tangannya, menutup mulutnya. Terkejut... senang... terharu... bahagia... sejuta perasaan itu terlukis jelas di sepasang bola matanya.

Aku memainkan guitar yang diikuti oleh Adam dengan bassnya. Mengulang kembali intro. Sambil bibirku mengucapkan birthday wish untuknya;


“Semoga semua impiannya tercapai,

semangat terus belajarnya,

Jangan lupa ibadah!

Ini ucapan dari teman-temanku:


Aku mendekatkan handphone-ku ke microfon. Memutar aplikasi perekam yang berisi wish dari teman-teman sekelas.

Bersambung ke Kado Terindah Part 2

October 7, 2015

a n a l o g i || t i r a n i


Karya: Just-Anny

Tirani hilang
Kamu tinggal seorang
Raga ragamu hanya tinggal berbalut compang
Kelam meringkuk sendiri tanpa riang

Tirani hilang
Kamu tinggal seorang
Pangeran pangeran mana tak juga datang
Tirani hilang tak ada ucap sayang

copyright © 2015 by just-anny
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...