March 23, 2017

Gadis Berkaca Mata Hitam



Oleh: Rofikotul

Aku masih memperhatikannya. Si gadis berkaca mata hitam, dan ini yang ketiga kalinya dalam seminggu. Gadis itu selalu menggenggam setangkai mawar hitam penuh duri, dia tidak memperdulikan rasa sakit saat duri-duri itu menusuk telapak tangannya. Disamping juga terdapat beberapa lembar kertas yang berserakan. Aku tidak tau kertas apa itu.

March 20, 2017

PERTEMUAN



Oleh: Tina Wiarsih

/1990/
Aku mengambil sebuah benda berukuran 25cm x 17 cm. Ku buka setiap lembarnya, mengeja aksara demi aksara hingga membentuk satu kata yang bermakna. Satu kata, satu kalimat sampai satu paragrap ku cermati. Setiap lembarnya benar-benar mengalir berjuta makna dalam ratusan juta aksara. 

Saat akhir pekan, sangat berguna untuk membangun topik obrolan yang menarik dengannya. Tak jarang dia tersenyum saat kuceritakan hal-hal menarik yang aku temui dalam benda tersebut. Ah aku menyukai ini, aku menyukai senyumnya, aku menyukai matanya yang bulat saat mendengar semua ceritaku. 

“Aku akan kerumah, mengembalikan buku yang kupinjam, tepat pukul 7. Sampai jumpa nanti.” Dan selanjutnya, benda itu menjadi sebuah alasan untuk kami bertemu.

March 19, 2017

March 18, 2017

Sebuah Buku Untukmu



Oleh: Nasrul

Belakangan ini, setelah kita menjalin hubungan, terkuak sebuah pengakuan. Kamu adalah pecinta buku. Orang yang rela menghabiskan waktu untuk melahap setiap kata yang ada. Yang mau duduk berlama-lama untuk menikmati kalimat yang memikat. Kamu suka pada salah satu penulis, hingga mengkoleksi buku karyanya. Dengan senyum yang mengembang, kamu menunjukan koleksi bukumu. Tinggal beberapa buku lagi maka koleksimu komplit, ucapmu. Kamu pun memberitahu kalau satu bukumu rusak. Setidaknya itu kode untukku.

March 17, 2017

March 16, 2017

Kafe Kopi BEST WRITER [Februari 2017]



Pengumuman Kafe Kopi BEST WRITER Februari 2017

Bulan februari menjadi salah satu bulan yang sibuk bagi redaksi Kafe Kopi. Kami patut mengapresiasi orang-orang yang aktif berkontribusi menulis cerita untuk diposting di blog, wattpad, dan sosial media kafe kopi. Tanpa kalian, Kafe Kopi mungkin hanya sekedar raga tanpa jiwa.

March 15, 2017

Guratan Setelah Titik



Oleh: Kartini

Seperti menyaksikan ombak yang perlahan menepi
Kini kamu berdiri di tepi pantai yang hening
Tak ada lagi kata, juga tanya dan masalah
Semua sudah bertemu dengan jawaban dan solusinya

March 14, 2017

GOODBYE



Oleh: Raysha

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berdiri di sini. Memperhatikan kamarku yang berantakan. Selimut yang ada di lantai, pecahan vas bunga yang berserakan, buku-buku yang berantakan di meja.

Mataku tertuju pada pintu kamar yang dibuka. Laki-laki dengan kemeja biru tua masuk. Matanya sembab, tangan kanannya menggenggam mawar merah yang sudah layu. 

Aku tidak tahu siapa dia. 

Ia berdiri di depan meja belajarku. Mengambil kacamata full frame milikku yang jatuh ke lantai, lalu meletakkannya di atas buku agendaku yang terbuka. Aku yakin dia sedang membaca halaman yang terbuka itu. 

Air matanya menggenang. Mawar merah yang layu itu diletakkan persis di samping kacamataku. Ia menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Air matanya jatuh. Entah kenapa, melihat laki-laki itu dadaku jadi sesak. 

Pandangannya berhenti padaku. Matanya seakan berbicara. Sedih, menyesal, sakit, semuanya terlihat jelas dimata cokelat itu.

Aku menghampirinya. Ia terjatuh ke lantai, menangis dalam diam. 

"Kenapa kamu pergi secepat ini, Cha?" 

Aku tersenyum. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku masih berdiri diruangan ini, melihat semua orang yang berduka masuk dan menangis.

Kali ini, hatiku sakit melihatnya menangis. Aku bisa merasakan kalau ia begitu kehilangan. Laki-laki ini ... menangisiku. 

"Cha, maaf." 

Dia melihatku. Dia bisa melihatku. 

Aku memperhatikan tanganku yang mulai menghilang. Sudah waktunya.

Aku pergi.


March 13, 2017

Gadis Lugu



Oleh: Pradiayu

Siapa lagi yang ingin berteman denganku?
Siapa lagi yang ingin bermain denganku?
Siapa lagi yang ingin bercanda tawa denganku?

March 7, 2017

Putri Kecil

Karya: Arlita Dela

*

Hujan kian membasahi bumi. Pagi ini aku bersiap untuk pergi bekerja. Sayang, aku kebingungan. Bagaimana bisa aku mencapai kantor sebelum pukul 7.00 tepat? Sementara hujan mengurungkan niatku untuk keluar rumah.

"Bu, hujan. Gimana aku pergi?" Keluhku pada ibu yang sibuk menyiapkan makanan seperti biasanya.

Ibu segera meninggalkanku sendiri, membangunkan ayahku yang masih tertidur lelap di kamar. Awalnya aku tak menyadari hal itu, namun saat ayah keluar kamar aku baru menyadarinya.

"Kamu diantar Ayah, ya?"

Aku merasa sangat merepotkan. Saat usiaku beranjak dewasa, apa aku harus terus bergantung padanya? Aku tak bisa menolak. Jikalau menolak ayah pasti akan tersinggung. Jika aku pergi bersamanya, ia pasti kehujanan bersamaku.

Aku menunggu beberapa saat, tiba-tiba ayah menghampiriku. "Ayo!" Ia sudah dibalut jas hujan biru miliknya. Aku tertegun. Sungguh besar pengorbanannya demi aku.

Kamipun pergi menantang hujan. Hujan disertai angin terus membasahi kami. Aku tak enak hati pada ayahku. Aku yang terlindung dari hujan, dan ia yang harus kembali pulang dan pergi ke kantornya lagi. Hujan, cipratan air disepanjang jalan membasahi celananya.


Sesampai di sana aku segera pamit dan mencium tangannya. "Semangat ya, Sayang," ayah lekas mencium keningku. Aku tau, aku masih dianggap putri kecilnya. Sungguh besar perjuangan ayahku mendidik dan menjagaku hingga aku besar seperti ini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...