July 31, 2015

LAMPION | Part 2 (end)

Ilustrasi karya Waskito Widya, hak cipta sepenuhnya milik ilustrator


Karya: April Cahaya

Festival ini digelar tiap tahunnya di Semarang sebagai perayaan HUT kota Semarang. Festival ini sering disebut Festival Banjir Kanal, karena festival ini diadakan di daerah sekitar sungai Banjir Kanal Barat Semarang. Berbagai acara diadakan setiap tahunnya seperti festival kuliner Jawa Tengah, festival mancing, pertunjukan musik, festival perahu hias dan festival lampion.

Waktu


 Karya: De

W
aktu, kadang kita ingin mempercepat waktu. Keinginan itu datang saat kita mulai lelah menjalani rentetan angka-angka yang seolah di patri dalam hidup. Sudah menjadi keharusan berkutat dengan deretan pekerjaan. Euforia malam pasti sangat berat untuk dilewatkan. Fajar mungkin bukan hal yang dinanti, malah cenderung ingin dilewati. Tapi, bagaimana bisa kita hilang beban? Bagaimana bisa angkat kaki dari tugas hidup ini? Lantas cara mengatasi?

July 30, 2015

a n a l o g i || j e n g g a l a


 Karya: Just-Anny

Miris mataku menatap nyalang kau yang sendirian di jenggala sore hari
Mengikis kayu di tepi kali, menggesek batu hidupkan api
Kanan kiri hanya ada sepi
Lusuh sendiri, hidup penuh ironi

Putih Abu-Abu | Part 7 (Move2)

Karya: Yui


H
ari demi hari terus berlalu, dimana kenyataan aku akan pindah akan segera ter-iya-kan.

Aku tak kuat menahannya sendiri, aku putuskan untuk memberi tahu seseorang.

Saat itu aku sedang mengobrol dengan Fire, tadinya orang pertama yang akan aku beri tahu adalah Widi sahabatku, tapi saat aku bermain dengan Fire ya seputar drama GJ yang sering kita mainkan aku keceplosan. 

July 29, 2015

LAMPION | Part 1

Ilustrasi karya Waskito Widya, hak cipta sepenuhnya milik ilustrator


Karya: April Cahaya

S
udah hampir satu tahun aku tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Semarang. Aku bukanlah mahasiswa perantauan, karena aku memang asli Semarang. Mengambil S1 Akuntansi, mengharuskan aku benar-benar berkutat dengan angka-angka ribuan bahkan triliun rupiah tapi dalam bentuk angka.
Ternyata begini ya rasanya menjadi seorang mahasiswa,selalu disibukkan dengan tugas-tugas yang menggunung dari dosen-dosen pengajar. Ingatlah hidup mahasiswa tak seindah cerita-cerita FTV. Yang kehidupannya hanya masalah percintaan mulu. Heh itu salah besar, beneran.

July 28, 2015

Inilah 3 Juara Lomba Unexpected Ramadhan 2015


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat kepada kita semua sehingga kita masih dipertemukan dalam momen membahagiakan yang satu ini, yakni  pengumuman pemenang lomba menulis Unexpected Ramadhan. Lomba ini kami laksanakan untuk meningkatkan kecintaan kita terhadap bulan ramadhan dan mengingatkan bahwa ramadhan adalah bulan spesial yang menyenangkan.

July 27, 2015

Putih Abu-Abu | Part 5 (Friendship)


 Karya: Yui

S, dia selalu mengisi hari hariku dengan segala tindakan jahil nan GJ-nya. Tapi itu selalu membuatku senang, ya dari dulu aku sangat suka bermain dengan cowo, mungkin sebagian besar sahabat sahabatku juga cowo. Cewe itu kadang malah bikin kesel tapi kadang sesuatu hal yang sangat pribadi hanya dapat di bicarakan antar perempuan. 

July 26, 2015

Putih Abu-Abu | Part 4 (Our Organization)


 Karya: Yui

S
emenjak hari itu kami jadi sering di panggil untuk mengikuti beberapa pertemuan. Pertemuan puncak saat kami 1 sekolah akan pergi ke sekolah lain untuk bertemu dengan cabang organisasi yang sama dari sekolah lain. Karena smart girl dengan tinggi badannya yang waw, dia di pilih sebagai perwakilan di proyek sekolah yang lainnya sehingga dia ga bisa ikut. 

July 25, 2015

Pena Merah



 Karya: Nurfaqih Ilham

H ari yang indah  nan sunyi untuk kembali bersamanya. Gumam Keyla dalam hati.
“Terserah, kalau kau mau pergi duluan silahkan saja.” Sambil menundukkan kepala, Keyla mengambil secarik kertas dari tasnya.

Putih Abu-Abu | Part 3 (Otaku)


 Karya: Yui

Dia berubah setelah menganal dan akrab dengan pemain basket di kelas. Jadi sedikit bandel dan beberapa kali suka mabal. Tapi ga sering, kadang bikin aku ilfeel dengan sikapnya. Tapi aku ga peduli, asalkan dia masih ada di sampingku dan tidak kesepian seperti dulu. Haha mulia sekali kalo di tulis mah ya. wkwkw..

July 24, 2015

July 23, 2015

July 22, 2015

Masa dan Manusia




Karya:  Destialova Rully Cajuizi


 “Wahai Sya’ban, sebentar lagi tugasmu selesai.” Ujarku pada Sya’ban.
Sya’ban menatap Ramadhan yang bersiap di dekatnya, “Jadi hilal sudah tampak?”
“Tentu saja sudah dari tadi. Manusia-manusia di bumi sudah berhasil melihat hilal dengan alat canggih mereka−teropong. Beberapa di antara mereka juga sudah menghitung datangnya Ramadhan jauh-jauh hari,” jelasku, “waktumu tinggal setengah jam, lalu Ramadhan masuk menggantikanmu.”

Tuhan dan MainanNya




Karya:  Hera Wahyuningtyas Pangastuti


Iklan tayangan bertema Ramadhan sudah menjamur di berbagai stasiun televisiku. Ini pertanda bahwa Ramadhan kian berlari dan mengunjungiku. Ramadhan tahun ini kurasa akan sangat berbeda. Dina yang berkesibukan dengan menulis, bisnis scraft book, dan kerja serabutan di bidang kesenian handy craft akan menghabiskan seluruh Ramadhan 1436 H di rumah saja. Dina sudah membuat banyak agenda kegiatan untuk mengisi bulan suci ini dengan berkarya dan bergerak. Soal impian sudah tidak perlu ditanya lagi, ia sudah menyiapkan banyak goal yang harus dicapai bulan ini. Oleh karena itu Dina fokuskan bulan suci tahun ini untuk berikhtiar untuk meraih goal yang aku inginkan.

July 21, 2015

Oh Ternyata, Sungguh Tiada Kusangka




Karya:  Muhammad Syahrian Najah


Butiran keringat bercucuran deras dari dahi Adib. Dia merasakan hal yang sangat aneh dalam hidupnya. Seakan dia tidak pernah tahu dan melihat tempat yang sekarang kedua kakinya mencengkram dengan kuat. Udara malam terasa sangat dingin hingga menusuk tulang badan, tetapi dinginnya malam tidak dapat membendung keringat Adib dari pori-pori kulit tubuhnya. Bersama dengan derasnya tetesan keringat, air mata Adib pun ikut menetes jatuh dari sumbernya, mengalir lamban hingga melewati kedua pipinya. Tiada perasaan apa-apa, kecuali kepanikan yang dirasa tidak berujung. Betapa kagetnya dia, tiba-tiba sesosok wanita yang sangat mirip dengan Ibunya, berjalan dari arah depannya yang gelap gulita. Semakin dekat, ternyata benar wanita tersebut adalah Ibunya. Kini jarak antara Adib dengan ibunya hanya sekitar 2 meter saja. Adib semakin merasa panik dan bingung tidak menentu. Entah apa yang membuat Adib hanya bisa menatap dengan mata yang penuh air mata, dengan bibir yang menganga pada raut mukanya yang menandakan kebingungan, lidahnya pun seakan tidak dapat mengeluarkan satu huruf pun dari mulutnya. “Kenapa saya berada disini? Dan kenapa juga ibu menyusulku? Padahal, ini tempat yang sangat menyeramkan.” Hanya hati Adib yang mungkin bisa bertanya-tanya tanpa ada jawabannya. “Nak, Kenapa kamu menangis? Ayo kita pulang!” Suara ibunya yang memecahkan keheningan malam itu. Adib ingin menjawabnya, tetapi dia merasakan bahwa mulutnya telah bisu. “Adib, kok malah bengong? Ya sudah, Ibu pulang dulu ya.” Kembali ibunya mengajak Adib, tetapi mengangkat kaki untuk melangkah pun tidak bisa. Bak patung yang tiada guna. Langkah demi langkah ibunya semakin menjauh dari depan Adib. Mata Adib memejam, hatinya bingung tidak karuan. “Adiiib! Tolong ibu Dib!” Jeritan ibunya dengan sangat keras dan panik yang mengagetkan Adib. Mata Adib yang tadinya terpejam langsung membelalak dan menatap tajam ke arah ibunya. Ternyata ibunya dibekap oleh seorang lelaki bertubuh besar dan berpakaian hitam yang sepertinya akan membawa kabur ibunya. Dalam tatapannya, Adib melihat ibunya yang berbadan mungil tidak bisa melawan dan lepas dari dekapan lelaki itu. “Ibuuuu! Ibuuuu!” Hati Adib meronta-ronta tidak terima dengan semua ini. Adib berusaha berteriak dan mengejar ibunya. “Aaaaaaaaah! Hei! Jangan sakiti ibuku!” Akhirnya teriakan Adib dapat keluar dari mulutnya dan Adib terasa normal kembali. Langsung dia kejar lelaki tersebut. Secepat macan yang ingin menerkam mangsanya, Adib mengejar ibunya. Masih terlihat bayangan ibunya di depan Adib. “Duaaaaaaarrr! Duarrr!” Suara petir menyambar-nyambar seperti akan ada badai sebentar lagi. “ Hei! Tunggu! Jangan bawa ibuku! Paaaaaaaak! Tunggu Paaak!” Teriakan Adib kepada lelaki tersebut. Tetapi apa yang terjadi? Alangkah terkejutnya Adib, tiba-tiba ibunya menghilang bersama lelaki itu. Di depannya Hanya semak belukar dan pohon-pohon rindang. Tidak ada orang selain Adib seorang diri. “Ibu! Ibu dimana? Kemana larinya orang itu?” Teriakan dengan air mata Adib yang semakin deras. “Tidaaak!! Ibuuuuuuuu!” Seperti tidak percaya, Adib terus memanggil-manggil ibunya. “Adib! Adib!” Suara tersebut terdengar samar-samar di telinga Adib, dan suara itu seperti suara ibunya. “Adib! Adib!” Dengan panggilan tersebut Adib tersadar. Adib! Bangun! Sholat Dhuhur dulu.” Adib langsung tersadar dari tidurnya dan memang benar itu adalah suara ibunya dari luar pintu kamarnya. “Astaghfirullah, ternyata mimpi” Sepontan terucap dari mulut Adib. “Iya Bu, Adib sudah bangun.” Saut Adib kepada ibunya. “Kenapa aku bermimpi buruk sekali, ya Allah, Apa arti dari mimpi tadi?” Dalam hati Adib yang masih gundah perasaannya. Lekas-lekas Adib bangun dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan sholat. Dia tidak bisa fokus dalam sholatnya, karena masih terpikirkan mimpinya itu. Dalam doanya selepas sholat Adib meminta kepada Allah samoga mimpinya tidak membawa pengaruh buruk untuk dia dan keluarganya.

Abel & Handsun




Karya:  Jeje


Di jalan dusun yang dulunya sunyi, dalam sekejap menjadi ramai karena suara tembakan yang bersaut-sautan, darah, teriakan, tangisan dimana-mana. Hampir di setiap sudut wilayah. Bahkan, lereng gunung yang sepi menjadi tempat berlindung penduduk. Para koloni Belanda terlihat jelas mondar-mandir sibuk mencari tempat teduh sambil menyiksa kaum yang lemah. Mereka tertawa di pulau Kalimantan yang subur. Merampas segala SDA (Sumber Daya Alam) yang ada. Belum lagi melemahkan Islam dengan upaya Kristenisasi kian maju. Buktinya, ide-ide Barat mampu merasuki para petinggi negara agar tetap tunduk kepada para koloni.

Nafas Nawaitu




Karya:  Dinda Nazlia Reeswind


Puasa adalah momentum untuk berkumpul bersama keluarga. Banyak daftar rencana yang telah saya rancang jauh-jauh hari untuk diwujudkan di puasa Ramadhan tahun ini, 1436 H. Salah satunya adalah mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental. Tidak ada yang istimewa memang, tapi sederhananya saya sangat bersyukur atas KuasaNya yang masih mengizinkan saya bernafas hingga detik-detik puasa tiba. Saya tahu dan saya paham, pengetahuan agama saya boleh jadi masih minim di usia saya yang 19 tahun ini. Namun saya bertekad penuh untuk mempertebal iman saya yang masih tipis ini dengan meningkatkan frekuensi mempelajari secara intensif apa makna Al Qur’an sesungguhnya, berinfaq, dan mengerjakan yang sunnah seperti yang dianjurkan dalam Al Qur’an maupun hadits yaitu sholat sunnah. Mama berulangkali mengingatkan saya untuk mengonsumsi susu demi kesehatan saya, namun itulah yang sering saya abaikan. Ibu adalah sosok yang lembut, perhatian, kasih-sayang, dan selalu mendengarkan keluh-kesah kami. Lalu ayah, bisa saya gambarkan sebagai sosok yang keras, dingin, tidak banyak bicara, dan tegas. Barangkali karena sifat ayah saya yang seperti itu mengakibatkan kami, anak-anaknya segan dan sedikit enggan untuk mengeluarkan uneg-uneg kepada ayah layaknya hal yang sama kepada ibu, paling tidak kami hanya berbicara seperlunya saja. Begitupun, kami sangat sayang dan menghormati kedua orang-tua kami.
Puasa tahun ini bertepatan dengan uas saya sekaligus tahun pertama saya sebagai mahasiswa. Saya sangat sibuk menjelang uas karena terlalu banyak yang harus saya urus, bermacam kegiatan hingga pulang kerumah sering telat dan larut. Ini dikarenakan jarak rumah saya ke kampus hampir menempuh kurang-lebih 20km untuk sekali jalan dan saya mengendarai sepeda motor. Dan karena sudah sangat lelah pulang kerumah, hal pertama yang saya lakukan ketika sampai di rumah umumnya adalah mandi dan pergi tidur. Ini sering saya lakukan sehingga minim komunikasi yang terjalin antara saya-ibu-ayah-kakak-adik. Saya tidak bisa melupakan tanggal itu, 14 Juni badan saya meriang pertanda demam di rumah dan ibu sangat menyarankan saya untuk segera mengonsumsi obat, namun saya menolak dengan alasan saya sedang tidak butuh obat dan hanya menginginkan istirahat. Ibu hanya diam dan mengatakan terserah pada saya sambil berlalu meninggalkan saya di sofa. Dari nada bicaranya saya tahu beliau kesal terhadap saya, tapi yang lebih penting saat ini saya hanya ingin tidur dan berharap setelah bangun, bisa sembuh. Sebab besok, 15 Juni saya masih ada jadwal kuliah. Itulah yang saya yakini. Saya masih terkulai lemas namun saya tetap memaksakan diri untuk menghadiri jadwal kelas yaitu : pukul 08.15-10.00, 12.30-14.30, & 14.30-16.00. Sehabis kuliah, pukul 4 sore tepatnya, saya dijadwalkan untuk menghadiri suatu agenda rapat kemahasiswaan lalu dilanjutkan diskusi kelompok dengan teman sekelas, dan pulang. Dan kita tahu, rapat & diskusi sudah sudah bisa dibayangkan akan menguras energi, dan memakan durasi yang lama. Namun siapa tahu, kita boleh berhajat, namun Allah Swt yang akan menentukan. Rencana tinggalah rencana.

The Secret of Sincerity




Karya:  Purnama Putri


Sudah masuk waktu dzuhur namun belum juga ada panggilan adzan menggema di sekitaran bumi yang Rahmat pijak. Padahal sengaja Rahmat meninggalkan segera antrian panjang casting-nya untuk menghadap kepada Sang Ilahi. Jika saja ia tahu, jam segini masih sedikit orang yang menyambangi masjid, ia tak perlu terburu-buru datang demi mengejar shalat berjamaah.

TANDA TANGAN




Karya:  Balqis Sukma Pertiwi


Teriknya panas dan asap buangan dari kendaraan para orangtua dan wali yang baru saja mengambil rapor rasanya membuatku makin kesal. Barusan aku ditinggal Abang pulang karena ada satu nilai merah di raporku,IPS terpadu. Katanya Ia tak mau berjalan dengan adik yang bikin malu. 

Moment penting di awal berpuasa




Karya:  Yogi Dwi Prasetia


Dua laki-laki hidup selalu bersama bukan berarti mereka jodoh dan berpasangan. Sebagian orang, baik itu teman sebaya maupun masyarakat menjuluki mereka dua sejoli. Dari mulai mereka dilahirkan dirumah sakit yang sama, menempuh pendidikan SD, SLTP, hingga SLTA mereka selalu bersama. Kelangsungan hidup seseorang memang membutuhkan bantuan orang lain, maka dari itu manusia dijuluki sebagai makhluk sosial. Sehingga atas dasar itu persahabatan mereka tidak mudah retak.

SESEDERHANA SECANGKIR KOPI




Karya:  Lia Fissa

Langkah kaki itu semakin cepat, menapaki jalan setapak di bawah penerangan bulan. Tubuhnya yang tinggi besar membuatnya harus menunduk saat melewati gerbang bangunan yang ia tuju. Saat ia mulai masuk pintu, matanya memandang sekeliling. Baru awal bulan, namun suasananya sangat ramai sekali. Ia harus menempati ruang yang mana? Tanpa pikir panjang, ia merebahkan kain tebal berukiran masjid di pojok ruangan paling belakang. Ia mulai sholat, menyesuaikan rekaat yang sudah hilang.
Riana menguap berkali-kali saat khotib menyampaikan ceramahnya. Sungguh, khutbah itu lebih membosankan daripada celotehan dosennya. Rasa kantuk yang menderanya tidak bisa ditahannya, berkali-kali kepala Riana hampir tersungkur menahan kantuk. 

July 20, 2015

AKU DAN BANG MAMANG




Karya:  Deni Iwan Dahlan

Plastik berisi beras itu banyak sekali. Plastik demi plastik bertumpuk-tumpuk membentuk piramida. Seumur-umur, saya belum pernah melihat keindahan dan kemegahan Piramida Giza di Mesir. Tapi dengan melihat plastik berisi beras yang menggunung itu sudah cukup mewakili gambaran tentang megahnya sebuah piramida.

Lost Side




Karya:  Galuh Tika Pratiwi

Senin ini adalah hari paling menyebalkan, sangat menyebalkan. Bayangkan saja, ketika kau menginginkan sesuatu dan hampir mendapatkannya, apa yang kau inginkan itu sirna. Aku tahu hari ini puasa, tetapi rasa curiga di dalam diriku tidak bisa hilang. Meski setan di penjara di neraka, tidak membuat semua amarah mereda. Aku benci keadaan di mana aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan.

MALAM KE-3 RAMADHAN




Karya:  Fadlun Suweleh

Malam ini adalah malam ketiga Ramadhan. Sepertinya tidak ada umat Islam yang tidak bahagia menyambut bulan suci ini. Meskipun aku belum bisa ikut berpuasa karena sedang ada ‘tamu bulanan’, tetap tak ada alasan untuk tak bahagia atas hadirnya bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan penuh ampunan. Tapi tidak dengan malam ketiga itu. Aku mengalami hal menakutkan yang belum pernah sekalipun kualami sebelumnya.

SELENDANG CINTA RAMADHAN




Karya:  LOLA APRILIA

“aku bangun pagi ini sambil dengar burung bernyayi, kupandangi pohon pohon indah mewarnai bumi panasnya mentari menghangatkan dan sinari bumi ku tersenyum dan menari mensyukuri hidup ini, terimakasih terimakasih untuk pagi ini ku rasa ku rasa damai dihati,  terimakasih terimakasih untuk hidup ini kurasa kurasa indah sekali “ujarku bernyayi sambil mengikat rambutku yang terurai panjang di punggungku.”sampai lupa kenalan gara - gara sibuk bernyayi, perkenalkan namaku Christy Anasthya, aku sekolah di SMA 108 Jakarta, aku asli Indonesia, rambutku panjang dan diujung rambutku sedikit bergelombang , mataku sipit wajahku oval, kalian pasti tau bagaimana cantiknya diriku ini “ 

Sahur Malam Itu




Karya:  Hasan Sazali

Untuk kesekian kalinya ketika kakak menelpon aku tidak membacakan satu ayat qur’an pun. Padahal sudah menjadi kebiasaan apabila kakak menelpon dari tempatnya kuliah—Universitas Al Ahgaf, Yaman Hadramaut kami saling melantunkan ayat-ayat. Aku akan memegang qur’an sambil tersenyum senyum mendengar keindahan suaranya, kadang  aku juga menghadapi secarik kertas lalu menulis lafalan qur’an yang kakak bacakan, kejelasan huruf dan ketepatan tajwidnya membuatku tidak pernah salah menuliskannya tanpa bantuan apa-apa. Kemudian aku akan menyetorkan hafalan juz amma yang dimintanya.

Munggah




Karya:   RENDY PRIBADI

Sabtu itu aku dan kawan-kawan hendak pergi ke sebuah pasar tradisional di Cikarang. Menggenggam uang lima puluh ribu rupiah, aku bersama seorang teman yakni Hirsul yang masih mengenakan baju SMA kala itu. Tujuannya tak lain adalah membeli bahan-bahan dan bumbu-bumbu untuk munggah. 

Cookies Coklat Pembawa Hidayah




Karya:  Intan Fatma Sari

Sebut saja namanya Ralin. Nama yang biasa didengar oleh anak-anak rohis di salah satu jurusan Universitas Negeri. Memang, akhir-akhir ini nama itu sering disebut oleh mereka yang sibuk di dunia rohis jurusan tersebut. Karena begitu aktifnya gadis satu ini dalam hal berdakwah dan kepanitiaan di bidang agama. Gadis yang cantik, supel, solehah ramah dan murah senyum. Tak heran jika banyak yang ingin berteman dengannya. Namun, dia bisa memilah-milah mana teman yang baik untuknya. Karena menurutnya lingkungan adalah satu hal yang sangat berpengaruh besar dalam hidupnya.

Ngitung trip kapal, mudik ni?!!!




Karya:  Tenggut

Tubuh matahari enggan masih untuk membelakangi dengan tubuh bumi melihat aura dibelakang matahari seksama putih awan menebal yang seakan malu untuk menunjukkan merahnya. Laut pada masa itu nampaknya tidur lelap menggulung menuju bibir pantai sehingga perpaduan dua diantarany yang sangat dan kompak menarik mata memandangnya. Suasana jalanan mengadu riauh rentak raungan knlapot tanpa henti bersautan, terkadang dalam batas normal namun sedikit mendengingkan gendang telinga. Tumpuk menggantung menu yang di saji untuk melawan rasa rohani ketika menggiurka segala usia dihiasi sebagian bazaar dengan tatanan warna warna batu akik. 

Kado Terindah dari Allah untuk Aisyah




Karya:  Rosita Nur Avisha

Sinar mentari muncul di ufuk timur kota yang menjadi dambaan semua pemimpi untuk bisa meraih apa yang diinginkan di kota ini. Perlahan-lahan mentari menampakkan dirinya, begitu juga dengan mulainya berbagai aktivitas yang menumpuk ruah di kota besar ini. Mulai dari supir angkot, kenek sopir, pedagang asongan, pedagang kaki lima di emperan toko, penjual koran, pengamen, para pekerja kantoran, hingga pejabat bertumpah ruah di jalan untuk bergegas menjemput impian dan asa yang dimiliki.

RAMADHAN PERTAMA




Karya:  Zulfa Nurrahmani Ananda Heparrians

Ramadhan, Ramadhan itu bulan penuh berkah. Hal yang dianggap istimewa setiap tahunnya di dunia, terutama negara yang mayoritas Islam. Indonesia termasuk bagian negara tersebut. Senyum merekah di setiap pelosok negeri, penduduk berlomba-lomba mencari pahala yang bagaikan harta karun terpendam. Semuanya berpartisipasi. Dari yang tinggal di desa maupun kota, yang kaya atau yang miskin, dari yang tua hingga muda, atau bisa dibilang dari kakek nenek hingga bayi baru lahir pun juga. Semuanya udah punya daftar sendiri hal yang bakal dilakuin. Contohnya mama dan papa. Mama yang pekerjaannya dokter yang sangat meminimalisir jam kerjanya selama bulan Ramadhan. Belanja kaya orang kesurupan yang main cabut-cabut bahan makanan di supermarket, hidup di dunia sendiri kalau masak, tapi memang ngga dipungkiri rasa masakannya yang buat kita ngacungin jempol. Kalau papa yang juga sebagai dokter ngerubah jam prakteknya supaya bisa lebih awal pulang untuk kumpul bersama keluarga, ngeprint jadwal sholat dan imsak, buat peraturan yang ditujukan bagi anggota rumah yang menuntut beribadah dan masih banyak lagi. Kalau dilihat-lihat, sepertinya memang orang-orang udah punya rencana sendiri di bulan Ramadhan ini, kecuali AKU.

July 19, 2015

Antara Reuni Teman dan Temu Kangen “Mantan”




Karya:  Anzdi Setya Pambudi

Bulan yang ditunggu-tunggu seluruh umat di dunia terutama umat muslim telah memasuki babak akhir, dalam bulan yang penuh berkah ini terselip banyak sekali cerita dalam setiap kesempatanya. Banyak orang yang mengelu-elukan bulan Ramadhan, mungkin karena bulan Ramadhan memang bulan penuh barokah. Banyak umat Islam ataupun non muslim yang merasakan manfaat yang sangat dalam di bulan Ramadhan ini. Bahkan, dalam Ramadhan, setiap umat muslim ataupun non muslim yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT dapat merasakan faedah dari bulan 1001 malam tersebut. Mereka serasa bergerak maju di jalan Allah SWT, dapat dilihat ketika masjid-masjid penuh dengan umat yang senantiasa berikhtiar kepada Allah SWT. 

Kepedihan di Ujung Ramadhan




Karya:  Nia Wijaya

Penyesalan selalu datang terlambat.
Terkadang aku membenci perasaan itu, dimana rasa kesal serta sedih menjadi satu membuat dimensi tersendiri didalam hati—memporak-porandakan hati menjadi hancur berkeping-keping. Ini bukan kali pertamanya penyesalan yang kualami, hampir setengah tahun berlalu perasaan menyesal selalu menggelayuti hatiku. Sepotong kenangan pahit selalu menghantui langkahku, ini sangat menyakitkan lebih menyakitkan ketimbang luka yang ditaburi garam.

Waktu Hampir Maghrib




Karya:  Dyasti Wulandari

Aku datang padamu saat waktu hampir maghrib. Kala itu matahari kemerah-merahan. Entah marah, entah merasakan hatiku yang berdarah. Seharusnya di bulan suci dalam agamamu ini dapat membuat hatimu mengingat kembali hatiku walau kita terpisah 80km. Namun, ternyata bulan suci ini membuat jarak di antara kita kian hari kian lebih lebar dari 80km. Aku pulang, bukan karena aku menyerah padamu. Namun aku menunggu bulan ini berakhir. Tuhanmu tidak akan membiarkanmu kali ini lengah pada doa-doamu.

Malam Indah Sheila




Karya:  shofiyaas

Denting waktu berjalan dengan iramanya bergerak mendekati angka delapan. Burung – burung berkicau riang berkejar – kejaran. Semburat sinar matahari menerpa wajah polos gadis berusia tujuh tahun yang sedang bermimpi indah. Ah, mimpi indah? Tidak juga. Gadis itu sekedar menutup mata lebih tepatnya. Ia tidak kenal apa itu mimpi indah. Kenapa ia hanya menutup matanya? Karena ia selalu takut untuk terlelap. Padahal segerombolan bintang di langit – langit kamar selalu setia menemaninya untuk tidur berharap gadis cantik ini akan selalu mendapat mimpi yang indah. Tapi hal itu tidak akan berpengaruh sama sekali.

DITIMANG ALUN RAMADHAN




Karya:  Galuh Fridayanti Pitaloka

Malaminiterasabahagiadalamsendu.Langkahkuharuskuarahkanpadakampunghalamanku.Deraitiraimalaminimembiasdiantararimbungelap yang membekaprinduku.Bolehkahkupintapada sang malam agar waktuinibisakurasakanlebih lama daribiasanya. Jemarikumenari di lukisanangin yang beriramabersamasahutan sang katak yang takkutahuartinya. Menaridanterusmenarisampaitawalepasmengalirdalamhatianakmanusia yang dirundungasmara. Cinta.Satuemosi yang saatinikupunya.

Bulan Mei Tahun 2016




Karya:  Orhie Tosca


Mataku melongo melihat tiga huruf diselingi koma pada layar laptop. Ya... mataku masih sehat, tidak ada sakit sedikitpun pada penglihatanku. Namun, yang kulihat sungguh diluar dugaan. IP sementaraku yang memegang teguh Magna Cum Laude  selama beberapa semester yang lalu tiba-tiba akhir semester ini berubah menjadi satuan nilai bulat tanpa angka setelah koma. IP ku Summa Cum Laude, atau sempurna. Beberapa sujud syukur dan ucapan hamdalah berkali-kali bapak panjatkan. Ingin rasanya langsung ku bersorak kegirangan melihat betapa tak terduganya hal ini. Ahhh... mimpi bodoh itu selalu bermunculan. Ya Allah.. 

Ramadhan di Ujung Jakarta




Karya:  Rafi Ahmad Razzak

Namaku Razi, aku baru saja bekerja di sebuah perusahaan yang terletak di Jakarta. Hari kedua ku bekerja tepat tanggal 1 ramadhan sehingga pengalaman kerja pertamaku ini tepat bersamaan dengan momen puasa. Sebenarnya aku sudah melamar kerja di tempat ini dari mulai bulan Maret, tapi entah mengapa baru di approve bulan Juni ini. Menurutku mungkin saja ini sebuah keisengan dari salah seorang manajer disana. Pada saat interview oleh HR disana juga ada seorang manajer yang baru aku tahu kemudian bahwa dia adalah bos ku. “Badanmu kan gede jadi pas puasa kamu punya banyak cadangan ya toh? Nanti ditempatin di gudang buat bantuin angkat-angkat barang aja.” begitu kata beliau pada saat wawancara. Awalnya kupikir itu bercanda ternyata ini menjadi kenyataan.

JOYAS UNTUK PADRES




Karya:  Azzukhruf

"En mi opinion, Reglas del genero novela romantica y linguistica so correctos" Tuturku.
(Menurut saya, Novem i i bergenre romantis dan kaidah kebahasaannya sudah benar)
"Claro?"  Sahut Dosen.
(Yakin?).
"Claro."  Ujaku dengan yakin.
(Yakin).
"Musicia Asma, Enhorabuena que pasaron y consiguiero  el titulo S.Pd" Jawab Dosen dengan senyum lebar.
(Musicia Asma, Selamat anda lulus dan mendapat gelar S.Pd)
"Alhamdulillah, Gracias Senor" Sahutku sambil sujud syukur.
(Terimakasih, tuan).


Kapok deh ah!




Karya:  Bela Mulia Wati

Kulihat dengan seksama,perlahan... .Mataku menjurus lekat pada jam yang melingkar pada tangan kiriku... tigaa...dua,....satuu... dan.. kringgg...... yes ini lah yang kutunggu, suara yang akan menggema diseluruh kelas yang menyerukan istirahat dengan aksen yang khas.Siang itu pukul 12.00, setelah pelajaran yang malas aku pelajari lebih bukan karena gurunya atau mungkin pelajarannya, lebih kepada diriku aja yang tidak berniat dengan pelajaran yang berkutat dengan angka dan rumus-rumus gaya dan sebagainya itu.
Aku memutuskan untuk pergi ke XI MIA 4,aku akan menemui seorang teman baikku untuk meminjam novel. Kuturuni tangga tangga kelas sebelas itu dan sampailah aku di kelas temanku yang baik hatinya yang akan kupinjami novelnya.

Secangkir Kisah Ramadhan Tahun Ini




Karya:  Daun Ungu

Udara pagi menusuk. Seakan jendela telah berhasil dijebol arwah angin. Kutarik selimut tebalku yang tersingkap hingga menutup seluruh tubuhku. Arwah dingin itu tidak boleh menyentuhku lagi. Dari jauh terdengar sayup-sayup suara yang tak asing lagi kudengar. Suara yang penah kudengar setahun silam kini terdengar kembali. Suara itu makin mendekat dan mendekat hingga aku bisa mendengarnya meski masih dalam jarak seratus meter. Ah, mereka!

Berkah Ramadhan





Karya:  Maulidatul Hassanah

Angin berhembus begitu kencang, semilir angin merasuk ke sukma ku, menusuk tulang-tulang rusukku. Aku pun berusaha membuka mata yang amat sempurna yang diberikan Allah, dengan dingin yang aku rasakan, ku dengar di luar sayup-sayup terdengar suara-suara yang menyerukan kami untuk bangun, yaa betul itu adalah suara penjaga keamanan yang membangunkan kami untuk segera bersahur.“Sahur, sahur, sahur, sahur”, begitu suara yang aku dengar dengan irama yang tegas namun mendayu. 

KEIKHLASAN DI BULAN RAMADHAN




Karya:  Kansha Arini Putri Indonesia


Hari sudah semakin sore. Waktu untuk berbuka puasa sudah semakin dekat. Aku masih duduk berdesakan di dalam angkutan umum yang selalu aku tumpangi setiap sore setelah pulang dari kantor. Sesekali aku melirik ke arah jam tanganku. Sudah setengah jam aku terjebak dalam kemacetan ini. Ah, kesabaranku benar-benar sedang diuji. Jika saja aku sedang tidak berpuasa mungkin aku sudah mengumpat bahkan mengeluarkan kata-kata penuh cacian dari mulutku lalu aku mengungkapkannya melalui sosial media yang aku miliki. 

RAMADHAN IN THE CITY OF THE LIGHT (PARIS)




Karya:  Aisah nur fitri


Senja menampakan dirinya di langit indah kota Paris, Prancis. Kumandang Adzan Mhagrib yang terdengar menambah suasana ketentraman Ramdahan di kota ini. Secangkir coklat panas diseruput sedikit demi sedikit oleh Peilin. Ia sedang duduk dan memandangi pelangi yang hampir hilang dari dalam cafe, yang berada di daerah dekat menara Eifel Kota Paris. Gadis berkulit kuning langsat, berhidung mancung, bermata indah dengan bola matanya yang coklat ditambah lagi dengan hijab yang menghiasi kepalanya. Membuat dirinya semakin cantik, seperti bidadari. Peilin berasal dari Indonesia, tepatnya dari Jakarta. Di Paris dia menempuh pendidikan. Karena dia sangat pintar, dia mendapat beasiswa disini. Setelah berbuka puasa, Peilin mampir ke Masjid yang berada tak jauh dari cafe. Gemercik air wudhu yang menyucikan dirinya terasa begitu segar dan dingin. Maklum jika airnya dingin, namanya juga Eropa heheh. Setelah dari Masjid, Peilin pulang ke rumah. Di sini Peilin tinggal bersama Tantenya, Tante Yami. Berdiri di halte bus ditemani dengan mantel bulu, yang menambah kehangatannya. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya bus datang. Peilin segera naik ke bus dan mencari tempat duduk. Peilin duduk sambil melihat jalanan dan sesekali melihat-lihat buku miliknya. Desssss.... suara berhenti bis berbunyi. Peilin segera turun. Tiba-tiba seseorang memanggilnya. Ternyata dia adalah yang duduk disampingnya. “Salut attandez, attandez-moi un instant (hei tunggu, tunggu aku sebentar)” “oui, quel est jusqu’a? (iya, ada apa?)” kataku. “Le Al-Qur’an vous?” (apakah ini Al-Qur’an kamu?)” tanyanya. “Alhamdulilah untung aja gak ilang” kata Peilin berbicara bahasa Indonesia dengan sendirinya. “Kamu bisa bahasa Indonesia?” tanyanya. “Aku emang orang Indonesia” kataku. “Kenapa ga dari tadi aja buuu pake bahasa Indonesia” kata dia menepok jidatnya. “Makasih ya kamu udah mau nganterin Al-Qur’an aku” kataku berterimakasih. “Iya sama-sama, lagian sekalian turun ko” katanya tersenyum. “Hmmm (mengannguk dan tersenyum) yaudah sekali lagi makasih ya” jawabku. Peilinpun melanjutkan jalannya ke rumah. Tiba-tiba “kamu ngapain ngikutin aku? kamu mau culik aku ya? S’il vous plait aidez-moi (tolong-tolong saya)” kata Peilin berteriak. “Ehh ehh shttt enak aja ge’er banget si jadi cewe” katanya dengan muka bt. “Terus kamu mau ngapain ngikutin aku?” tanyaku. “Siapa yang ngikutin lu. Tuh  liat tuh itu rumah gua” katanya sambil menunjuk sebuah rumah yang berada di depan rumahku. “Kok aku gak pernah liat kamu sebelumnya?” kataku heran. “Iyalah ga pernah liat. Gua aja baru sampe sini hari ini” jawabnya. “Yaudah aku masuk dulu ya” kataku. Ternyata rumah kami saling berhadapan dan hanya terpisah oleh jalan setapak. Aku langsung masuk ke kamar untuk bersih-bersih dan beristirahat

July 18, 2015

Antara Jali, Frends dan Ramadhan




Karya:  Anggi maulana


Hari ini, sebuah jam,  baik jam dinding maupun jam tangan jadi pusat perhatian banyak insan umat muslim di dunia entah kenapa jam menjadi artis dadakan dunia. Apalagi ketika mendekati adzan magrib. Perut meronta ronta ingin ada asupan makanan bergizi. Begitupun apa yang dirasakan jali pengalaman pertama ia berpuasa saking tak kuatnya ia menahan lapar dan dahaga, jam dinding ia bawa ia peluk erat erat. Sebentar bentar ia lihat, peluk lagi, lirik lagi.
Andi sahabat sejatinya kesal dengan apa yang dilakukan temannya. Bukan apa apa itu jam dinding punya tetangganya.

IMSAK




Karya:  UHFI LAVINA


Indonesia itu Negara musiman. Ndak Cuma musim kemarau dan penghujannya saja, tapi Indonesia punya banyak musim lainnya. Contoh yang lagi booming akhir-akhir ini musim begal, musim batu akik, musim ojek online alias Gojek, dan masih banyak musim yang lain. Bahkan sampai masyarakatnya juga bisa dibilang musiman. Musim facebookan, twitteran, bbman, masih banyak lagi. 

Eisha dan si Phelo Peliharaannya




Karya:  Pandu Dewanata


Pada jam satu dini hari, Eisha mengendap-endap berusaha tak menimbulkan suara berisik yang membuat rencananya pergi dari rumah terusik. Sebenarnya, Eisha tidak tega meninggalkan rumah ini, juga kota ini, tempat di mana segala hidup dan kenangnya tumbuh-kembang. Tapi Eisha tetap harus pergi, kota ini dan segalanya telah berubah semenjak si Pachycephalosaurus datang dan mengambil alih kerajaan dan kota ini. Menjadi raja baru yang semena-mena. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...