May 26, 2012

Cintaku Bersemi di Kue Pogo


Karya: Sayoga R. Prasetyo

"Yun, belum ada gorengannya nih? “, tanya Anam pada Yuni.


“ Belum lah bang, ini masih pagi. Tumben masih pagi begini abang sudah datang. “, ujar Yuni dengan penuh senyum. Tangannya masih sibuk menggoreng gorengan. Anam duduk di depan warung Yuni dengan wajah kesal. Biasanya sebelum ia datang ke warung itu gorengan hangat sudah terpampang jelas. Tapi kali ini sepertinya Anam terlalu pagi datang kesana. Perutnya sudah mulai keroncongan.

“ Ya sudahlah. Kopi saja Yun. “, ujar Anam lagi. Yuni langsung mengeluarkan termos dari bawah meja.

“ Dingin sekali pagi ini .  .  . “, ujar Anam lagi. Yuni tersenyum kecil. Tangannya masih sibuk membuat kopi panas.

“ Kan sudah kubilang dari tadi, abang terlalu pagi datang kesini. Ini masih jam 5 lebih seperempat. “, ujar Yuni. Tak lama Yuni menyodorkan secangkir kopi. Asapnya masih mengepul. Entah air kopinya yang terlalu panas atau memang pagi ini suhunya terlalu dingin.

“ Pogo ada Yun? Abang lapar, butuh sedikit cemilan. Gorengannya lama sekali . . . “, ujar Anam masih dengan ekspresi sedikit kesal.

“ Tuh bang. Ambil saja sendiri. “, ujar Yuni. Matanya seperti menunjuk – nunjuk ke arah ujung meja. Makanan ringan masih bertumpuk disitu. Sepertinya Yuni belum sempat mengantung – gantungkan makanan ringan itu.

Kopi itu sepertinya masih terlalu panas. Anam belum mencicipinya setetes pun. Anam langsung mengambil makanan ringan pogo dan langsung memakannya dengan lahap. Sepertinya ia benar – benar kelaparan.

Benar, pagi ini sungguh sepi. Di desa kecil itu tak terdengar suara sedikitpun. Bahkan kicauan burungpun tak terdengar sama sekali.

“ Ini gorengannya, Bang. Masih panas. “, ujar Yuni sambil menaruh sepiring gorengan di atas meja. Asap gorengannya mengepul.

“ Terimakasih, Yun. “, ujar Anam sambil tersenyum kecil. Kaki kanannya naik ke atas kursi. Sarung yang ia pakai ia lilitkan di pinggang.

“ Oh, ya. Kini kau kuliah dimana Yun? Seingatku kau baru saja lulus SMA ya? “, tanya Anam.

“ Iya bang. Tapi sepertinya aku akan diberangkatkan ke Malaysia. “, ujar Yuni dengan wajah sedih.

“ Kau akan jadi TKW? “, tanya Anam lagi.

“ Ya begitulah bang. “, jawab Yuni singkat. Mata Anam langsung terbelalak.

“ Bah, bapakmu kan juragan minyak tanah di desa ini. Keluargamu adalah keluarga paling mapan di desa ini. Lantas mengapa kau tidak kuliah saja? “, tanya Anam. Sepertinya ia benar – benar penasaran.

“ Entahlah bang. Abah yang menyuruh. Aku hanya mengikuti apa maunya Abah. “, ujar Yuni.

“ Ah, sayang sekali. Kalau aku jadi kau, aku ingin sekali kuliah dan mengejar cita – citaku jadi seorang pejabat. “, ujar Anam. Wajahnya kini berubah jadi serius.

“ Kini aku sedang resah menunggu hasil pengumuman beasiswa. Huh, sungguh sulit hidup jadi orang susah seperti ini. Kalau aku punya banyak uang mungkin aku bisa kuliah dengan mudah.“, ujar Anam lagi. Wajahnya sangat serius. Sepertinya ia benar – benar merasa berat menjalani hidup menjadi seseorang yang datang dari keluarga miskin. Sejak lulus SMA, ia bekerja dulu satu tahun untuk mencari biaya kuliah. Dan sekarang ia harus berusaha mengejar beasiswa agar bisa kuliah. Hidupnya susah.

“ Tuhan itu Maha Adil bang. Meski Abang orang miskin, belum tentu abang tidak bisa kuliah. Asal abang mau berusaha pasti bisa kok bang. “, ujar Yuni menyemangati Anam. Tidak terasa, kopi di meja sudah tinggal ampasnya saja. Anam sudah menghabiskan 5 gorengan. Terkadang dengan mengobrol waktu jadi terasa lebih cepat.

“ Eh, bang. Sepertinya ini sudah jam 6 lewat. Abang tak mau berangkat bekerja? “, tanya Yuni. Anam yang kaget langsung menoleh ke belakang. Memang benar, ternyata matahari sudah mulai meyinari desa kecil tersebut. Anehnya, suasana sekarang masih sepi. Biasanya orang – orang disini sudah mulai ramai melakukan aktivitasnya masing – masing. Tetapi untuk hari ini . . . entahlah . . .

“ Jadi semuanya berapa Yun? “, tanya Anam dengan wajah tergesa – gesa.

“ Enam Ribu bang “, ujar Yuni. Anam segera berjalan cepat menjauhi warung Yuni. Dan ia lupa mengucapkan terimakasih pada Yuni. Yuni hanya bisa memperhatikan kelakuan Anam. Sudah sangat sering Anam lupa waktu seperti itu. Dan Yuni hanya bisa tertawa kecil melihat kekonyolan Anam yang tidak bisa disiplin waktu.
 
Keesokan harinya,

Anam bangun terlambat. Biasanya ia bangun pukul 5 pagi, dan ternyata hari ini ia bangun pukul 6. Ia langsung mandi dengan tergesa – gesa. Lalu berjalan cepat menuju warung Yuni.

Sesampainya di warung Yuni, Anam langsung duduk di kursi. Beberapa tukang ojek yang sedang santai ngopi disitu mendadak bingung karena kedatangan seseorang dengan nafas terengah – engah.

“ Wah bang, tumben datang siang. Gorengannya sudah tinggal sedikit lagi tuh. “,  ujar Yuni ramah. Anam masih mencoba mengatur nafas.

“ Pogo aja deh Yun. “

“ Pogo? “, Yuni terheran – heran.

“ Iya, snack yang kemarin itu lho. Masih ada gak? “, tanya Anam.

“ Masih bang. Nih. “, ujar Yuni sambil menyodorkan beberapa bungkus snack Pogo.

“ Wah, gara – gara kemarin Yuni terlambat bikin gorengan, sekarang abang jadi suka snack Pogo. “, tukas Yuni sambil tertawa. Anam tidak bicara sama sekali. Mulutnya sibuk melahap makanan ringan tersebut.

“ Enak ya bang? “, canda Yuni. Anam masih juga tidak mau bicara. Namun kali ini ia mengangguk – anggukan kepalanya sambil menahan tawa.

Dalam waktu 15 menit Anam ternyata bisa menghabiskan banyak snack.

“ Pogo nya masih ada Yun? “, tanya Anam. Sepertinya ia benar – benar kelaparan.

“ Habis bang. Besok pasti Yuni siapkan yang lebih banyak untuk Abang. “, ujarnya sambil tertawa. Entah mengapa daritadi Yuni terus terusan tertawa. Padahal tidak ada yang lucu.

“ Ya sudah. Gorengannya abang beli tiga ribuan saja Yun. Lumayan buat ngemil dijalan. “, ujar Anam. Yuni masih saja tertawa.

“ Nih bang. Harusnya abang beli jam tangan supaya tidak terlambat terus. “, ujar Yuni sambil menyodorkan kantung plastik berisi gorengan. Anam tidak menghiraukan perkataan Yuni. Ia sedang terburu – buru.

Untuk yang kedua kalinya Anam langsung pergi tanpa mengucapkan terimakasih pada Yuni.

Hari berikutnya,

Untuk kali ini ia tidak mampir ke warung Yuni. Ia sibuk mempersiapkan diri berangkat ke kantor pos untuk mengambil surat dari pihak universitas. Ia sungguh gugup. Tetapi di balik kegugupannya, Anam ternyata masih menyimpan semangat. Ia begitu optimis akan berhasil mendapatkan beasiswa. Ia yakin, dengan bantuan doa dari Yuni maka ia akan berhasil.

Kakinya melangkah perlahan. Untuk sampai ke kantor pos benar – benar dibutuhkan perjuangan. Bagaimana tidak, jalan yang ditempuh cukup jauh. Ia harus menyebrang desa dan menempuh jalan yang penuh dengan bebatuan terjal. Belum lagi ia harus menyebrangi sungai kecil pembatas antar desa.

Sesampainya di kantor pos, Anam masih belum berani masuk. Ia mencari toilet dulu. Kakinya penuh lumpur dan tanah. Alas kakinya rusak. Ia berdoa semoga semua jerih payahnya ini terbayar oleh keberhasilannya mendapatkan beasiswa.

Anam keluar dari toilet. Alas kakinya ia jinjing. Wajahnya terlihat kebingungan. Ia malu alau harus masuk ke dalam kantor pos tanpa alas kaki. Tapi, ya sudahlah. Apa daya ia adalah orang tak berpunya. Uang 20 ribu rupiah cukup berharga untuk makan daripada hanya untuk membeli alas kaki.

Akhirnya ia memberanikan diri masuk ke dalam.

Cukup lama ia di dalam. Entah apa yang terjadi. Yang jelas matahari sudah mulai panas. Hari mulai terik.
Akhirnya Anam keluar. Dan masih menjinjing sandal tipisnya yang sudah tidak bisa dipakai itu. Ia berjalan ke arah kursi yang kosong. Mencari tempat duduk untuk beristirahat. Halaman kantor posnya ternyata lumayan nyaman untuk dijadikan tempat istirahat. Banyak disediakan kursi untuk duduk – duduk santai.

Dan disana ternyata cukup ramai dipenuhi banyak orang dari berbagai desa. Maklum, orang desa hanya bisa mengandalkan kantor pos untuk berkomunikasi. Jadi tempat ini selalu ramai setiap harinya.

Anam sempat menikmati udara segar disana. Tapi ia teringat, ia belum membaca isi dari surat yang ada di tangannya tersebut. Amplop cokelat itu akhirnya ia buka perlahan. Jantungnya berdetak kencang sekali. Tentu sangat sedih rasanya jika perjuangannya selama ini ternyata terbayar oleh kegagalannya mendapatkan beasiswa.

Tangannya sedikit gemetar. Kertas berwarna kuning itu ia keluarkan dari amplopnya. Lalu ia baca tulisan . . .
LULUS !!!

Anam langsung kembali ke rumahnya dengan wajah bahagia. Akhirnya cita – citanya melanjutkan pendidikan bisa tercapai. Meski harus melangkah menyebrang sungai dan mengijak kerikil – kerikil tajam, rasanya semua rasa sakit itu hilang. Rasa bahagia yang ia rasakan saat ini bisa mengalahkan segala rasa sakit yang ia rasakan.

Anam berjalan melewati warung Yuni. Terlihat tutup. Bahkan seingatnya, tadi pagi pun warung ini tidak buka. Anam menghentikan langkahnya. Lalu memperhatikan keanehan warung Yuni. Akhirnya ia memutuskan mampir dulu ke warung Yuni. Sekalian ingin mengabarkan pada Yuni kalau ia kini sudah berhasil menjadi seorang mahasiswa.

Anam mengetuk pintu dengan perlahan. Tak lama seorang ibu lanjut usia membukakan pintu. Beliau adalah ibunda dari Yuni.

“ Eh, nak. Ada apa? “, tanya Ibu itu.

“ Yuni ada bu? “, tanya Anam. Ibu itu sedikit mengerutkan keningnya.

“ Namamu siapa? “, tanya ibu itu. Anam sedikit kebingungan. Ia bertanya, ibu itu malah bertanya balik.

“ Nama saya Anam bu. Hampir setiap pagi saya suka sarapan pagi di sini. “, ujar Anam dengan sedikit tersenyum.

“ Masuklah nak. “, ujar ibu itu dengan sangat ramah.

“ Oh, ya bu. “, ujar Anam sambil tersenyum. Ibu itu langsung terpaku pada penampilan Anam yang lusuh. Kulitnya menghitam karena terbakar sinar matahari. Kakinya membengkak bercampur lumpur bahkan ada sedikit luka.

“ Nak, silahkan bersihkan dulu kakimu. Kok penuh lumpur seperti itu. “, ujar Ibu itu sambil menunjuk ke pintu kamar mandi.

“ Oh iya, maaf sekali bu penampilan saya sedikit tidak rapih. “, ujar Anam. Lalu ia berjalan ke arah Toilet untuk membersikan kakinya yang lusuh itu.

Anam akhirnya keluar dari toilet. Kakinya memang sudah tidak kotor lagi. Namun kini luka – luka kecil yang ada di telapak kakinya malah jadi terlihat jelas. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Ibunya Yuni sedang duduk disitu sambil memperhatikan sebuah kotak berwarna merah. Anam duduk di depan ibu itu sambil memasang senyum.

“ Ini . . . dari Yuni untukmu nak. “

“ Lho, apa ini bu? “, tanya Anam sambil memperhatikan kotak itu dengan serius.

“ Buka saja. “, ujar ibu itu. Anam langsung membuka kotak merah itu secara perlahan. Dan ternyata isinya . . . kue ulang tahun yang diluarnya dihiasi snack pogo. Anam semakin bingung.

“ Saya tidak ulang tahun bu. Sepertinya Yuni salah tebak. “, ucap Anam. Ibu itu hanya tersenyum kecil.

“ Tadi malam, Yuni sudah berangkat ke bandara. Ia kan jadi TKW di malaysia. Dan ia berpesan pada ibu supaya kue ini diantarkan ke rumahmu. Eh, kebetulan kamu mampir kesini jadi ibu tidak perlu datang ke sana. “, ujar ibu itu dengan penuh senyum. Wajah Anam langsung memucat. Ia tak menyangka kalau Yuni akan pergi ke Malaysia secepat ini.

“ Saya belum perpisahan dengan Yuni bu. “, ujar Anam dengan wajah sedih.

“ Dan saya belum sempat menyatakan perasaan saya padanya. “, sungguh . . . Anam frontal.

“ Ehm . . . saya keluar dulu ya, sudah agak sore, saya mau mengantarkan barang dulu ke tetangga sebelah. “, ujar ibu itu. Kini Anam sendirian. Memperhatikan kue bertaburkan snack pogo. Entah, sepertinya itu akan menjadi kue paling tidak enak. Dimana ada percampuran antara manis dan gurih. Anam tak mau memakannya. Ia hanya memperhatikannya. Meski kedengarannya tidak enak, tetapi ini adalah kenang – kenangan terakhir dari Yuni. Mungkin Yuni akan kembali kesini tahun depan.

Wajah Anam murung. Kebahagiaannya terasa tidak berarti sama sekali. Yuni, seorang wanita penjaga warung yang sederhana itu memang telah menjadi wanita yang ia incar beberapa bulan terakhir ini. Itulah sebabnya ia selalu sarapan pagi di warung Yuni. Supaya bisa mengenal satu sama lain.

Anam menarik nafas panjang. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia bingung, mengapa ia selalu hidup melarat. Ia jarang sekali beruntung. Satu kali saja ia beruntung, beberapa jam kemudian ia mendapat sial.

“ Kok gak dimakan bang? Gak enak ya? “

Seseorang keluar dari dalam rumah lalu duduk di depan Anam sambil tersenyum.

Ternyata Yuni.

“ Bang? Kok diam saja? “, tanya Yuni. Anam masih menganga.

“ Tadi malam kau berangkat ke Malay kan? “, tanya Anam. Yuni menggeleng.

“ Ibuku ternyata asyik diajak kerja sama .  .  . “, ujar Yuni sambil tertawa. Anam baru saja dijahili. Sial.

“ Kaki abang terluka ya? Sini aku obati. “, ujar Yuni tulus. Anam tak mampu berbicara sepatah katapun. Ia masih menganga. Ini adalah pertama kalinya ia dijahili orang lanjut usia.

Kaki Anam diobati Yuni. Suasana jadi hening. Tak ada satupun yang berbicara.

“ Ahm . . . katanya mau menyatakan perasaannya nih bang . . . “, ujar Yuni menggoda.

“ Eh! Jadi kau dengar semuanya!? ”, mata Anam terbelalak lagi.

“ Ya tentu saja bang. Dari tadi aku diam di belakang. “, ujar Yuni sambil tertawa kecil. Tangannya masih sibuk membalut kaki Anam dengan perban tipis.

“ Ok, baik. Abang sudah terpojok . . . Abang menyukaimu Yun. “, tukas Anam singkat. Yuni tersenyum. Ternyata memang sejak kemarin Yuni sudah merencanakan semua ini. Dan semua berjalan lancar.

“ Aku juga. “, ucap Yuni. Mereka berdua lantas tersenyum bersama. Mendadak suasana hening sesaat.

“Eh iya, abang dapat beasiswa Yun. “, ujar Anam dengan wajah kembali bahagia. Yuni hanya tersenyum.

“ Seperti yang aku bilang bang, tidak ada yang tidak mungkin jika abang mau berusaha. “, tukas Yuni. Kini tangannya sibuk merapikan gunting dan perban. Kedua kali Anam sudah terbalut Perban.

“ Oh iya bang, silahkan dimakan kuenya. Sesuai janji Yuni, hari ini Yuni kasih snack pogo yang banyak. Khusus buat abang. “, ucap Yuni mempersilahkan. Anam langsung mengambil salah satu potongannya. Rasanya . . . sangat aneh. Ada gurih, ada manis,

Ah, ya sudah lah dimakan saja . . .

May 20, 2012

Pukul 7


Karya: Sayoga R. Prasetyo

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. di luar sudah sangat gelap. Tita masih saja terdiam. Matanya sibuk menatapi pintu rumah makan sederhana itu. Di mejanya tergeletak piring kotor bekas nasi goreng yang ia makan barusan. Ia sedang menunggu waktu. Tepat pukul 7 malam kurang 5 menit maka ia akan keluar dari rumah makan itu dan langsung berjalan ke taman kota untuk menemui Randy.

Wajahnya terlihat begitu cemas bercampur bahagia. Cemas karena melihat detik demi detik jam dinding yang lambat sekali. Bahagia karena ia akan bertemu seseorang yang ia sukai.

Seorang wanita agak tua duduk tepat di depannya. Ya, tentu karena rumah makan itu sudah semakin penuh dan bangku depan Tita kosong. Tita menghapus lamunannya. Perhatiannya kini sudah bukan pada jam dinding lagi, tetapi malah pada wanita tua itu.

Umur wanita itu sekitar 40 tahun atau lebih. Sepertinya lebih pantas disebut tante - tante. Pakaiannya sangat rapi. Sepertinya wanita ini seorang pegawai negeri.

Wanita itu tiba – tiba tersenyum pada Tita. Tita langsung membalas senyuman wanita itu. Lalu kembali diam. Terlihat wanita itu membongkar tasnya, lalu mengeluarkan tissue untuk menghilangkan minyak yang menempel di wajahnya.

“ Sudah selesai makannya de? “, tanya Wanita itu dengan wajah yang ramah sekali.

“ Eh, sudah bu . . . hehehe “, jawab Tita dengan senyuman kecil.

“ Kenapa tidak langsung keluar saja? Rumah makan ini mulai penuh lho . . . saya saja barusan kebingungan harus duduk dimana. Untung saja saya melihat bangku disini masih kosong. Kalau tidak mungkin saya akan kelaparan. “, ujar wanita itu lagi.

“ Nanti saja lah bu, saya masih ingin duduk – duduk disini dulu untuk beberapa menit. “, ujar Tita.

“ Betul juga sih, lagipula di luar hujan cukup deras. “, ujar wanita itu. Tita langsung panik dan menatap ke luar,

“ Di luar memangnya hujan deras ya bu? “, tanya Tita dengan wajah sangat cemas.

“ Ya begitulah. Tidak terasa ya? Rumah makan ini terlalu ramai jadi kita tidak bisa memonitor keadaan diluar. “, ujar wanita itu menjelaskan. Tita semakin cemas. Ia takut Randy kehujanan di luar sana, atau mungkin jangan – jangan pertemuan malam ini dibatalkan.

“ Penampilan adek sangat rapi. Adek sedang menunggu orang ya? “, tanya wanita itu dengan wajah sinis. Ternyata wanita itu berhasil membaca pikiran Tita melalui ekspresinya.

“ Emm . . . iya bu . . . hehe “, ujar Tita diselingi tawaan kecil dari bibirnya.

“ Pacar? “, tanya wanita itu lagi. Wajahnya semakin sinis.

“ Iya . . . Eh, bukan bu . . . “, ujar Tita dengan wajah malu – malu. Randy memang bukan pacarnya, tetapi lelaki yang ia sukai selama ini.

“ Bukan atau belum? “, tanya wanita itu lagi. Tita semakin terdesak. Wajahnya semakin memerah. Ia mencoba membuang muka untuk menutupi rasa malunya.

“ Adek menyukai lelaki itu ya? “, tanya wanita itu lagi seolah – olah memang sengaja ingin menyudutkan Tita.
Untuk kali ini, Tita mengangguk perlahan sambil tersenyum.

“ Wah wah . . . ibu jadi merindukan masa muda. Ibu dulu juga sama seperti adek sekarang. Mengenal apa itu cinta, bagaimana rasanya mencintai, dan bagaimana rasanya dicintai . . . “, wanita itu menghentikan ucapannya sebentar. Menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan.

“ Dan merasakan bagaimana rasanya dikhianati . . . “

“ Dikhianati? “, ujar Tita dengan wajah sedikit penasaran.

“ Ya, terkadang kita harus merasakan sesuatu yang indah, terkadang kita harus merasakan sesuatu yang tidak enak. Dalam hidup ini kita pasti pernah dikhianati. Terutama dalam hal cinta. Rasanya sangat sakit. Tetapi ya itulah cinta. Terkadang indah, terkadang menyakitkan. “, ujar wanita itu dengan wajah sedikit datar. Mungkin ia sedang bernostalgia dengan masa lalunya.

“ Ah, sudahlah dek. Tidak sepantasnya kita membicarakan itu. Ini rumah makan, tempat kita mengisi perut. “, ujar ibu itu sambil tersenyum. Tita menoleh ke arah jam dinding disana . . . ASTAGA! Sudah pukul 07.20! Ia segera merapikan pakaiannya dan menyegerakan berdiri.

“ Saya pamit ya bu, teman saya sepertinya sudah menunggu di luar. “, ujar Tita sambil tersenyum.

“ Silahkan. Sukses ya “, ujar wanita itu sambil tersenyum. Tita membalas senyuman itu seadanya. Sungguh sekarang ia sedang terburu – buru. Jangan – jangan Randy sudah menunggunya sejak setengah jam yang lalu.

Tita berjalan sangat cepat. Jalanan yang penuh dengan genangan air itu tidak ia hiraukan. Wajahnya sangat pucat. Nafasnya sedikit terengah.Taman kota sudah di depan mata. Tita hanya tinggal menyebrang jalan raya saja.

Namun, ia terlalu terburu – buru sehingga tidak memperhatikan ramainya jalan raya pada malam itu. Sebuah mobil menabraknya. Tita sempat terjatuh. Untungnya ia tidak pingsan. terlihat ada sesosok lelaki yang menjulurkan tangannya. Lelaki itu berpakaian jas hitam dan sangat rapi.

“ Tidak apa – apa kan? “, tanya orang itu. Ternyata orang itu adalah sang pengendara mobil.

“ Saya tidak apa – apa kok. Maaf saya barusan terlalu terburu – buru jadi tidak melihat mobil bapak. “, ujar Tita. Tubuhnya mendadak lemas. Bahkan kini ia tak bisa tersenyum.

“ Seharusnya saya yang meminta maaf karena tidak berhati – hati. Ya sudah adek saya tuntun ke pinggir jalan ya . . . biar saya tahu bagian mana yang terluka. “, ujar lelaki itu. Lelaki itu lantas menuntun Tita berjalan perlahan menyebrangi jalan raya. Orang – orang mulai berkerumun ingin melihat kecelakaan yang baru saja terjadi. Lelaki itu menyuruh Tita duduk di bangku taman. Lalu menyodorkan sebotol minuman,

“ Ini, adek minum saja dulu. Barusan tubuh adek terbentur mobil saya dengan cukup keras. Pasti sekarang adek merasa lemas. “, ujar lelaki itu dengan sangat ramah. Tita langsung meneguk air minum yang diberikan lelaki itu. Benar, rasa lemas yang barusan ia rasakan langsung hilang begitu saja. Penglihatannya yang barusan memburam kini sudah mulai jelas lagi.

“ Terimakasih banyak pak “, ujar Tita. Kini ia sudah mulai bisa tersenyum lagi. Lelaki itu membalasnya dengan senyuman.

“ Adek sepertinya terburu – buru ya? Kenapa? “, tanya lelaki itu.

“ Saya ada janji dengan seseorang pak . . . Kami berjanji akan bertemu di taman kota tepat pukul 7 malam dan ternyata saya terlambat. “, ujar Tita dengan jujur. Lelaki itu hanya mengangguk – anggukkan kepalanya. Entah apa maksudnya.

“ Oh ya, sekarang jam berapa pak? “, tanya Tita. Lelaki itu langsung melihat ke pergelangan tangan kanannya.

“ Sudah pukul 07.35 ”, ujar lelaki itu.

“ Aduh, saya harus segera mencari teman saya pak. “, ujar Tita sambil berdiri. Lelaki itu ikut berdiri.

“ Apa adek butuh bantuan saya? Saya takut adek pingsan. “, tanya lelaki itu. Sepertinya ia masih saja khawatir dengan kecelakaan yang barusan saja melibatkannya.

“ Mudah – mudahan tidak akan terjadi apa – apa pak. Kalau boleh, minuman ini buat saya ya. Saya rasa saya butuh kalau nanti saya tiba – tiba lemas lagi. “, ujar Tita dengan senyuman kecilnya. Lelaki itu akhirnya mengangguk.

“ Ya sudahlah, saya tinggal tidak apa – apa? Sepertinya semakin lama mobil saya diam di jalan raya seperti itu, maka jalan raya ini akan semakin macet saja. “, ujar lelaki itu sambil tersenyum.

“ Tidak apa – apa pak. Terimakasih atas minumannya pak “, ujar Tita. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum. Lalu berjalan ke arah mobil yang sedang diam di pinggir jalan itu. Sungguh lelaki itu ramah sekali.

Lamunan Tita langsung buyar. Ia langsung berjalan cepat mengelilingi taman kota. Taman kota pada malam hari ternyata minim pencahayaan. Jadi cukup sulit bagi Tita mencari Randy.

Kurang lebih 15 menit Tita berkeliling taman kota dan tak menemukan Randy. Air minum botol yang ada di tangannya sudah habis. Ia mulai merasa kelelahan. Ia kembali duduk di bangku taman. Tepat dimana ia duduk bersama lelaki yang menabraknya barusan. Kepala Tita menunduk. Ia melihat rerumputan malam yang terdiam. Seolah ingin membiarkan Tita kesepian untuk malam ini.

Tita mendadak lapar. Ia menengok ke arah kanan dan kirinya. Ah, tidak ada orang yang berjualan makanan. Eh, tunggu dulu. Ia seperti melihat seseorang di sebelah kanannya. Ia kembali melihat lebih jeli.
Ternyata Randy. Ia sedang duduk di bangku taman yang berjarak 10 meter dari bangkunya. Tita tersenyum kecil. Kelelahan yang ia rasakan sepanjang hari ini seolah terbayar. Randy terlihat duduk sendirian, seperti menunggu seseorang. Tita sangat yakin, pasti dirinyalah yang Randy tunggu.

Tita berjalan mendekati Randy. Baru saja 2 langkah, tiba – tiba terlihat seorang wanita mendekati Randy. Wanita itu nampaknya tidak asing lagi di mata Tita. Tita terdiam sejenak. Menghentikan langkah kakinya untuk merenung. Wanita yang duduk berduaan dengan Randy adalah . . . Hana, sahabat Tita.
Tita terdiam. Tak berani berkata – kata, tak berani bergerak sedikitpun. Tak lama kemudian Randy dan Hana berdiri, lalu berjalan berduaan. Tangannya bergandengan. Dan mereka berjalan menjauhi Tita. Terlihat senyum tawa di bibir mereka berdua.

Hanya Tita yang tidak bisa tertawa sedikitpun. Tubuhnya mematung. Mata Tita bergelimang air mata. Tetes demi tetes air mata keluar dari matanya yang indah itu. Ia sungguh tak percaya apa yang baru saja ia saksikan. Tubuhnya menjadi sangat lemas. Lebih lemas dibanding saat ditabrak mobil tadi.

Mungkin inilah yang disebut dengan sakitnya cinta . . .

May 12, 2012

Simak Baik-Baik


Karya: Sayoga R. Prasetyo

Agha berjalan dengan wajah santai. Ia baru saja keluar dari toko mainan untuk membeli setumpuk kartu remi. Entah apa yang menggugahnya untuk bermain kartu remi, yang jelas kali ini ia benar – benar ingin mengajak teman – temannya untuk bermain remi malam ini.

Memang, Citra dan Yoyok sedang menunggunya di rumahnya. Toh toko mainan hanya berjarak 100 meter dari rumahnya. Maka dari itu Agha rela jalan sendirian dan membiarkan kedua temannya itu menunggu di rumahnya.

Agha membuka pintu dan menyegerakan masuk ke ruang tamu. Tapi ada yang aneh . . .

“ Lho, Yoyok kemana? Ke kamar mandi yah? “, tanya Agha pada Citra.

“ Barusan saja ibunya menelpon. Ibunya berkata bahwa kakaknya Yoyok baru saja mengalami kecelakaan ringan di jalan. Dan Yoyok disuruh ibunya untuk datang ke lokasi kejadian. Tapi entahlah, aku tak tahu kejadian yang sebenarnya. “, ujar Citra menjelaskan.

“ Dimana lokasinya? Ia pasti tidak bisa menyelesaikan masalah sendirian. Aku harus datang kesana. “, ujar Agha sembari membongkar lemari di kamarnya. Sepertinya ia sedang mencari jaketnya.

“ Masalahnya aku juga tak tahu dimana lokasi kecelakaannya, Gha “, ujar Citra. Agha tiba – tiba menghentikan aktivitasnya,

“ Jadi bagaimana ini? “, tanya Agha kebingungan. Ia yakin saat ini Yoyok membutuhkan bantuannya.

“ Ya sudah mau bagaimana lagi . . . kita main kartu remi saja “, ujar Citra. Agha termenung. Lalu mengambil setumpuk kartu remi yang baru saja ia beli di toko mainan.

“ Apa boleh buat, ya sudah kita main berdua saja “, ujar Agha sembari memperhatikan setumpuk kartu remi tersebut di genggaman tangannya.

“ Tunggu dulu Gha . . . bagaimana kalau kali ini kita memainkan sesuatu yang berbeda “, ucap Citra.

“ Memainkan sesuatu yang beda? Apa maksudmu? “, tanya Agha. Kelihatannya Agha benar – benar tak mengerti atas apa yang baru saja diucapkan Citra.

“ Ahem . . . begini . . . bagaimana kalau . . . yang kalah harus melayani yang menang? Apa kau setuju? “, ucap Citra dengan wajah penuh senyum. Agha terdiam sejenak.

“ Kalau aku kalah maka aku akan memberikanmu satu permintaan dan aku akan mencoba untuk mengabulkannya. Tapi kalau kau yang kalah . . . ya sebaliknya. Setuju? “, tanya Agha. Tanpa berfikir panjang Citra langsung berkata,

“ Setuju! Tapi kau jangan memintaku untuk melakukan hal yang aneh – aneh ya “

*****

Permainan dimulai. Sedikit demi sedikit kartu mulai menumpuk di atas meja ruang tamu. Wajah mereka berdua sedikit agak pucat karena takut kalah.

“ Yes! “, teriak Agha dengan sangat keras. Ya, ia baru saja memenangkan permainan. Wajah Citra mendadak menjadi sangat pucat sekali.

“ Baiklah kuakui kau memang hebat dalam permainan ini. Sekarang apa yang harus kulakukan? “, tanya Citra. Agha termenung dengan agak lama. Bau masakan dari dapur mulai tercium hingga ke ruang tamu. Agha tiba – tiba kedatangan ide,

“ Aku ingin kau membantu ibuku memasak hingga selesai “, ujar Agha dengan sedikit senyuman. Ia sudah tahu kalau Citra tidak bisa memasak.

“ Agha, kau tahu kan aku tidak bisa memasak? Apa kau tak bisa memberi permintaan lain yang bisa kulakukan? “, tanya Citra dengan wajah memelas.

“ Aku ingin kau memasak bersama ibuku di dapur. SEKARANG. “, ujar Agha pada Citra.

“ Tapi aku tak bisa . . . mintalah sesuatu yang bisa aku lakukan “, ujar Citra kembali dengan wajah yang memelas.

“ Kalau kau tidak bisa melakukan ini, maka permintaanku akan menjadi 3. “, ujar Agha singkat. Wajah Citra semakin memucat saja. Pada kali ini ia tak bisa mengelak lagi.

Citra meniup poninya. Ia terlihat seperti orang yang malas hidup. Agha hanya tertawa ketika melihat Citra berjalan ke arah dapur.

Agha merapikan puluhan kartu yang berserakan di meja dengan wajah penuh senyum. Jarang sekali ia menang permainan dengan hati sebahagia ini.

Tak lama setelah puluhan kartu itu ditumpukkan dengan rapi, Agha berjalan menuju dapur.

Dan disana begitu mengejutkan. Dapur rumahnya menjadi sangat acak – acakan. Ibunya Agha dengan wajah emosi mendekati Agha,

“ Singkirkan teman bodohmu itu dan rapikan dapur ini. Sejak kedatangan anak itu beberapa menit yang lalu, ibu sudah merasa frustasi. Ah sudahlah, ibu mau tidur. Pokoknya ketika ibu sudah bangun, ibu ingin dapur ini sudah rapi kembali. MENGERTI!? “

“ Mengerti bu “, ujar Agha dengan wajah bersalah. Ibunya langsung melangkah ke tangga menuju kamarnya. Mungkin ia benar – benar ingin tidur.

“ Kau gagal. Permintaanku tidak bisa kau kabulkan. “, ujar Agha dengan mata yang sinis. Citra terlihat seperti orang yang melakukan kesalahan besar. Wajahnya kacau sekali. Agha kembali berkata,

“ Sekarang apa kau mau mengabulkan 3 permintaanku? “

“ Tapi tolong jangan pekerjaan seperti ini lagi! Mintalah apa yang bisa aku lakukan untukmu! “, ujar Citra dengan agak keras. Mungkin ia juga sedikit emosi pada Agha.

“ hmmm . . . baiklah. Ketiga permintaan ini aku yakin kau bisa melakukannya. “, ujar Agha. Citra terdiam. Agha mulai menyebutkan permintaan pertamanya,

“ Permintaan yang pertama . . . “

“ Simak baik – baik ya, jangan sampai salah. Aku ingin kau membereskan semua kerusakan yang telah kau buat ini dalam waktu lima belas menit. Mulai dari sekarang. “

Citra menyegerakan mengambil kain pembersih lalu segera membersihkan segalanya dengan cekatan. Hanya dalam waktu lima menit semua sudah kembali seperti semula. Citra tersenyum sombong. Agha mulai menyebutkan permintaan keduanya,

“ Permintaan kedua . . . Simak baik – baik . . . “

“ Aku ingin engkau mengerjakan tugas – tugas sekolahku. “

Citra terdiam sebentar. Lalu ia berkata,

“ Ok baiklah, mana tugas – tugas sekolahmu? “

Agha berjalan ke arah kamarnya. Lalu keluar dengan satu buah buku.

“ Kerjakan halaman 40 sampai 45 “, ujar Agha dengan santainya.

“ Apa? Gurumu gila ya? Soal sebanyak ini dijadikan tugas? “, tanya Citra. Mulutnya menganga.

“ Sudahlah jangan banyak omong. Kerjakan saja. Kalau sudah selesai beritahu aku. ”, ujar Agha. Citra langsung mengerjakan soal – soal itu dengan cekatan.

“ Gha, sudah tuh. “, ujar Citra pada Agha yang sedang terdiam menatap ke luar jendelanya.

“ Gha? Gha? Tugasmu sudah kuselesaikan tuh. Silahkan di cek lagi siapa tahu ada kesalahan “, ujar Citra lagi. Tetapi Agha masih saja menatap ke luar jendela. Entah ada apa diluar sana hingga Agha tak mau mendengarkan perkataan Citra.

Citra jadi penasaran. Ia berjalan perlahan mendekati Agha. Lalu melongok ke luar ada apa sebenarnya. Dan . . . tidak ada yang menarik. Hanya terlihat matahari yang bersinar terik tepat di atas mereka. Saat ini masih pukul 2 siang, jadi matahari masih begitu teriknya.Tanpa disadari kini mereka berdua sedang berdiri di ambang jendela tanpa memperhatikan objek apapun.

“ Permintaan keduamu sudah aku kabulkan. Lantas sekarang permintaan terakhirmu apa? “, tanya Citra.

“ Permintaan ketiga . . . Simak Baik – Baik . . .“

“ Aku Mencintaimu “

Citra menoleh dengan sangat cepat,

“ ha? “

“ Simak baik – baik ya, jangan sampai kau salah dengar. Aku ingin engkau jadi kekasihku. “, ujar Agha dengan wajah tenang. Citra tidak bisa mengontrol detak jantungnya.

Agha menatap matanya dalam dalam. Dan Citra membalasnya dengan senyuman.

“ Simak baik – baik ya, aku tak ingin kau pura – pura tak mendengar. “

“ Aku juga mencintaimu Gha “, ujar Citra. Kini mereka berdua tersenyum di ambang jendela.

“ Kau mau main kartu lagi? “, tanya Citra.

“ Tidak ah, yang penting rencanaku sudah berjalan mulus. “, ujar Agha diselingi tawaan kecil.

Suasana di luar masih sangat terik. Langit masih sangat biru. Ah, segalanya tiba – tiba jadi indah .
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...