April 26, 2012

Coffee Cup and Lemon Tea

Karya: Sayoga R. Prasetyo

"Hari ini aku ada waktu luang. Kita makan malam yuk!", begitulah isi pesan singkat yang dikirimkan Rudi pada Aisyah.

Aisyah agak ragu sebab ini adalah pertama kalinya Rudi mengajaknya jalan - jalan. Biasanya Rudi begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai manager keuangan di salah satu perusahaan ternama di Indonesia.

"Baiklah. Kau akan menjemputku jam berapa?"

Tak lama kemudian, Aisyah kembali mendapat jawaban,

"Tugasku sudah hampir selesai kok. Tunggu saja sebentar lagi aku akan segera pulang dari kantor dan langsung menjemputmu."

Aisyah kemudian bergegas mempersiapkan diri. Rudi memang bukanlahh orang yang tepat waktu. Namun tetap saja yang namanya wanita pasti ingin cepat - cepat berangkat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Berarti sudah sekitar setengah jam Aisyah menunggu kedatangan Rudi. Terlihat dari arah barat hanyalah terlihat matahari keemasan yang terus menenggelamkan diri. Sungguh membosankan. Aisyah hendak mengiriminya pesan singkat lagi meski sudah 4 kali gagal terkirim. Namun, baru saja tangannya menggenggam handphone, di kejauhan sudah terlihat mobil mewah yang melaju ke arah rumahnya. Aisyah mengurungkan niatnya dan langsung berjalan ke halaman depan rumah.

Mobilnya langsung berhenti dan Rudi menyegerakan keluar,

“Aduh, maaf barusan ada masalah dengan mobilku”, kata Rudi sambil tertawa kecil.

“Tidak apa apa kok, tidak masalah. Yang penting kita berangkat” ujar Aisyah. Rudi langsung mempersilahkan Aisyah untuk masuk ke dalam mobil dengan sangat sopan.

Mobilpun melaju. Wajah Rudi masih penuh senyum. Tentu karena ini adalah hari pertama ia mengajak orang yang ia sukai untuk makan malam. Rudi sudah mempersiapkan mentalnya. Tepatnya setelah makan malam nanti ia akan mengatakan perasaannya yang sesungguhnya, yang telah ia pendam selama beberapa bulan terakhir ini.

“ Kita akan makan malam dimana? ”, tanya Aisyah. Lamunan Rudi langsung buyar seketika.

“  Eh . . . apa? ”

“ Kita akan makan malam dimana? “, ulang Aisyah.

“ Rahasia. Pokoknya makanannya enak. “, tukas Rudi sambil tersenyum. Kata – kata itu membuat Aisyah semakin penasaran.

Akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah kafe malam. Setelah mematikan mesin mobilnya Rudi langsung mempersilahkan Aisyah untuk keluar. Wow, di luar ternyata cukup dingin dan membuat tubuh Aisyah sedikit menggigil. Rudi mengunci mobilnya. Lalu berjalan ke dalam kafe tersebut bersama dengan Aisyah.

Kafe itu lumayan luas, dan ada panggung kecil untuk live accoustic music. Sungguh menyenangkan. Rudi mempersilahkan Aisyah untuk duduk. Rudi segera berjalan untuk memesan makanan dan minuman.

Aisyah melirik sedikit ke arah panggung kecil itu. Pemuda – pemuda yang mahir bermain gitar akustik rasanya berkumpul disitu dan mereka mayoritas menyanyikan lagu – lagu luar negeri. Aisyah sangat jarang datang ke tempat seperti ini. Jadi ini adalah pemandangan yang menyenangkan baginya.

Tak lama kemudian Rudi datang dan duduk di kursi, tepat berhadap – hadapan dengan Aisyah. Sangat jarang Rudi melihat Aisyah duduk di depan matanya. Aisyah memang tidak berkerudung, namun tetap terlihat cantik malam ini.

Seorang pelayan datang mengantarkan minuman. Dua buah cangkir kopi hangat untuk mereka berdua. Wajah Aisyah mendadak jadi aneh,

“ lho, Aisyah? Kenapa? Tidak suka kopi? ”, tanya Rudi pada Aisyah.

“ Bukannya tidak suka, hanya saja aku sedang mengurangi konsumsi kopi akhir – akhir ini “, ucap Aisyah dengan suara agak pelan. Mungkin ia takut Rudi marah atau apa . . .

“ Padahal tadi di luar kau terlihat kedinginan . . . “

“ Ya tapi kan tetap saja aku tidak mau minum kopi “

“ Memangnya kenapa sih? Kau kan masih muda “

“ Bukan itu, hanya saja saat aku minum kopi biasanya aku akan susah tidur selama seminggu penuh “, ujar Aisyah. Rudi hanya bisa tersenyum kecil,

“ hmm... penyakit yang aneh. Ya sudah, mau aku pesankan minuman lain? ”

Aisyah terdiam sejenak,

“ Es Lemon saja “

Rudi mengaga, matanya melotot,

“ Katanya dingin, kok malah minum yang dingin – dingin? “

“ Memangnya tidak boleh ya? “

“ Boleh sih . . . “

Rudi langsung melirik sekitar. Lalu memanggil seorang pelayan,

“ Mba! “

“ Ya? Ada yang mau dipesan lagi pak? “, tanya pelayan itu.

“ Saya pesan es teh lemon ”

“ dua? “

“ satu saja “

Sembari menunggu es teh lemon, Rudi kembali menatap wajah Aisyah dalam – dalam. Aisyah terlihat begitu tidak konsen karena ia masih saja melirik keramaian kafe itu. Meski ramai tetapi suasana kafe ini tetap tenang dan membuatnya nyaman.

Ternyata baru beberapa menit saja es teh lemon yang dipesan sudah ada di atas meja,

“ Ini es teh lemonnya. Mohon maaf pak dapur kami sedang ada sedikit masalah jadi makanan yang bapak pesan mungkin terlambat. Kami mohon maaf sekali lagi. Kalau bapak mau membatalkan pesanannya juga tidak apa – apa.”

“ ah... tidak apa – apa saya tunggu saja kebetulan saya sedang santai kok “, ujar Rudi. Pelayan itu kemudian meninggalkan meja mereka berdua.

“ emm...tidak apa apa kan menunggu agak lama?”, tanya Rudi. Aisyah mengangguk,

“ Tidak apa apa, tenang saja aku juga masih menikmati suasana kafe ini kok”,ujar Aisyah sembari kembali melirik – lirik keramaian sekitar.

“ Oh ya, ngomong – ngomong barusan rumahmu sepi sekali. Semuanya kemana? “, tanya Rudi tiba – tiba.

“ Entahlah, mereka semua sedang pergi dan tak memberitahuku. “, ujar Aisyah.

“ Jadi, rumahmu kosong? “

“ ya...begitulah “

“ Kakakmu pergi juga bersama orang tuamu? “, tanya Rudi lagi.

“ Tidak. Katanya ia mau kencan dengan seseorang yang ia sukai. Entahlah ia begitu memikirkan dirinya sendiri sedangkan aku adiknya malah jarang diajak bicara. “, ucap Aisyah dengan wajah agak kesal.

“ Mungkin itu hanya untuk sementara. Memang terkadang orang yang sedang jatuh cinta sering melupakan orang – orang terdekatnya. “

“ Benarkah? “

“ Ya, tentu. Memangnya seumur hidup kau belum pernah jatuh cinta dengan lelaki? “

“ Belum “

“ waw . . . tak kusangka. Berapa umurmu sekarang? “

“ 19 tahun. 3 bulan lagi menjadi 20 “

“ Jujur aku tak percaya, anak umur 10 tahun pun sudah banyak yang pacar – pacaran dengan teman sekelasnya. Masa kau belum pernah pacaran? ”

“ Ah, biarlah. Tuhan memang sudah memberi takdir kepadaku. Aku yakin suatu saat Tuhan akan mempertemukan jodohku “

“ Kalau kau hanya diam saja jodohmu tak akan datang dengan sendirinya ”, ujar Rudi. Aisyah terdiam. Ia sibuk meneguk es teh lemon,

“ Kau juga seharusnya berusaha untuk mencari cinta itu “, lanjut Rudi. Aisyah masih saja terdiam.

“ Lantas, mengapa kau tidak segera mencari pasangan di umurmu yang sudah berkepala dua ini? “, tanya Rudi. Kali ini Aisyah mulai membuka mulutnya,

“ Aku masih ragu – ragu. Dan aku masih belum bisa membayangkan jodohku seperti apa nantinya “

“ Lihat saja seseorang yang saat ini ada di depanmu “, ujar Rudi. Jantung mereka berdua tiba - tiba berdegup dengan kencangnya. Rudi menarik nafas dalam – dalam.

“ Sya, apa kau mau jadi kekasihku? “

Aisyah yang sedang meneguk es teh lemon itu kaget dan langsung tersedak,

“ Eh, apa kau tersedak? Kau tidak apa – apa kan? “, tanya Rudi. Terlihat jelas bercak kekuning – kuningan melekat di kerah Aisyah,

“ Aduh, aku akan ke toilet dulu untuk membersihkan pakaianku. “, ujar Aisyah.

“ Ya sudah. Tapi kau tidak apa – apa kan? “, tanya Rudi lagi.

“ Tidak, tidak apa – apa. “, ujar Aisyah.

Aisyah berjalan menuju toilet sembari mencoba untuk membersihkan kerahnya. Jantungnya masih berdegup kencang. Dan ia masih bimbang ingin mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’.

Dari awal ia pergi meninggalkan meja makan, ia sudah curiga. Rasanya ada seseorang yang mengikutinya. Tapi ia Aisyah mencoba untuk berfikir positif dan menghilangkan rasa curiganya itu. Ia masih saja berdiri di depan cermin sembari berusaha menghilangkan bercak – bercak bekas lemon di kerahnya itu.

“ ehm ”,

Tiba – tiba terdengar suara laki – laki berdeham di belakangnya. Aisyah sempat kaget. Matanya langsung menatap cermin untuk melihat siapa yang ada di belakangnya itu. Dan ternyata hanyalah laki – laki yang barusan bermain gitar. Aisyah sempat kaget untuk apa orang itu ada di toilet wanita. Tetapi pada akhirnya ia tak peduli dan kembali sibuk pada kerahnya.

“ ehm “,

Suara dehaman kembali terdengar dan masih dari orang yang sama. Aisyah kembali memperhatikan lelaki itu dari cermin. Lelaki itu tak mau menunjukkan wajahnya. Topi bundar yang digunakannya menutupi separuh wajahnya. Aisyah kembali sibuk dengan kerahnya. Namun kali ini temponya dipercepat. Ia sudah mulai takut lelaki itu berniat untuk merampoknya atau mungkin membunuhnya dengan senjata tajam.

“ Nona, apa kau tidak mengenalku? “, tanya lelaki misterius itu,

“ siapa kau? Dan mau apa kau? “, tanya Aisyah agak keras. Tubuhnya mulai gemetar dan terlihat sangat ketakutan,

“ Sungguh? Kau tak mengenalku? “, tanya orang itu lagi. Aisyah hanya bisa terdiam sembari menatap orang itu lewat cermin di depannya. Ia sungguh tak tahu siapa orang itu,

“ Kau sungguh keterlaluan Aisyah! Berbulan – bulan aku bekerja keras agar bisa datang ke Bandung untuk menemuimu. Ternyata dengan mudahnya kau melupakan aku dan melupakan hubungan kita selama berbulan – bulan waktu dulu“

“ Caka? “, ucap Aisyah sambil berbalik,

“ Kau tahu? Bali dan bandung adalah tempat yang berjauhan dan butuh usaha yang keras untuk sampai kesini. Aku kesini untuk mengajakmu kembali ke Bali, sya. Aku ingin melamarmu sesuai dengan apa yang aku janjikan padamu 6 bulan yang lalu. Kau lupa hah? “, ujar lelaki yang bernama ‘caka’ itu.

“ Aku ingat. aku tahu waktu itu kau bilang beberapa bulan lagi kau akan melamarku. Tetapi aku tahu Tuhan berkata lain dan menakdirkanku untuk tinggal disini dan bertemu dengan orang lain. “, ujar Aisyah.

“ Kau tidak ingat janji kita untuk saling setia meski jarak dan waktu memisahkan kita? Kalau kau ingat, maka siapa laki – laki itu!? ”

“ Siapa? “, tanya Aisyah dengan wajah polos.

“ Jangan berpura – pura polos! Aku memperhatikanmu sejak kau datang hingga kau duduk berdua! “, teriak Caka. Terlihat dari wajahnya ia begitu emosi.

“ Caka, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Itu hanya temanku. Tidak lebih. “, ujar Aisyah dengan wajah sedikit memelas agar Caka mau mendengarkan perkataannya.

“ Aku sudah tidak bisa mempercayaimu lagi. Sya, sejak saat ini hubungan kita . . . berakhir “

“ Tapi Caka . . . “

“ Apa!? “, Caka kembali berteriak dengan lantang. Tiba – tiba seseorang masuk. Ya . . . dia adalah Rudi.

“ Katakan padaku siapa kau dan kenapa kau masuk ke toilet wanita sembari teriak – teriak tak jelas “, ujar Rudi dengan agak keras. Sepertinya ia juga terbawa emosi karena Aisyah dibentak – bentak.

“ Apa pedulimu? Sudah, ambil saja kekasihmu itu. Aku tidak merampok barang – barangnya. “, ujar Caka sembari berjalan menuju pintu keluar. Tetapi Rudi mencegatnya,

“ Hey, aku bertanya padamu siapa kau? Apa hubunganmu dengan Aisyah? “, tanya Rudi.

“ Aku hanyalah seorang pengamen. PUAS??? “, ujar Caka. Rudi langsung memukul wajah Caka. Aisyah terlihat begitu panik,

“ Eh, sudahlah . . . kalian jangan bertengkar “, kata Aisyah dengan wajah yang ketakutan,

“ Aku yakin kau ingin menyakiti Aisyah. Ya kan? “, bentak Rudi pada Caka. Caka hanya tersenyum,

“ Tidak, bodoh. “

Setelah mendapat jawaban itu, Rudi kembali memukulnya dengan keras. Lebih keras dibanding pukulan sebelumnya. Caka hanya tersenyum.

Dengan cepat ia memukul balik dengan lebih keras. Kepala Rudi membentur cermin. Dan cermin itu langsung pecah berkeping – keping, berserakan di lantai. Anehnya tidak ada seorangpun yang masuk ke toilet untuk melerai mereka berdua. Keramaian diluar membuat orang – orang jadi asyik sendiri di mejanya.

Kepala Rudi mengalirkan darah. Kepalanya mendadak jadi sangat pusing. Seketika ia terjatuh ke lantai dan terbaring lemah sembari menahan rasa sakit yang teramat sangat. Caka hanya diam. Ternyata hanya dengan satu pukulan saja lawannya langsung terjatuh kesakitan.

Tapi . . . tunggu . . . Aisyah mana?

Caka keluar toilet. Lalu berjalan cepat keluar menuju meja makan Aisyah dan Rudi. Tetapi, nyatanya disana tidak ada siapa – siapa. Sekumpulan lelaki di pinggir panggung melambai – lambaikan tangannya pada Caka,

“ Oi, ayo main lagi! “

Caka menggeleng – gelengkan kepalanya lalu segera berbalik, berjalan cepat menuju pintu keluar dan berkeliling mencari Aisyah.

Setelah agak lama keluar kafe, ia masuk lagi ke dalam dengan wajah penuh kekecewaan. Ia tak tahu Aisyah ada dimana. Ia kembali berjalan ke toilet wanita. Terlihat disana begitu ramai. Ia tahu, pasti Rudi meminta tolong dan membuat suasana menjadi heboh. Saat mendekati toilet tersebut, salah satu teman akustiknya menghalangi dengan tangannya,

“ Jangan kesana bro, ada dua mayat ditemukan tewas di toilet ini. “, lelaki itu. Caka menganga,

“ Dua? “

“ Iya, seorang lelaki dan seorang wanita tak berjilbab. Lelaki itu ditemukan tewas dengan darah yang masih mengalir di kepalanya. Sedangkan si wanita terlihat ada goresan di pergelangan tangannya. Rasanya ia bunuh diri dengan bantuan pecahan kaca yang berserakan disana. “

Caka terdiam. Malam ini ia sudah membunuh dua orang. Dan salah satunya adalah wanita yang begitu dicintainya. Berbulan – bulan ia bekerja keras mencari cara agar bisa terbang ke Bandung dan bertemu pujaan hatinya, tapi nyatanya ia malah membunuh pujaan hatinya itu. Caka menarik nafas agak panjang, kepalanya menunduk.

Seorang pelayan masih saja berdiri. Ia hendak mengantarkan pesanan makanan ke sebuah meja. Namun meja itu kosong dan tak berpenghuni. Hanya ada cangkir kopi dan segelas es teh lemon . . .

April 22, 2012

Siluet Merpati

Karya: Sayoga R. Prasetyo

"Dear Diary,

Aku masih hidup. Andre sudah tiada. Lantas apa yang harus aku lakukan ya Tuhan? Kau bilang jodoh itu ada di tanganmu. APA BUKTINYA? Bertahun - tahun aku mencari cinta, dan aku tak pernah menemukan jodohku sendiri. Dan ketika aku menemukan seseorang yang tepat untukku, Engkau mencabut nyawanya. Ya Tuhan, izinkan aku untuk mengejar Andre. Aku tak bisa hidup sendirian lagi di dunia ini...”

Pena sederhana itu masih menempel di tangan Andin. Namun ia tidak mau meneruskan tulisannya barusan. Mendadak ia jadi ingat Andre, mantan pacarnya yang baru saja tewas kecelakaan sebulan yang lalu.

Terakhir kali bertemu mereka membicarakan acara pertunangan mereka yang akan dilaksanakan sebulan lagi. Ya, jika Andre masih ada mungkin hari ini adalah tepat hari pertunangan mereka. Itulah sebabnya mengapa Andin menulis buku harian untuk yang terakhir kalinya. Tali tambang yang tebal sudah ia siapkan tepat di sebelah buku hariannya. Beberapa jam lagi ia sudah siap untuk mengejar Andre ke alam yang berbeda.

Pena sederhana itu masih menempel di tangannya seolah – olah hendak menuliskan beberapa kalimat lagi di buku hariannya namun ia bingung mau menulis apa lagi. Sedangkan sunset sudah terlihat jelas lewat jendela kecil yang tepat berada di depannya. Buku hariannya sudah tersinari matahari sore yang keemasan. Andin sudah berjanji dengan dirinya sendiri, tepat saat buku harian ini sudah tidak tersentuh matahari sore lagi maka ia akan menggantungkan diri di kamarnya. Ya, tepat saat matahari terbenam sepenuhnya maka ia akan langsung mencekik dirinya sendiri.

Tiba – tiba ada bayangan yang membuat buku hariannya tidak tersentuh sinar matahari lagi. Andin mendongak. Seekor merpati berwarna putih dengan mata agak kemerah – merahan hinggap di jendelanya. Andin terus memperhatikan burung itu. Tepat di kakinya ada secarik kertas yang terikat sebuah pita berwarna merah. Andin mengambilnya.

“Hi”

Hanya dua huruf itu saja yang ia lihat di secarik kertas kecil itu. Ia bingung. Sedangkan si burung merpati masih saja terdiam menunggu Andin membalas surat itu.

Andin membuka buku hariannya tepat pada halaman paling belakang. Lalu menyobeknya sedikit untuk menulis surat balasannya.

“Kau siapa?”

Sejenak Andin menggulung kertas itu lalu mengikatkannya ke kaki merpati dengan pita yang sama. Burung itu kembali terbang keluar. Andin hanya bisa memperhatikan ke luar. Matahari terus saja turun ke bawah. Ia tidak peduli siapa pengirim surat itu. Ia tetap kukuh dengan pendiriannya untuk segera bunuh diri malam ini. Meski sang pengirim surat itu terus menghalanginya...

Andin menutup buku hariannya. Ia rasa sudah tidak ada lagi yang harus ditulis. Seketika bayangan burung merpati kembali menghalangi cahaya matahari. Andin kembali mengambil secarik kertas di kaki burung merpati itu,

“Rahasia”

Andin terdiam. Pena sederhana itu masih ada di tangannya. Kembali ia buka buku hariannya lalu ia sobek sedikit kertas dari halaman belakang buku hariannya itu. Namun kali ini agak besar,

“Biar kudatangi tempatmu sekarang juga! Tolong jangan main – main dengan saya ya”

Merpati itu kembali terbang untuk mengantarkan pesan dari Andin ke orang tak dikenal itu. Namun tak sampai satu menit berlalu, burung itu sudah hinggap lagi di jendela kamar Andin. Dengan cekatan Andin membuka pesan itu,

“Silahkan saja, aku ada di dekatmu”

Emosi Andin tiba – tiba berubah menjadi rasa takut yang teramat sangat. Dengan perlahan Andin memperhatikan sekitarnya. Sepi. Orang tua Andin sedang mengantarkan Didi, adik Andin yang hari ini wisuda. Dan mereka semua belum pulang hingga detik ini.

Sungguh Andin jadi ketakutan, jangan – jangan orang itu mau merampok rumahnya. Dengan perlahan ia keluar kamar, lalu mengecek semua pintu dan jendela rumahnya.Sudah aman.

Akhirnya ia kembali ke kamarnya dengan raut wajah yang resah. Ia lihat burung merpati masih saja hinggap di ambang jendela kamarnya. Nampaknya hewan itu sedang asyik menikmati hangatnya matahari yang sudah tenggelam setengahnya. Namun nampaknya . . . ada pesan baru yang belum dibaca Andin. Dengan cepat Andin mengambil kertas itu lalu ia baca tulisan yang tertera disana,

“tidak usah repot – repot mendatangiku. Biar aku saja yang mendatangimu”

Andin semakin shock. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Sebenarnya siapakah orang misterius ini? Apa yang dia inginkan? Dengan cepat Andin mengambil penanya dan segera menulis balasannya,

“kapan kau akan datang?”

Jari jemari Andin bergetar. Ia ketakutan akan didatangi kawanan perampok dan merampok harta benda orang tuanya.

Sudah lebih dari 5 menit burung merpati itu tak kunjung datang. Andin semakin resah. Jangan – jangan orang itu sedang menuju rumahnya.

“Merpati itu kejam sekali”

Andin sangat kaget. Ia langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berbicara barusan.
Tubuh Andin tiba – tiba mematung, jantungnya serasa berhenti berdetak, nafasnya tertahan, matanya terbelalak . . . Andre ada di belakangnya . . .

“Barusan sudah kubalas ‘sekarang’ eh ternyata burung itu mencari makan dulu. Sungguh burung sialan”
Andin tak mampu berbicara sama sekali. Pena yang sedari tadi menempel di tangan kanannya mendadak lepas dan terjatuh. Nafasnya pun jadi sangat tidak beraturan. Andre hanya memasang wajah bingung melihat tingkah Andin yang mematung itu.

“Kau kenapa?”, tukas Andre sambil tersenyum.

“A . . . a . . . aku . . . k . . .kau . . . aku . . .”, Andin jadi tak mampu berbicara satu patah katapun.

Andre hanya diam, tapi terus mempertahankan senyumannya. Andin menarik nafas panjang,

“Jadi . . . kau masih hidup?”, tanya Andin.

“Tentu tidak, aku sudah mati” jawab Andre. Andin termenung,

“Tolong katakan kalau aku sedang menjelajahi alam mimpi . . .”, ujar Andin sembari memejamkan matanya.

“Tidak, kau tidak bermimpi. Ini aku.”

“Lantas mengapa kau bisa hidup lagi?” tanya Andin. Andre menghirup nafas dalam – dalam lalu kembali berbicara,

“Sekarang aku hanya halusinasimu belaka”

“eh?”, Andin tiba – tiba menatap dalam dalam mata Andre.

“Sulit untuk dijelaskan. Kehidupan setelah kematian sangatlah rumit”, ucap Andre. Andin malah semakin terdiam dan terus menatap mata Andre dalam dalam.

“Ah sudahlah, aku hanya ingin menyapamu saja. Apa kau sudah makan?”, tanya Andre. Lamunan Andin tiba – tiba buyar dan langsung berkata,

“Belum”

“Yasudah, nanti setelah kepergianku kau makan ya, supaya tidak sakit.”, ujar Andre singkat. Andin menatap ke luar jendela, matahari tinggal seperempatnya lagi. Berarti beberapa menit lagi ia akan menggantungkan dirinya demi Andre.

“Memangnya, kapan kau akan pergi?”, tanya Andin. Matanya masih saja fokus menikmati menit – menit terakhirnya di dunia ini. Terlihat bayangan merpati sedang terbang menuju jendela kamarnya. Andin memperhatikan merpati itu dengan seksama.

Tak lama burung itu hinggap juga di ambang jendela kamar. Andin membuka surat itu sambil tersenyum. Ia sudah tahu, isinya pasti : ‘sekarang’

Namun . . . tunggu . . . Andin menengok ke belakang. Andre sudah tidak ada dibelakangnya lagi. Namun kali ini ia hanya tersenyum, bahkan tertawa sendiri,

“Dari dulu, sejak kau masih ada di sampingku hingga kini kita berbeda alam . . . kau benar – benar hobi menjahiliku ya . . . dasar nakal”, ujar Andin. Merpati itu hanya bisa menatap keanehan Andin.

Matahari sudah terbenam sepenuhnya. Buku harian yang ia tinggalkan di mejanya sudah tidak tersentuh cahaya matahari lagi. Andin masih saja tersenyum. Inilah senyuman terakhirnya di dunia ini. Ia sudah bersiap untuk pergi selama – lamanya.

Andin beranjak keluar kamar. Lalu ke ruang tengah untuk melihat foto keluarganya. Mungkin ia akan rindu pada seluruh keluarganya di alam akhirat nanti.

Setelah agak lama menatap foto keluarga, Andin pun kembali ke kamarnya dengan pendiriannya untuk segera bunuh diri. Namun . . . talinya hilang! Merpati itu pun sudah tidak ada di ambang jendela kamarnya. Andin hanya bisa termenung. Diam. Suasana sekitar mulai diiringi alunan harmoni jangkrik. Andin menatap ke luar. Sudah gelap.

Andin kembali berfikir, untuk apa bunuh diri? Sedangkan keluarganya dan Andre masih mengharapkannya untuk hidup, Orang tuanya masih ingin menggendong cucu, dan Tuhan ingin ia berusaha untuk menjadi seseorang yang berguna . . .

Andin membaringkan tubuhnya di kasur. Sejenak ia mencoba untuk rileks. Tiba – tiba ia berubah pikiran. Ia ingin hidup. Ia ingin berpetualang. Dan ia yakin jodohnya masih ada di dunia ini. Ah, sudahlah . . . sekarang saatnya makan malam . . .
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...